Jalan Pagi: Mencari Makanan Enak

0
121
Menu Gado-gado di Warung Bayu. (Foto: Saverinus Suhardin)

Meski tidak begitu sering, tetapi tiap ada kasus penemuan makanan tidak layak di sejumlah warung di Kota Kupang, beritanya selalu heboh dan menjadi bahan diskusi berhari-hari. Kita pasti ikut mengutuk pemilik warung dan berjanji dalam hati: Saya tidak akan makan di sana.

Sependek ingatan saya, dari dua atau tiga kejadian terakhir yang terjadi di Kota Kupang, penemuan belatung pada makanan itu justru terjadi di warung-warung makan yang saya kategorikan elit.

Elit dalam arti, warung itu berada di dekat ruas jalan yang ramai; bangunannya permanen dan bagus karena dihiasi dengan baik demi memikat pelanggan; ada papan nama besar di depan; dan ada pengumuman kalau pajaknya dibebankan pada pembeli.

Seperti yang terjadi paling mutakhir, itu kan lokasi warungnya ada di jalan Mohammad Hatta, Kota Kupang. Itu jalur utama yang sangat strategis, dan warung yang kesandung kasus adanya belatung pada makanan itu merupakan warung yang saya kategorikan sebagai warung elit tadi.

Memang sangat kontradiktif. Warung elit harusnya paling baik dalam segala aspek. Harga makanan di sana sudah pasti lebih tinggi dibanding di tempat yang lebih sederhana, tetapi anehnya, kenapa tidak bisa mempertahankan kualitas makanan yang baik?

Mungkin Anda bertanya, apakah pemerintah tidak punya fungsi pengawasan pada kasus seperti ini? Jangan salah, di warung elit seperti itu pasti ada bagian dindingnya yang berfungsi menunjukkan sertifikat laik sehat dari dinas kesehatan, tetapi nyatanya itu tidak menjamin juga.

Saat pemeriksaan awal untuk syarat administrasi tersebut, pemilik atau pengelola warung bisa saja menerapkan prosedur standar yang ketat; yang menjamin kualitas makanan enak dan sehat. Tetapi, ketika sertifikatnya sudah keluar, kelalaian sangat mungkin terjadi.

Karena itu, untuk urusan makanan ini, kita tidak bisa menyerahkannya pada orang lain. Ini urusan kita. Kita yang menentukan makanan dan minuman apa yang baik buat diri kita sendiri.

“Tmeup on ate, tah on usif,” begitu salah satu prinsip atau ungkapan terkenal orang Timor, “Kerja seperti hamba, makan seperti raja.”

Saya bisa saja keliru menafsirkan makna ungkapan tersebut, tetapi bagi saya, hal itu menunjukkan kalau aktivitas makan dan minum merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan. Kita seperti raja, dan seorang raja tidak makan yang sembarangan. Ia hanya makan makanan yang enak, bersih, dan bergizi.

Kalau kita mengecek informasi kesehatan, sudah pasti apa yang kita makan dan minum itu sangat memengaruhi kesehatan tubuh kita. Sebab itu, ada pula sebuah peringatan yang baik dalam kesehatan: Anda adalah apa yang Anda makan.

Peringatan itu juga mengingatkan tentang pentingnya memperhatikan apa yang kita masukkan ke dalam mulut. Kalau asupannya sedikit dan tidak bergizi, hal itu akan menjadikan Anda sebagai orang kurang nutrisi.

Sebaliknya, ketika memasukkan makanan secara berlebihan (tinggi kalori), Anda akan mengalami obesitas. Ketika yang dimasukkan lebih banyak alkohol dan obat-obatan terlarang, maka perilaku Anda tidak terkendali.

Jadi, nasihat itu memang benar belaka. Apa yang kita makan dan minum, semuanya akan menentukan siapa kita; bentuk tubuh kita; perilaku kita; dan pada akhirnya menentukan kepribadian kita.

***

Saya terbiasa makan makanan yang dimasak sendiri di rumah. Tetapi pada situasi tertentu, ada kalanya saya makan di luar. Makan di warung. Dari sedikit pengalaman makan di warung itulah, saya akhirnya memiliki beberapa warung langganan.

Lalu, dari sedikit daftar warung langganan saya itu, ada satu yang menurut saya paling baik. Ketika sedang makan di luar, saya akan mendatangi warung itu lebih dahulu. Kalau mendapatinya sedang tutup, barulah saya pergi ke warung langganan saya yang lain.

Sekadar informasi, semua warung langganan saya itu jauh dari kriteria warung yang saya sebut “elit” pada bagian sebelumnya. Semuanya warung sederhana. Tempatnya biasa-biasa saja, jauh dari standar instagramable, dan yang lebih penting, harganya sangat bersahabat.

Seperti warung yang sangat sukai di bilangan Penfui. Bila Anda datang dari arah Baumata, letak warung itu kira-kira 500 meter setelah pasar Penfui.

Kalau saya mau titip membeli makan lewat orang, biasanya Kantor SAR menjadi patokannya. Sebelum Kantor SAR, ada sebuah warung kecil dan sederhana di bagian kiri, di depannya berdiri kokoh sebatang pohon yang dalam bahasa Manggarai kami sebut “Haju Kesi”.

