Suara Dengarkanlah Aku (Merenungkan Masa Adven – Luk. 3:1-6; Mat. 13:1-12)

0
166
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis SMKN 7 Kupang, Anggota Komunitas Secangkir Kopi (KSK) Kupang.

Andai kutahu/ kapan tiba ajalku/ Ku kan memohon/ Tuhan jangan Kau ambil nyawaku

Aku takut akan semua dosa-dosaku/ Aku takut dosa yang terus membayangiku…

Demikian penggalan syair indah dari Pasha, vokalis Band Ungu. Lirik lagu yang sama sebenarnya sudah lebih dahulu dilagukan Pemazmur Daud dalam meditasi bernuansa ungu, “Ya Tuhan, beritahukanlah ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui, betapa fananya aku” (Mzm. 39:5).

Dua syair adventus tadi, mengisahkan perjuangan manusia yang menyadari kekecilannya di hadapan Tuhan karena dosanya, berharap di saat-saat terakhir hidupnya, dapat mengisinya dengan perbuatan baik sebelum kedatangan Tuhan, Sang Khalik. Dalam Adventus, manusia fana mengharapkan maranatha untuk keselamatan dan kesempurnaan hidup di dalam Allah.

Bagaimana supaya bisa produktif pada masa adven di tengah pandemi Covid dan penerapan PPKM level 3? Orang beriman perlu menjaga intimitasnya dengan Tuhan dalam doa dan keheningan sambil menimba inspirasi dari tiga tokoh adven: Yesaya, Yohanes Pembaptis, dan Bunda Maria. Pada kesempatan ini refleksi adven kita tentang Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis dipanggil sesuai dengan pola panggilan para nabi lainnya dalam perjanjian lama di mana Firman Allah mendatangi mereka yang dipanggil, sebagai nabi. Sejak masa mudanya, ia tinggal di padang gurun dekat daerah Qumran, tempat para rahib pertapa. Dari Qumran, ia bergerak menuju kawasan seberang sungai Yordan yang sudah cukup banyak penghuninya.

Di sungai Yordan inilah Yohanes memperdengarkan suara kenabiannya yang tidak berbeda dengan nabi-nabi lainnya yang sama-sama menyerukan pertobatan, bahwa Allah akan datang kepada umat-Nya yang bertobat. Walau begitu, ada hal yang baru dari Yohanes. Apakah itu? Tuntutannya agar pertobatan itu dimeteraikan dalam upacara pembaptisan. Ia melakukannya dalam rangka persiapan akan penghakiman yang mendekat. Baptisan Yohanes ini bukan baptisan Kristen yang langsung menghapus dosa, melainkan diharapkan akan mendatangkan keselamatan pada yang sungguh bertobat.

Baptisan Yohanes adalah tindakan ritual yang mengungkapkan kesediaan setiap orang Ibrani untuk bergabung dalam gerakan pembaruan. Ini menuntut sikap pertobatan batiniah yang tanpa itu tidak ada pengampunan. Pembaptisan Yohanes sebagai jalan untuk memasukkan orang-orang Ibrani dan orang-orang kafir menuju janji keselamatan universal dari Allah, dan janji ini oleh penginjil Lukas dilihat terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Janji yang sama itu, dilihat orang Kristen bahwa penyelamatan terwujud lewat misteri Paskah.

Bagaimana dapat sampai pada misteri Paskah? Untuk sampai ke sini, Yohanes berperan sebagai pengkotbah, pemberita, bentara, dan sebagai nabi perjanjian lama yang terakhir, yang bertindak sebagai jembatan kepada perjanjian baru dengan mempersiapkan Jalan Tuhan yang mengarah dari Mesir ke Israel dan sekarang melalui Yesus ke kerajaan Mesias. Yohanes hanya sebagai orang yang memberikan pengertian akan penyelamatan Allah yang kelak akan tergenapi.

