#JalanPagi: Mengecek Perkembangan Gerakan Literasi di NTT

0
187
Pose bersama panitia, narasumber, dan peserta Workshop Bunda Literasi/Duta Baca Daerah dan Pegiat Literasi Daerah untuk Meningkatkan Kegemaran Membaca di Kalangan Masyarakat.

Literasi, kita tahu, sudah menjadi gerakan se-Indonesia raya beberapa tahun terakhir dan NTT tentu saja ikut terlibat aktif di dalamnya – sampai-sampai semua urusan harian kita dihubungkan dengan istilah ajaib ini: literasi.

Tetapi, kita juga perlu mengecek perkembangannya. Sudah sejauh mana pergerakannya? Apakah sudah banyak yang tahu-mau-mampu melakukannya hari lepas hari? Apakah ia berdampak bagi hidup? Dan masih banyak lagi yang mesti direnungkan kembali.

Maka ketika ada informasi mengenai kegiatan yang menyatukan pegiat literasi di Kota Kupang dan sekitarnya, saya langsung memutuskan #JalanPagi ke sana.

***

Saya mendapat informasi kegiatan bertajuk “Workshop Bunda Literasi/Duta Baca Daerah dan Pegiat Literasi Daerah untuk Meningkatkan Kegemaran Membaca di Kalangan Masyarakat” itu dari grup WA FTBM Kota Kupang.

Iya, saya memang menjadi salah satu pengurusnya, meskipun dengan agak malu-malu saya harus jujur, selama ini kurang aktif dan tidak banyak kontribusi di sana.

Tetapi ketika ada kegiatan bagus dan saya menyampaikan keinginan untuk ikut kepada ketuanya, Pak Agung Hermanus Riwu, puji Tuhan, beliau mengizinkan.

Maka, Selasa kemarin (21/06/2022) saya #JalanPagi ke tempat acara yang terpusat di Ruang Kolbano Hotel Kristal, Kupang. Senang bisa berjumpa dan berkumpul kembali dengan teman-teman pecinta literasi yang sebagiannya sudah saling kenal.

Acara ini diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT. Dalam pelaksanaannya, panitia menggandeng FTBM Provinsi NTT, khususnya untuk melibatkan bunda literasi/duta baca daerah, pegiat literasi, dan mungkin ada sebutan lainnya. Singkatnya, penggerak literasi.

Ir. Stefanus I. Ratoe Oedjoe, M.T., sebagai kepala dinas, dalam sambutannya menyampaikan tujuan utama dari kegiatan itu adalah, untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Selama ini, kata Stefanus, Perpustakaan Daerah Provinsi NTT telah melakukan banyak transformasi pelayanan untuk meningkatkan kepuasan pemustaka.

Saat sesi workshop dimulai, Ibu Dollyres Chandra, S.Sos., yang berperan sebagai moderator juga menambahkan penjelasan lebih detail mengenai wajah baru layanan perpustakaan tersebut.

“Kita sudah menerapkan perpustakaan berbasis inklusi sosial,” kata Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan yang akrab disapa Ibu Dolly tersebut.

Menurut Ibu Dolly, saat ini perpustakaan tidak hanya sebagai gedung atau gudang penyimpanan buku. Perpustakaan kini sudah menjadi pusat kegiatan masyarakat untuk membaca atau kegiatan lain yang menunjang kehidupan yang lebih produktif.

Sebagai bagian dari semangat transformasi layanan perpustakaan tersebut, lanjut Ibu Dolly, maka terbersit lah ide untuk melakukan kegiatan workshop tersebut.

“Kita sengaja menggandeng FTBM NTT,” jelas Ibu Dolly di hadapan peserta yang mengikuti secara langsung maupun secara daring dari berbagai wilayah NTT. “Menurut penilaian kami, FTBM NTT memiliki struktur yang jelas dan sudah aktif di masyarakat, sehingga sangat cocok dengan tujuan kegiatan ini.”

Ibu Dolly berharap, luaran dari workshop tersebut nantinya bisa menghasilkan kader atau pegiat literasi yang mampu melibatkan masyarakat banyak dalam setiap kegiatan literasi.

Dan untuk mewujudkan impian tersebut, panitia menghadirkan tiga narasumber utama. Mereka berbicara sesuai dengan kompetensi dan pengalamannya masing-masing.

Narasumber pertama, Bapak Polikarpus Do, menyampaikan materi dengan topik: Strategi Peningkatan Pembudidayaan Kegemaran Membaca Melalui Program Bunda Literasi/Duta Baca Daerah dan Pegiat Literasi Daerah.

Pada kesempatan itu, Ketua FTBM NTT yang akrab disapa Pak Poli itu lebih menekankan pada ciri-ciri pegiat atau penggerak literasi.

Menurutnya, pegiat literasi itu bukan orang yang sembarangan. Ada beberapa kriteria dasar yang perlu dimiliki seorang pegiat literasi yang disampaikan Pak Poli, tetapi mungkin saya hanya menuliskan poin yang paling penting.

Pertama, punya niat yang tulus menjadi sukarelawan. Pada poin ini, Pak Poli menekankan agar pegiat literasi tidak boleh berorientasi pada uang atau bantuan lain.

Menurutnya, pegiat itu harus mandiri dalam berjuang. Kalaupun dalam perjalanan waktu ada yang mendapatkan penghargaan dalam bentuk uang atau apapun, itu hanyalah dampak lain.

