Pengantar
Dasa Dharma adalah kode moral Pramuka. Ia bukan sekadar 10 poin hafalan aturan organisasi, melainkan penjabaran nyata dari perintah berbuat kebajikan. Isinya sejalan dengan nilai Islam, yakni akhlakul karimah dan maqashid syariah. Kalau dijalankan dengan niat ibadah, maka setiap kegiatan Pramuka bernilai pahala. Sebagai seorang anggota Pramuka Muslim, selain dituntut cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki iman, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama. Berikut refleksinya dalam perspektif Islam serta penerapannya di Gugus Depan (Gudep).
Pertama, Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Takwa berarti Seorang Pramuka harus menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. menjadikan Tuhan yang Tauhid sebagai pedoman dan landasan utama hidupnya dan semua Dasa Dharma. Takwa menjadi dasar seluruh perilaku manusia.
Dasar ketakwaannya itu dengan indah ditulis Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya” (QS. Ali Imran 3: 102), “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada” (HR. Tirmidzi: 1987). Dan “Takwa itu di sini” Rasul menunjuk ke dadanya tiga kali (HR. Muslim: 2564).
Takwa itu urusannya hati, dan kelihatan di amal lahirnya. Tanpa ketakwaan, kecerdasan dan keterampilan tidak akan membawa kebaikan. Pramuka mengajarkan kedisiplinan ibadah, kejujuran, dan tanggungjawab sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Bagaimana penerapan nilai ketakwaan di Gugus Depan (Gudep)? Mengawali dan mengakhiri setiap kegiatan/latihan dengan doa serta menjaga akhlak dalam latihan; Adzan saat kemah, Shalat berjamaah saat kemah, dan muhasabah malam api unggun.
Kedua, Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia
Manusia, khafilah di bumi yang diberi amanah Allah menjaga dan melestarikan alam; berbuat baik kepada sesama dan mengasihi sesama tanpa membedakan suku atau agama. Allah memberi tugas kepada kita untuk: “menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al. Anbiya 21: 107), dan melarang untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi” (QS, Al-A’raf 7: 56), dan larangan merusak tatanan alam (QS. Ar-Rum 30: 41), menjaga nyawa manusia (QS. Al-Maidah 5: 32), dan berbuat baik kepada sesama. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah 2: 195).
Perintah selanjutnya supaya, “Sayangilah siapa saja yang di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangimu” (HR. Tirmidzi: 1924). Tanda orang beriman mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, “Tidak beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari: 13). Pramuka Muslim dididik mencintai lingkungan dan peduli kepada orang lain, dan kepedulian sosial.
Penerapannya, berupa bakti sosial, bakti lingkungan, penanaman pohon, bersih pantai, menjaga kebersihan tempat latihan/perkemahan, mempraktikkan operasi semut, kerja sama dalam tim, tidak vandalisme saat hiking, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) teman.
Kettiga, Patriot yang Sopan dan Ksatria
Patriot berarti cinta tanah air, yang diwujudkan dengan cinta tanah air, menjaga kehormatan bangsa, dan memiliki akhlak mulia. Seorang kesatria berani memegang kebenaran dengan akhlak sopan sesuai teladan Nabi Muhammad SAW sebagai “rahmat bagi seluruh alam. Ksatria berarti berani, jujur, dan bertanggung jawab.
Al-Qur’an mengajarkan “Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah 2: 195), dan berlaku adil dalam kebajikan, ““Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl 16: 90). Dalam bahasa lain, kemuliaan seseorang di sisi Allah didasarkan pada ketakwaan dan akhlak (Bdk. QS. Al-Hujurat 49: 13). Seorang Pramuka harus berani membela kebenaran namun tetap santun.
Hal yang dilakukan: mengikuti upacara bendera khidmat, hormat bendera, menghormati pembina dan teman, berani mengakui kesalahan saat langgar aturan (Dasa Dharma), menjunjung tinggi aturan dan sportivitas, dan membela nama baik Gudep dengan prestasi.