Ia datang untuk mempersiapkan Jalan Tuhan dan memperkenalkan keselamatan bagi bangsa Israel dan untuk menunjukkan Anak Domba Allah dalam diri Yesus yang telah hadir di dunia. Kehadiran Yohanes Pembaptis memang sangat diharapkan oleh bangsa Yahudi sebab selama lima abad tidak tampil seorang nabi pun di Israel, tetapi lewat nubuat Yesaya, bangsa Yahudi dihibur bahwa kelak akan terdengar “suara” seorang nabi di padang gurun.

Tampillah Yohanes sebagai vox clamantis in deserto, sebagai suara orang yang berseru di padang gurun. Yohanes hanyalah suara yang menyerukan Sang Suara kepada suara-suara di sekitarnya, di sekitar padang gurun hingga bersuara di seberang sungai Yordan.

Ia berseru, “Suara…dengarkanlah aku… Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskan jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun, dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berlika-liku akan diluruskan dan yang berlekak-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan”.

Seruan pertama Yohanes: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan”. Kalau Tuhan mau datang, maka sepantasnya masyarakat bergotong-royong membersihkan dan memperbaiki jalan yang akan dilewati-Nya. Lukas memandang Tuhan yang akan datang itu adalah sama dengan Yesus. Ia akan datang sebagai raja. Maka di hadapan raja, orang hendaknya tidak banyak bicara tetapi banyak mendengar suara sang Raja.

Ungkapan selanjutnya, “Lembah ditimbun, gunung dan bukit diratakan”, mempunyai makna simbolis supaya Israel bertobat meninggalkan pola hidup dunia lama dan membuka diri terhadap cara penilaian baru supaya mempersiapkan diri secara rohani akan penyelamatan Allah.

Gambaran berikutnya, tentang “hidup manusia yang berliku-liku dan berlekuk-lekuk” sebagai vita est via Deus, bahwa hidup kita adalah jalan untuk dilalui Tuhan. Jika jalan hidup manusia berliku-liku dan berlekak-lekuk, maka Tuhan tidak dapat lewat, atau kalau pun lewat dengan susah payah. Kebengkokan hidup tidak menyangkut hal moral saja, melainkan keseluruhan hidup manusia antaralain: pandangannya tentang Allah, relasinya dengan sesama, cara penilaiannya, cara pemanfaatan potensi suara emasnya secara bertanggung jawab, dll.

Bila semua seruan Yohanes sudah diinternalisir, diendapkan dalam kesadaran, maka berbahagialah manusia citra Allah, “karena akan menerima keselamatan yang dibawa oleh Yesus”.

Kalau omong jangan asal dan kalau asalmu jangan diomongkan. Kalau usul jangan asal. Omongan Yohanes tidak asal-asalan. Asalnya pun tidak diomongkan dalam pewartaannya. Yang ia omongkan itu berasal dari Allah dan diasalkan pada Allah. Omongannya bukan omong kosong, ngomong doank. Omongannya bernas, padat berisi. Isi omongan Yohanes adalah: orang harus bertobat, memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan, dan karenanya selamat. Begaimana dengan isi omongan yang kita suarakan?

Yohanes tahu benar latar belakang keluarganya, panggilannya, dan seperti apa kompetensi dirinya. Ia mengenal baik asal-usulnya. Usulannya punya dasar yang jelas, bukan asal usul saja. Ia mengusulkan supaya: orang bergembira mendengarkan Suara sang Suara, menanti sang Suara yang adalah sang Sabda, datang bersuara.

Ia usulkan pula: supaya orang diam menyimpan “pesan suara” dalam hati sebagai miliknya, kemudian memaknainya dan berani memakai suara kita untuk mewartakan Suara dan Sabda Kehidupan kepada suara-suara yang lain. “Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya sebagai manusia sabda. Sebab bagi merekalah misteri Kerajaan Allah dinyatakan”.

Bagaimana dengan orang-orang baik di Rumah Pendidikan? Apakah sudah mencontohi pola hidup dan pewartaan Yohanes dalam hal manajemen sekolah, pelaksanaan PPKM level 3 tatap muka terbatas, dan pengembangan karakter sekolah? Apakah kita asal omong dan omong asal-asalan? Terukurkah kinerja kita sesuai SKP yang ditandatangani pejabat sekolah? Parahnya metode “hati labu” digunakan sebagai senjata untuk menekan moralitas nurani guru yang masih murni di jalan kebenaran hanya demi sebuah “pengakuan palsu” masyarakat akan eksistensi kepemimpinan sekolah sebagai sekolah yang berpihak pada siswa dengan memberi nilai baik sementara isi otak, hati dan karakter siswa kerdil akibat salah tatakelola manejamen pendidikan.

