Cerita Anak – Sahabat Penolong

0
114
Ilustrasi. (id.depositphotos.com)

Di sudut ruang kelas, Riki, seorang siswa, masih setia duduk menyendiri. Ketika itu teman-teman sekelasnya sudah pulang sekolah. Riki duduk termenung dan menangis sambil memikirkan masalah yang sedang ia hadapi. Sandro, sang Ketua OSIS lewat dan mendapatinya.

“Hai Riki, kenapa kamu belum bergegas pulang dan kenapa pula kamu menangis. Sebegitu beratkah masalahmu? Jika kamu percaya sama aku, ceritakanlah masalahmu, mungkin aku bisa menolongmu,” tanya Sandro.

“Sandro, tadi aku dipanggil kepala sekolah karena sudah menunggak uang komite selama 6 bulan dan kepala sekolah memberikan waktu seminggu ini untuk melunasi, dan jika tidak maka aku akan di-skorsing. Aku benar-benar bingung dan berat sekali bilang kepada orang tuaku,” ungkap Riki.

“Kamu harus bilang sama orang tuamu karena itu sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk pendidikanmu,” lanjut Sandro.

“Tapi, San. Semenjak Covid-19 ini ayahku dirumahkan oleh pimpinannya. Ia sudah berusaha mencari pekerjaan lain tapi tak kunjung didapatnya sehingga ia stres dan akhirnya jatuh sakit. Melihat kondisi ayahku, tergeraklah hati ibu bekerja sebagai pencuci keliling yang penghasilannya hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan kedua adikku juga masih sekolah. Lebih baik aku berhenti saja daripada aku harus menambah beban orang tuaku,” jelas Riki.

“Riki, kamu jangan punya pikiran untuk berhenti sekolah ya, karena pendidikan itu sangat penting. Kenapa tidak ke bank atau koperasi saja? Kesulitanmu bisa teratasi,” Sandro memberi saran.

“Iya sih… Tapi kami tidak ada jaminan yang bisa diberikan kepada bank maupun koperasi.”

Sandro lalu memikirkan ide lain yang mungkin bisa menolong Riki.

“Coba kamu cari kerjaan yang kira-kira sesuai dengan keadaanmu namun tak membebanimu. Tukang parkir misalnya.”  

“Baiklah San, terima kasih untuk ide cemerlangmu.”

* * *

Keesokan harinya, Riki menuju perpustakaan hendak membaca buku dan di sana ia kembali bertemu dengan Sandro. Ia menyodorkan sebuah buku yang di dalamnya berisi uang Rp 600.000. Ia bermaksud memberikannya kepada Riki supaya ia bisa melunasi tunggakan komite 6 bulan.

“Riki, terimalah uang ini agar kamu segera melunasi tunggakan komite ya…”

“Jangan Sandro, aku tidak enak sama kamu. Lagi pula pasti orang tuamu memberikan kamu uang untuk membayar komite juga, kan?”

“Benar sekali, Riki. Tapi kamu jauh lebih membutuhkan uang ini. Terimalah supaya kamu bisa melunasi tunggakan komite.”

Dengan mata berkaca-kaca Riki menerima uang dari Sandro. Ia tak menyangka sosok Sandro hadir untuk meringankan masalahnya. Riki berjanji akan segera mengembalikan uang Sandro. Baginya, Sandro bukan saja membantu dia secara materi melainkan memberikan masukan yang memotivasi.

Tak lama kemudian, ayah sandro menelponnya, menanyakan alasan Sandro belum membayar uang komite 6 bulan ke depan. Sebelumnya sang ayah telah mengecek ke bendahara sekolah.

“Nak, kamu kemanakan uang yang ayah berikan untuk membayar uang sekolahmu 6 bulan ke depan?” tanya ayah Sandro.

“Maaf ya, Ayah.  Bukannya aku membangkang perintah ayah. Tapi, uang itu sudah aku gunakan untuk membantu temanku, Riki melunasi tunggakan komitenya. Jika ia tidak segera melunasi maka akan di-skorsing. Aku tidak tega hanya menjadi penonton melihat kesulitan melanda temanku,” ungkap Sandro.

“Baiklah, Nak. Sungguh muliamu hatimu. Ayah bangga sama kamu. Kamu mewarisi sikap dermawan dari nenekmu.”

“Ayah tidak marah aku, kan?”

“Tidak, Nak. Lain kali kamu harus lebih dahulu terbuka sama ayah dalam hal apapun.”

Sandro bersyukur memiliki sosok ayah yang baik namun Riki merasa berhutang budi pada Sandro karena menerima bantuannya. Tiba-tiba Riki teringat perkataan Sandro soal pekerjaan.

Setelah pulang sekolah, Riki mencari pekerjaan sampingan yang cocok dengan keadaannya.

“Ya, tukang parkir di toko buku Gramedia tempat yang pas untuk aku mengais rejeki.”

* * *

Seminggu telah berlalu, bulanpun telah berganti. Memasuki minggu ketiga dalam bulan kedua Riki berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang besar melebihi hutangnya.

Pagi itu dengan semangat menggebu-gebu, Riki menemui Sandro di ruang OSIS untuk mengembalikan uangnya. Riki menyodorkan amplop berisi uang Rp 600.000 ke Sandro.

“Sandro, terima kasih untuk kebaikanmu, kamu sudah menolongku. Aku sudah bekerja sesuai saranmu tempo hari. Ini ku kembalikan uangmu.”

Setelah itu Riki menemui bendahara sekolah untuk membayar uang komite. Tidak hanya itu, Riki membeli buku-buku di toko Gramedia untuk menunjang belajarnya, dan sisa uangnya ia berikan kepada ibunya.

Riki menjalani semuanya dengan ikhlas tanpa mengeluh sedikitpun. Pada akhirnya ia dinyatakan naik kelas XII dan berhak menerima beasiswa prestasi karena hasil dicapai sangat memuaskan. (*rf-red-st)

Penulis: Erliana M. N. Tjiputra, S.Pd., Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK Negeri 7 Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here