Keempat, Patuh dan Suka Bermusyawarah
Kepatuhan kepada pemimpin yang berjalan di jalan kebenaran dan penyelesaian masalah melalui jalan damai melalui musyawarah adalah ciri orang beriman. Hal ini dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat. “Dengarlah dan taatlah, sekalipun yang memimpinmu seorang budak Habasyi” (HR. Bukhari: 6609). Kita sudah semestinya taat pada pemimpin dalam kebaikan selama tidak untuk maksiat.
Kita diajak bermusyawarah dalam segala urusan dan segala urusan diputuskan dalam musyawarah. “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Ali Imran 3: 159). “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka” (QS. Asy-Syura 42: 38). Musyawarah melatih sikap demokratis, menghargai pendapat, dan menghindari egoisme.
Bentuk kepatuhan dalam bermusyawarah dengan cara: melaksanakan rapat dewan kerja panegak sebelum membuat program, menghargai pendapat anggota lain, mendengar berbagai masukan, taat pada keputusan bersama walau beda pendapat, taat pada keputusan pimpinan Sangga dan pembina, dan mengevaluasi kegiatan bersama.
Kelima, Rela Menolong dan Tabah
Menolong orang lain adalah amal mulia dan bentuk kesalehan sosial, sedangkan tabah berarti sabar menghadapi ujian. Menolong itu investasi, sementara ketabahan adalah kunci keberhasilan. Tabah adalah ciri orang bertakwa, orang beriman, sebagaimana sifat Nabi.
Dasar tindakan menolong dan tabah diuraikan demikian, “Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah 5: 2). Dan, sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar (QS. Al-Baqarah 2: 153). “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya” (HR. Muslim: 2699). Dan pahalanya, “Barangsiapa memudahkan orang susah, Allah mudahkan urusannya di dunia akhirat” (HR. Muslim).
Hal yang mesti dibuat seorang Pramuka Muslim agar menumbuhkan kepedulian sosial dan ketangguhan mentalnya, adalah membantu teman dalam kegiatan lapangan, tim P3K sigap di setiap kegiatan teristimewa saat kemah, membantu regu lain pasang tenda walau capek, tabah saat hujan di kemah, pantang menyerah menghadapi tantangan.
Keenam, Rajin, Terampil, dan Gembira
Islam sangat menghargai umat yang produktif dan bekerja keras serta berketerampilan. Kegembiraan hati muncul dari kepuasan beramal dan syukur kepada Allah. “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu” (QS. At-Taubah 9: 105). “Allah mencintai orang yang jika mengerjakan sesuatu, ia kerjakan dengan itqan/profesional” (HR. Baihaqi). “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang di antara kalian bekerja dengan tekun” (HR. Baihagi). Yang bekerja amanah itu yang dengan gembira dan senyum, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi).
Pramuka membentuk generasi yang kreatif, aktif, dan optimis dalam menjalani kehidupan. Hal ini dapat diterapkan dengan menjalankan kegiatan kepramukaan dengan antusias, menguasai aneka keterampilan kepramukaan, seperti latihan membuat tali-temali pioneering/sandi-sandi, dan juga membuat yel-yel semangat kreatif dengan gembira sampai mahir, berkemah dengan riang.
Ketujuh, Hemat, Cermat, dan Bersahaja
Hidup sederhana dan berhemat adalah bagian dari keimanan, sedangkan pemborosan adalah perbuatan setan. “Jangan boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah sahabat setan” (QS. Al-Isra 17: 26-27). “Kesederhanaan itu bagian dari iman” (HR. Abu Dawud). Pramuka mendidik anggotanya hidup sederhana dan bijak menggunkan harta.
Kita dapat mempraktikkannya dengan: membawa tumbler saat kemah, menggunakan berbagai perlengkapan dan fasilitas untuk kegiatan pramuka secara bertanggungjawab, tidak berlebihan saat kegiatan, memanfaatkan sumber daya alam seperlunya, seperti: berpakaian sederhana namun rapi, menggunakan bahan bekas saat latihan dan untuk hasta karya, logistik kemah direncanakan cermat dan tidak berlebihan, masak secukupnya, tidak foya-foya saat api unggun.
Kedelapan, Disiplin, Berani, dan Setia
Disiplin adalah bagian dari akhlak bentuk ketaatan kepada aturan Allah dan Negara. Keberanian diperlukan untuk membela kebenaran meski harus sendirian, dan kesetiaan penting dalam amanah. Orang yang disiplin setia dan menghargai waktu karena waktu adalah modal hidup.