Mesti ada tobat massal di Rumah Pendidikan dari para pendidik bila geliat gerakan literasi sekolah sesat di tangan para pimpinan sekolah dan pelaku literasi; bertobat karena membuat soal AKM untuk penilaian akhir semester asal-asalan, bahkan ada kesepakatan sepihak para tokoh yang digugu dan ditiru ini bahwa semua anak wajib nilai tinggi dan naik kelas walau siswa tidak sekolah online pun offline. Bertobatlah guruku ! Dengarkan seruan Yohanes!

Yohanes Pembaptis tahu betul situasinya. Tekadnya tercetus dalam motto: “Aku harus semakin kecil dan Dia harus semakin besar”. Bukan Yohanes yang dominan, tetapi Kristus sekarang yang menjadi inti dan terutama.

Dalam pengembangan pengaplikasian Restorasi Pendidikan dan berliterasi di sekolah, apakah aku mendengarkan suara Tuhan dalam diri para Pejabat Publik Dinas Pendidikan atau cenderung mendengar suara pembisisk yang sebenarnya pembusuk di sekolah? Ataukah aku hanya mendengarkan suaraku sendiri dan tak membuka dialog partisipatif? Apakah aku berada dalam Tuhan atau bersembunyi di balik jabatan dan golongan kepangkatan sebagai zona nyamanku? Siapa yang dapat pantas kuandalkan? Pemimpin sekolah atau para pejabat sekolah ataukah guru honorer? Apakah kuandalkan iman kepada Allah dan mengikuti proses alamiah karya tangan Allah?  Ataukah aku yang tampil dominan sebagai yang terdepan-semakin di depan dan yang lain semakin ketinggalan dengan mengecilkan ruang gerak kebebasan akademik pengembangan keprofesian berkelanjutan dan menutup ruang moderasi beragama? Mengapa aku andalkan kemegahan dan kekuatan kemanusiaanku yang amat sangat terbatas ini?

Tentang hal ini, para pertapa dan rahib tua di padang gurun memberi nasehat aneh begini: “Hai Singa, Gajah, Harimau, Beruang, dan Rajawali. Dengarkanlah suara Cecak, Nyamuk, Kodok, Cacing, dan Kupu-Kupu yang ada di sekitarmu. Mereka bagian dari kalian juga. Dan kalian, para hamba, budak, pelayan, serta rakyat jelata, dengarkanlah juga tuanmu, rajamu, pemimpinmu, bahkan seorang asing yang sinting di situ”.

Berbahagialah kita yang mendengarkan suara yang benar, suara kebenaran dari kepala sekolah dan para Wakil kepala sekolah; mendengar kejujuran ketua jurusan dan pembina OSIS; mendengar rintihan orangtua dan suara sopan ketua Komite Sekolah, mendengar suara bijak para pemuka agama dan tokoh masyarakat; dan terutama mendengarkan suara hati kita yang masih mengandung kebenaran. Berbahagialah kita yang diberi suara untuk bersuara, bernyanyi dan mengekspresikan suasana hati yang tulus dan lurus hati secara verbal pun aksara bermakna.

Yohanes Pembaptis mungkin dinilai bersuara kasar versi kor modern. Vocalnya itu dipergunakannya secara maksimal untuk menegur, mengajar, mendidik, menyemangati, dan membangun kehidupan manusia sezamannya menjadi lebih manusiawi. Suaranya, dipergunakannya untuk kemuliaan Tuhan, dan untuk membentuk manusia biadab di sekitarnya dan di seberang sungai Yordan menjadi manusia beradab.