Saya harus menjelaskan detail begitu, sebab warung itu memang tidak memasang nama atau mereka dengan ukuran besar di bagian depannya. Itu adalah bangunan tidak permanen. Lantainya dari semen kasar, dan dindingnya sebagian besar ditutup kayu bebak yang diselingi atau dicampur dengan potongan tripleks sisa.

Ruangan tempat makannya juga tidak tidak seberapa. Ada dua meja ukuran sedang, yang masing-masing bisa digunakan empat orang. Kemudian ditambah satu meja panjang di sisi paling kiri ruangan dengan kapasitas untuk 6 orang.

Tidak banyak hiasan di dindingnya. Hanya ada satu papan menu yang terbuat dari tripleks. Itu jelas tulisan tangan menggunakan spidol, dan sudah buram dimakan usia. Ada juga bingkai kaligrafi, bingkai foto keluarga pemilik warung, dan beberapa kalender.

Untuk memberikan kenyamanan bagi pelanggan, warung ini juga menyediakan kipas angin yang dipasang di dinding dari 4 sudut ruangan. Kondisi kipasnya sudah tidak standar lagi, hanya tersisa baling-baling tanpa penutup. Tetapi mungkin dengan kondisi cacat seperti itu, terpaan anginnya terasa lebih kencang.

***

Saya pertama kali datang ke warung ini, kira-kira pada suatu hari tahun 2009. Saya langsung suka karena dua hal utama. Pertama, makanannya memang enak dan disajikan dalam ukuran yang banyak–kita pasti kenyang. Kedua, harganya sangat murah untuk ukuran makanan sekelas itu.

Warung itu memang beda. Kondisi lingkungan fisiknya biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan buruk. Tetapi untuk kualitas makanan, saya kira tidak ada tandingannya.

Warung itu buka tiap hari sekitar Pukul 09.00 Wita. Dari bentuk, bau, dan rasa masakannya – tanpa harus sekolah tinggi-tinggi atau belajar di Master Chef – kita gampang tahu kalau makanan itu baru saja dimasak. Masih hangat. Dan terlihat lebih segar. Bikin lapar.

Pelanggannya banyak sekali, datang dari berbagai profesi; dari kalangan ekonomi lemah lembut seperti saya hingga beberapa kalangan menengah yang sudah tahu kualitas masakan di sana.

Kalau Anda pergi antara Pukul 12.00 – 13.00 Wita, biasanya banyak sekali mobil, paling banyak bemo, terparkir di halamannya yang sempit, sehingga kadang sebagian parkir di seberang jalan di hadapannya.

Gara-gara banyak bemo itulah, ada beberapa kawan yang menyebutnya sebagai warung konjak. Mohon maaf, hal itu tentu saja tidak bermaksud merendahkan profesi mulia para kondektur bemo, saya juga tidak tahu latar belakang yang jelas sampai ada pelabelan seperti itu.

Sebenarnya, kalau kita jeli membaca di papan daftar menu, bagian atasnya sudah jelas tertulis: Warung Bayu. Tetapi, siapa yang bisa membatasi persepsi dan kebebasan berekspresi tiap orang atau para pelanggan warung itu. Yang tertulis boleh saja Bayu, tetapi yang ada dalam benak mereka bisa berbeda.

Warung itu pada awalnya dikelola dua orang saja, sepasang suami-istri. Mereka tentu saja orang Jawa seperti pemilik sebagian besar warung makan yang ada di Kota Kupang. Nama Bayu yang dijadikan merek warung sederhana itu adalah nama anak laki-laki mereka.

Saya tidak tahu pembagian tugas keduanya ketika membeli bahan dan memasak. Tetapi ketika semuanya sudah siap, sang istri bertugas menyiapkan makanan yang dipesan pelanggan hingga terhidang di atas meja. Ia juga bertugas menerima uang dari para pembeli.

Suaminya bertugas memastikan apakah pengunjung ingin memesan minuman khusus atau tidak? Di sana air putih disediakan gratis, tetapi kalau mau jenis yang lain, sang suami itu sangat cekatan menyiapkan berbagai macam minuman berbasis es. Sang suami juga sangat gesit merapikan meja, menyusun piring kotor, sekaligus membersihkan peralatan makan itu di dapur.

Saat ini, ketika saya #JalanPagi ke sana, saya perhatikan anak mereka Bayu dan istrinya mulai ikut membantu. Bayu melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan ayahnya. Sedangkan istrinya, membantu tugas-tugas yang biasa dilakukan sang ibu. Saya menduga, warung ini akan bertahan lebih lama, sebab sudah disiapkan generasi penerusnya. Puji Tuhan.

Sebutan “warung konjak” untuk rumah makan itu, meski agak kurang sopan, saya pikir mungkin dipengaruhi oleh pelanggan setianya sejak awal didirikan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada banyak bemo yang parkir di sana tiap jam makan siang.

Dan ketika saya perhatikan, para sopir dan konjak yang sudah sering ke sana, mereka diperlakukan cukup istimewa oleh pemilik warung.

