Dunstan Maunu Obe: Juara Itu Nilai “Plus”

0
87
Dunstan Maunu Obe

“Juara itu nilai plus, yang terpenting saya sudah berjuang. Artinya, di manapun saya berada, setidaknya saya bisa menunjukkan cara berbahasa yang baik dan benar kepada orang lain di sekitar. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.”

Kegemarannya dalam membaca dan bermain gitar, menjadi bekal berharga bagi Dunstan Maunu Obe dalam meraih beberapa prestasi. Putra kelahiran Dili, 19 Mei 1998 ini, tercatat masuk dalam 30 besar Duta Bahasa NTT tahun 2021. Sebelumnya pada tahun 2020, Dustan – sapaan akrabnya, menjadi Juara Favorit PIMNAS PKM-PSH bersama dua rekannya. Pada bulan September 2021 ia menjadi salah satu peserta kegiatan Flores Writers Festival. Ia juga sering terlibat dalam berbagai antologi penulisan puisi.

“Setelah melihat flyer pendaftaran menjadi Calon Duta Bahasa NTT pada salah satu media sosial dan mengikuti serangkaian tes, seperti wawancara dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), saya kaget, karena nama saya terselip di antara nama-nama rekan lain yang lolos dalam 30 besar Duta Bahasa NTT,” ungkap Dunstan, mengisahkan pengalamannya ketika mengikuti seleksi Duta Bahasa NTT tahun 2021.

Dari sinilah, ia pun turut mengambil bagian dalam pembinaan selama 3 hari lamanya. Selama pembinaan, ia mendapat banyak pembelajaran berharga, terutama bagaimana mengaktifkan kembali refleksi tentang pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Pelajaran tentang ejaan dan materi-materi lain menyangkut linguistik, setidaknya menyadarkan kealpaannya untuk berbahasa Indonesia yang benar.

“Pelajaran berharga lainnya, saya bertemu teman-teman baru yang kreatif dan aktif, yang punya semangat yang sama untuk melaksanakan Trigatra Bangun Bahasa, mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan Bahasa Daerah dan menguasai Bahasa Asing,” tutur mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (Unwira) ini.

Walaupun tidak masuk dalam daftar 10 besar Duta Bahasa NTT tahun 2021, Dunstan mengaku sudah cukup senang bisa berada sampai di titik ini. “Juara itu nilai plus, yang terpenting saya sudah berjuang. Artinya, di manapun saya berada, setidaknya saya bisa menunjukkan cara berbahasa yang baik dan benar kepada orang lain di sekitar. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup,” ujarnya.

Tak berhenti sampai di situ, ia juga menaruh harapan, agar semakin banyak generasi muda yang punya kesadaran untuk terus melakukan trigatra bangun bahasa. Generasi muda merupakan ujung tombak yang punya peranan penting untuk masa depan bangsa, dan bahasa adalah identitas-identitas yang patut untuk terus diupayakan eksistensinya.

“Pesan saya, calon Duta Bahasa selanjutnya di NTT, datanglah dan bergabunglah. Kreativitas akan mengubahmu, ukirlah prestasi, dan jangan menyia-nyiakan masa mudamu,” tandasnya. (Yosi Bataona/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here