Apakah kita juga demikian seperti Yohanes? Bagaimana dengan puteri-puteri ayu dan pangeran-pangeran gagah perkasa OSIS kepunyaan Kristus yang ada di sekolah-sekolah negeri di Kota Kasih-SMART City? Apakah kemegahan suara merdumu masa berlakunya hanya di rumah/kos saat karoke dan pesta saja? Ataukah suaramu itu hanya diperuntukkan bagi kor di temat lain lain yang berbayar gede sementara kor di sekolah sendiri haram hukumnya saat hendak nyanyikan lagu-lagu nasional sebagi penanda awal pelajaran? Ataukah memang suara spesialmu khusus digunakan dalam transaksi di Transmart dan dalam pesta-pesta dan arisan millenial?

Apakah suara kritis ilmiah dan suara kenabian Anda para guru hanya untuk disampaikan kepada angin, batu karang, tanah, pohon mangga dan kelapa, kertas, yang disimpan dalam clausura pagar duri sekolah? Ataukah suaramu sebegitu mahal harus chatting WhatsApp puluhan kali tanpa balasan hingga engkau harus dibayar dengan pulsa Rp. 7000 dari orderan paman Bugis? Mengapa engkau tak pernah mendengarkan celoteh orang lain yang suara mereka tak terdengarkan di permukaan? Mengapa juga tak pernah sumbangkan suara ‘sumbangmu’ sekadar sebagai petugas ibadah pada doa ekumene sekolah setiap minggu ketiga dalam bulan? Mungkinkah engkau malu bersuara merdu dalam ibadat sabda di sekolah dalam kelompok agamamu karena kelompokmu sering dianggap minoritas di sekolah negeri?

Tidak adakah suara-suara cecak dan nyamuk yang berani tampil nyaringkan sopran dan getarkan tenor saat menyanyikan Indonesia Raya pada setiap upacara Senin dalam pekan dan hari kesadaran setiap tanggal 17 dalam bulan? Tidak adakah pengurus OSIS yang bersuara lembut dalam ruang sekretariat tapi karya nyatanya di sekolah bersuara lebih keras dari baja? Jangan-jangan suara merdu literasi kita para guru yang disampaikan kepada peserta didik saat pengajaran dan pembinaan karekter, dan dalam dialog dengan rekan guru adalah palsu-kebohongan, kalimat tak berujung alias tidak mengandung kebenaran?

Setiap kata-kata bisa membangun, bisa pula meruntuhkan. Kata-kata mengikat dan sekaligus membebaskan. Jika perkataan mengajak, tentunya teladan berliterasi hidup lebih menarik. Tapi tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata bro. Begini bro, setiap kata memiliki kekuatan untuk menghidupkan dan membunuh. Bukankah setiap kata yang lahir dari batin dan terucap keluar sebagai suara verbal adalah sebuah doa? Doa yang keluar dari iman membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, “pray making imposible”.

Yohanes menunjukkan keteladanan bahwa bila kita mendengar suara Allah, dan mengasalkan sesuatu pada Allah, maka kata-kata dan tindakan kita akan relevan dengan kehidupan. Iman bertumbuh dari pendengaran. Karena itu sebelum tiba Natal, sebelum ajal menjemput di akhir adventus kehidupan kita di dunia, dan sebelum maranatha: “Bertobatlah dari kesesatan berpikir dan nafsu, dan berilah dirimu dibaptis-diperbaharui Roh Kristus. Percayalah pada Injil, dengarkan suara Tuhan yang mengusir kejahatan”.

Baiklah, bila kita belum bisa membangun Kota Literasi indah di Kupang, jadilah saja arsitek yang membangun mutu iman di sekolah literasi sebelum berliterasi. Tuhan meminta dari kita untuk menimbun, meratakan, dan meluruskan hidup kita yang sekarang, supaya Ia bisa datang dan berlopo dalam hidup kita. Jika Tuhan berseru: “Suara dengarkanlah Aku…” Apa jawabmu? Jangan pinta aku tanyakan pada rumput yang bergoyang… dan batu karang di sekolah. Karena aku dan engkau sama-sama manusia literat yang taat protokol kesehatan dan siap mendengarkan suara kebenaran. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here