Kepala ibu atau istri pemilik warung, mereka memanggilnya dengan sebutan “Ma”, kependekan dari mama. Sebaliknya, orang yang dipanggil Ma itu merespons dengan sebutan Nak.

Saya yang mendengar hal itu akhirnya ikutan menyapa seperti itu. Ketika masuk pintu warung, saya akan bilang, “Ma, makan dulu…”

Ketika saya berkata begitu, saya merasa orang yang saya sapa itu seperti mama yang di kampung. Saya seperti sedang masuk ke dapur di rumah sendiri, lalu bermanja minta makan dengan mama yang berada jauh di kampung sana.

Perasaan seperti itu makin bertambah ketika ibu pemilik warung itu meresponsnya dengan lembut sambil tersenyum, “Mau makan apa, Nak?”

“Gado-gado saja, Ma…”

“Pedis ko sonde?”

“Pas-pas saja, Ma…”

Setelah percakapan singkat itu, saya biasanya langsung duduk. Khusus para sopir dan konjak, saya perhatikan mereka lebih leluasa di sana.

Biasanya setelah memesan makanan, ada yang mencomot tempe goreng atau kepala ikan yang digoreng kering. Orang tersebut biasanya makan sambil masuk ke arah belakang, lalu belok ke kiri menuju sebuah tenda yang ada di samping rumah sejajar dengan dapur. Tenda itu berada di bawah pohon rindang, sehingga sangat baik dijadikan tempat makan atau sekadar berleha-leha sejenak untuk melepas lelah.

Oh iya, di warung itu ada beragam menu. Semuanya enak dan saya suka. Tetapi menu favorit saya adalah gado-gado. Khusus menu yang satu ini, saya pikir belum ada tandingannya di warung lain.

Saya lumayan banyak berkeliling di berbagai warung di Kota Kupang, menu gado-gadonya tidak seenak di Warung Bayu. Saya juga pernah tinggal beberapa lama di Jawa, khususnya Surabaya, saya kesulitan menemukan gado-gado buatan Ma Bayu.

Saya sering perhatian, ketika Mama pemilik warung meracik menu gado-gado, hal pertama yang iya siapkan adalah saos kacang tanahnya.

Ia memiliki stok kacang yang sudah ditumbuk halus dalam sebuah toples bening. Ia biasanya menuangkan beberapa sendok ke dalam wadah khusus, kemudian dicampur dengan beberapa jenis perasa, lalu dicampur dengan kuah khusus–seperti kuah soto. Bahan itu dicampurkan merata.

Setelah itu, Ma menyiapkan lontong dan berbagai jenis sayuran. Ditambah telur rebus satu butir utuh. Lalu potongan tahu-tempe. Bagian akhir, sambal kacang yang agak kental tadi dituangkan semuanya, sehingga menutupi semua bahan yang ada di piring. Kondisinya seperti lahar Merapi yang melumer di seluruh badan gunung.

Setelah itu, gado-gado siap disajikan. Biasanya dilengkapi kerupuk yang disiapkan dalam mangkuk yang terpisah. Kondisinya Anda bisa lihat pada foto yang saya sertakan di sini. Gado-gado ukuran besar dan enak itu hanya seharga Rp. 14.000.

Menurut saya, itu harga yang sangat murah untuk makanan seenak itu, dalam ukuran yang cukup banyak pula. Kenyang di perut, lega di dompet.

Gado-gado di tempat lain sangat beda kualitasnya. Pada umumnya mereka pelit. Sambal kacang pada umumnya encer, dan hanya diberi satu-dua cedokan yang hanya membasahi bagian puncaknya. Belum lagi harganya yang tidak masuk akan dengan kualitas makanan yang disajikan.

Berdasarkan pengalaman panjang dari 2009 hingga awal 2022 ini, saya hanya mengakui gado-gado paling enak, paling murah, dan paling membahagiakan ketika memakannya hanya ada di Warung Bayu.

Saya tidak peduli kondisi warungnya tidak instagramable, ruangannya agak sempit, disebut warung murah/konjak, dan sebagainya. Bagi saya, itu adalah warung terbaik.

Sebagai informasi, saking enak dan larisnya, warung biasanya sudah tutup Pukul 14.00 atau 15.00. Kalau Anda pergi jam segitu, itu artinya tunggu hari berikutnya baru bisa merasakan makanan kesukaan kita. Makanya kalau saya sedang kepingin makan gado-gado, saya harus pergi jam 09.00, sebab kalau agak siang sedikit, menu favorit saya itu sudah habis.

Khusus untuk urusan makanan seperti ini, saya akhirnya percaya dengan ungkapan yang menyatakan bahwa, “Jangan menilai buku dari sampul luarnya saja.” Warung Bayu yang kelihatannya sederhana saja dari luar, di dalamnya ada makanan yang enak, bergizi, dan yang lebih penting ramah di kantong.

Oh iya, kalau Anda ingin merasakan gado-gado terenak menurut saya itu, siapkan uang secukupnya, lalu ajak saya #JalanPagi ke sana. Saya tunggu ya… (Saverinus Suhardin/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here