Al-Qur’an merekomendasikannya dalam bentuk beriman dan beramal saleh (QS. Al-‘Ashr 103: 1-3), memenuhi janji sebab tepati janji tanda orang beriman, “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra 17: 34), “Hai orang beriman, penuhilah janji-janji” (QS. Al-Maidah 5: 1), “Tepat janji itu tanda orang beriman” (HR. Ahmad: 22734). Dan sebagai lawannya adalah orang yang munafik. “Tanda orang munafik ada tiga: bila bicara dusta, bila berjanji ingkar, bila dipercaya khianat” (HR. Bukhari: 33).
Pramuka melatih ketegasan, ketepatan waktu, dan keberanian menghadapi tantangan hidup. Penerapannya, hadir apel tepat waktu, datang latihan tepat waktu, menaati jadwal latihan yang disepakati, berani lapor kalau melihat teman langgar aturan, berani melaksanakan tugas sulit demi keberhasilan kelompok, setia pada organisasi Pramuka terutama pada Dasa Dharma.
Keembilan, Bertanggung Jawab dan Dapat Dipercaya
Kepercayaan adalah amanah besar dari Allah, amnah ciri utama orang beriman. “Janganlah kamu mengkhianati amanah padahal kamu mengetahuinya” (QS. Al-Anfal 8: 27). Lawannya, “Tidak beriman orang yang tidak amanah” (HR. Ahmad: 12570). Prinsip kejujuran dan tanggung jawab adalah ciri kita. Setiap individu adalah pemimpin yang akan ditanya tentang kepemimpinannya. Sebab, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak” (QS. An-Nisa 4: 58). “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari: 2554 dan 7138).
Kepercayaan adalah kehormatan. Sekali berbohong, kepercayaan sulit didapat kembali. Kita menjaga butir kesembilan Dasa Dharma ini dengan menjalankan tugas regu/tim sangga dengan baik, berani pegang uang kas dan mencatatnya secara jujur, menjaga dan memelihara peralatan Sangga/Gudep, menggantikan barang yang dirusak, menjaga keselamatan teman, menepati janji.
Sepuluh, Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan
Kesucian meliputi kebersihan fisik dan hati. Menjaga hati, lisan, dan tindakan dari keburukan. Niat yang tulus, perkataan yang benar, dan perbuatan yang mulia, adalah puncak akhlak islami. Kita mesti menjaga kebersihan lahir batin. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams 91: 9). Dan “Kesucian itu separuh dari iman” (HR. Muslim: 223). Kesucian hati melahirkan perilaku baik. Pramuka harus menjaga ucapan, menjauhi fitnah, dan mengendalikann diri.
Penerapan butir Dharma kesepuluh ini dengan cara menjaga etika dan kehormatan Pramuka. Dalam hal suci pikiran: tidak iri pada nilai teman, pikiran positif saat kalah lomba, jaga pandangan dari pornografi. Hal suci perkataan: menghindari ucapan jorok saat kemah, tidak berkata kasar, tidak ghibah di kantin. Dan suci dalam perbuatan: menghindari konflik, tidak curang saat lomba/games, tidak menyebar hoax, tidak berkelahi, tidak nyontek, menjaga pergaulan, tidak pacaran saat kemah, menjaga kehormatan seragam.
Penutup
Menjalankan Dasa Dharma berarti sedang menjalankan sebagian ajaran Islam. Pramuka Muslim sejati adalah yang menjalankaan tarbiyah sesuai Dasa Dharma sebagai upaya untuk membentuk karakter diri dan kepribadian kemanusiaan yang baik, berakhlak mulia, serta menjadi anggota masyarakat yang baik yang siap menghadapi perubahan zaman.
Dengan mengamalkan Dasa Dharma di sekolah dan gugus depan, seorang Pramuka dapat menjadi teladan kebaikan dan berkah bagi lingkungan sekitarnya. Ia menjadi manusia berkarakter yang tumbuh menjadi versi terbaiknya, lahir dan batin. Sebab, Dasa Dharma adalah jalan menuju kesempurnaan beriman untuk kesejahteraan di bumi dan kebahagiaan di akhirat. (*)


