Filosofi Ganjil Patrisius Leu dalam “Dipanggil untuk Beriman”

0
298
Oleh E. Nong Yonson, Penulis buku "Dosa Sang Penyair", Presiden KSK, Fasilitator Yaspensi.

Refleksi Iman Seorang Guru, filososinya sengaja “diganjilkan” oleh Patrisius Leu dalam buku ke empat “Dipanggil untuk Beriman”. Buku ini diterbitkan oleh percetakan Gerbang Media (Yogyakarta) bekerja sama dengan Yaspensi (Kupang) pada tahun 2021 dengan jumlah isi halamannya 89. Secara visual tipografi, buku ini merupakan karya campur sari. Terdapat sub-sub bagian  yang terbagi dalam 15 judul berbeda.

Berdasarkan genre tulisan, dari 15 judul itu, terklasifikasi menjadi 7, antara lain, Renungan 3, Artikel 5, Deskripsi-Teologis 3, Romansa-Historis 1, Puisi 1, Madah (Puji-Pujian) 1, Cerpen 1. Dari 7 genre dan 15 judul dalam buku itu, topik yang menyebut jelas kata “panggil” ada 5 dan “beriman” hanya ada 1.

Patrisius Leu jelas memperkenalkan fisosifi ganjil dalam karya kontemplasi ini. Dalam KBBI, kontemplasi diartikan secara nominal dan verbal. Secara nominal, kontemplasi berarti renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Secara verbal, kontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan penuh perhatian. Dalam telaah ini, saya menejermahkan kontemplasi secara verbal.

Setelah berkali-kali berperang gerilia dengan isi buku yang mengupas realitas dari sudut pandang religiusitas ini, saya menemukan kental-manis filosofi  ganjil di dalamnya. Mulai dari tahun terbit 2021, jumlah halaman 89, jumlah judul 15, genre tulisan 7, topik yang jelas menyebut kata “panggil” 5, dan “beriman” 1. Semuanya sengaja diganjilkan. Penulis seperti mengajak pembaca berkelana bersama kontemplasinya.

Pada telaah ini, titik fokus utama saya adalah mendekripsi-narasikan filosofi ganjil pada bagian “panggil” dan “beriman” dalam bingkai refleksi seorang guru. Kedua kata itu, adalah kekuatan terdalam buku ini secara totalitas.

Panggil dan beriman terdapat pada lima judul (1) Keluarga Dipanggil Beriman Lewat Anak; (2) Kaum Muda dan Kesediaan Menjawabi Panggilan-Nya; (3) Pemimpin Menjawab Panggilan Allah; (4) Aku Percaya akan Panggilan Allah; dan (5) Dipanggil Berkatekese di Tengah Umat.  Secara morfologis, kata panggil diramu dalam tiga kategori (a) dipanggil (bentuk pasif); (b) panggilan-Nya (pronomina-kepemilikan); dan (c) panggilan (nomina). Uniknya, konsistensi filosofi ganjil belum berubah rasa kental-manisnya. Saya mendeskripsi-narasikan perpaduan panggil dan beriman pada sub-bab berikut ini.

Dipanggil Beriman

Bentuk pasif /di-panggil/ beriman merupakan wujud pelesapan subjek dalam konsep kebahasaan, khususnya pada bidang sintaksis. Pelesapan itu merujuk pada pertanyaan “Siapa yang dipanggil untuk beriman?” Penulis, lagi-lagi sengaja tidak melengkapi subjek dengan memberi kekebebasan pada pembaca untuk melengkapinya secara arbriter (suka-suka pembaca). Dalam kaitannya dengan melengkapi subjek, pembaca diberikan dua pilihan. Apakah subjek yang dilengkapi pada klausa itu, berperan sebagai sasaran atau target. Pada aspek makna, sasaran ‘seuatu yang menjadi tujuan’ sedangkan target ‘yang telah ditetapkan untuk dicapai’. Kecerdasan semantis penulis terukur betul pada pelesapan kluasa itu.

Secara terang-benderang, penulis memanggil pembaca sebagai sasaran dan pada saat yang bersamaan memilih pembaca sebagai target. Seperti, merumuskan visi dengan misi yang harmonis sistematis. Pelengkap klausa pasif “dipanggil beriman” tidak lain adalah pembaca yang dilesapakan penulis. Pada bagian ini, pembaca diberi ruang permenungan untuk menjaring setiap tanya realitas menemukan jawaban religuisitas.            

Panggilan-Nya (Beriman)

Pronomina kepemilikan –Nya yang melekat pada nomina panggilan adalah jawaban atas pertanyaan “Siapa yang memanggil?”. Jika pada kluasa pasif “dipanggil beriman” yang dilesapkan adalah pembaca, maka pada frasa “panggilan-Nya” yang menjadi agen (pelaku) adalah Sang Pencipta yang dalam buku, penulis menyebut dengan nama “Allah”.

Selain penulis menggambarkan bahwa pemanggil adalah Allah, ia juga menjelaskan proses pemanggilan-Nya. Penulis menempatkan Allah sebagai “penjala” untuk menjaring setiap pembaca yang menyadari bahwa dirinya tidak sekadar sasaran melainkan target pada panggilan itu. Muncul pertanyaan baru, yaitu “Mengapa Allah bukan Tuhan?” Pertanyaan ini, seperti menggairahkan saya untuk tidak sebatas mencumbui isi dalam buku ini tetapi lebih daripada itu menyetubuhinya.

Saya menemukan harum aroma hirarki teologis yang tersembunyi pada sebutan Allah. Allah selalu ditempatkan dengan kata Bapa “Bapa Allah”. Sedangkan Tuhan selalu disejajarkan dengan Yesus “Tuhan Yesus”. Penulis sedang menjelaskan hirarki teologis. Sebab ada kelaziman, umat kristiani mengucapkan “Tuhan Allah” tetapi tidak mengucapkan “Bapa Yesus”. Dalam buku 89 halaman itu, penulis konsisten dengan kata “Allah”. Artinya, pembaca dipanggil oleh yang Maha Tinggi secara hirarki teologis.                

Panggilan (Beriman)

Secara definitif, kata panggilan berarti imbauan, ajakan, atau undangan. Ke tiga arti itu, tidak berbeda secara maknawi. Imbauan, ajakan, undangan adalah cara Allah membuktikan cinta kasihnya pada umat-Nya. Pertanyaan reflektifnya adalah “Apa yang aku targetkan setelah dipilih sebagai sasaran pada panggilan ini?” Iman seperti apa yang aku implementasikan pada pergulatan kehidupan?” Siapa aku, sehingga Allah memanggilku?” Jawaban atas tiga pertanyaan itu juga sengaja tidak dilengkapi penulis dalam bukunya. Namun, pada bagian kover buku itu jawaban sesungguhnya ada “Allah memanggilmu untuk beriman dalam refleksi. Buku ini adalah sebuah catatan refleksi-introspeksi.

Filosofi ganjil itu pun hanya bisa digenapi dengan cara refleksi-introspeksi paling dalam. Saya mendeskripsi-narasikan begini, “Yang menggenapi firman adalah iman, yang melengkapi iman adalah firman. Dengan firman, Anda beriman. Dengan beriman, Anda adalah firman. Jadi sesungguhnya, firman itu adalah Anda yang beriman. Refleksikanlah! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here