“Uang bukan tujuan utama,” tegas Pak Poli yang juga menjadi pendiri dan pemimpin dari Yaspora NTT.

Kedua, lanjut Pak Poli, pegiat literasi harus mau dan mampu bekerja sama dengan siapa saja dalam menjalankan setiap program.

“Kalau kita kerja sendiri-sendiri,” katanya dengan nada berapi-api, “tidak akan maju!”

Ketiga, masih menurut Pak Poli, pegiat literasi itu harus menjadi contoh bagi yang lain. Ada banyak aksi positif yang bisa menjadi inspirasi bagi orang, salah satunya mulai dari rumah sendiri.

“Misalnya dengan menyediakan pojok baca di rumah. Atau menyediakan buku bacaan,” sarannya lebih lanjut.

Ada banyak saran lain yang disampaikan Pak Poli, tetapi saya pikir cukup itu dulu yang paling penting. Oh iya, satu lagi, mengenai perkembangan gerakan literasi di NTT, Pak Poli juga mengabarkan informasi yang cukup menggembirakan: NTT berada di urutan 8 dalam urusan minat membaca saat ini.

“Itu bukan karena kerja FTBM NTT saja, tetapi hasil kerja dari semua orang atau lembaga yang mencintai literasi di NTT,” kata Pak Poli yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Narasumber kedua, Bapak Pdt. Dr. Mesakh A. P. Dethan yang menyampaikan materi tentang: Pelibatan Masyarakat (Community Engagement).

Topik ini dinilai penting, karena setiap pegiat literasi yang mengikuti workshop diharapkan mampu melibatkan masyarakat dalam setiap program atau kegiatan literasi di lingkungannya.

Sebagai akademisi di Unkris Artha Wacana, Kupang, Pdt. Mesakh memberikan contoh kerja yang dilakukannya bersama civitas akademika di kampusnya dalam melibatkan masyarakat.

Menurutnya, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan jika ingin melibatkan masyarakat. Dimulai dengan identifikasi masalah, lalu menyusun rencana kegiatan untuk menangani masalah tersebut, menentukan sasaran, waktu dan tempat, biaya, dan sumbernya.

Pdt. Mesakh menunjukkan beberapa contoh kegiatan yang pernah dilakukannya bersama pengurus gereja dan kampus. Semuanya melibatkan masyarakat secara aktif.

Perihal manfaat gerakan literasi, Pdt. Mesakh juga memberikan kesaksian yang meyakinkan. Dirinya mengaku sebagai mantan wartawan yang ikut mendirikan Pos Kupang. Menurutnya, pekerjaan itu memberi kontribusi besar dalam membentuk dirinya saat ini.

“Saya akhirnya bisa studi S3 di Jerman,” katanya dengan bangga. “Kalian juga harusnya bisa lebih dari itu.”

Narasumber ketiga, Bapak Dr. Marius Jelamu, M.Si., yang pada kesempatan itu berbagai ilmu dan pengalaman tentang: Strategi Advokasi dan Lobi.

Iya, kita tahu, urusan pelibatan masyarakat sangat identik dengan kegiatan advokasi dan lobi dengan berbagai pihak terkait.

Staf Ahli Gubernur NTT yang biasa disapa Pak Marius itu, mengawali materinya dengan bercerita pengalaman masa kecilnya hingga dipercayakan Pemrov NTT dalam berbagai urusan.

Pak Marius mengaku lahir pada tahu 1963, masa yang dia sebut sebagai zaman kegelapan. Maksudnya, bila dibandingkan kemajuan saat ini, perbedaannya sangat jauh.

Meski demikian, keterbatasan itu bukan menjadi halangan untuk bisa maju. Pak Marius merasa bersyukur karena ayahnya seorang guru, sehingga dia dibiasakan untuk membaca sejak SD.

Kebiasaan itu makin berkembang dengan baik ketika dirinya mengenyam pendidikan di Seminari Menengah St. Pius XII Kisol. Menurutnya, di sana anak-anak sudah dibiasakan dengan berbagai kegiatan literasi.

“Sejak SMP itu kami sudah dilatih debat. Bukan berkelahi, ya, tapi debat ilmiah,” tekannya kemudian.

Pak Marius bercerita, biasa ada orang atau kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan materi dengan topik tertentu. Setelah itu disampaikan di hadapan siswa lain, kemudian terjadi debat yang konstruktif.

“Saya kira metode-metode yang biasa dipakai di seminari itu perlu ditiru,” sarannya lebih lanjut.

Lebih lanjut Pak Marius bercerita ketika melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Ledalero. Berkat aktivitas literasi yang kokoh sejak dini atau pada jenjang pendidikan sebelumnya, baru pada tingkat dua saja dirinya berhasil menjadi juara 1 lomba penulisan buku tingkat perguruan tinggi.

“Sejak itu, kami sudah bisa cari uang tambahan dari menulis,” kenangnya.

Waktu terus berjalan, dan pada tahun 1995 Pak Marius diterima sebagai PNS di Pemprov NTT. Saat itu pernah juara 1 lomba menulis lagi, berkaitan dengan pelayanan di pemerintah.

Berkat prestasi kerja dan kemampuan literasi yang baik, Pak Marius mendapatkan peluang untuk kuliah lebih lanjut. Beliau melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Indonesia, lalu pendidikan doktoralnya diselesaikan di IPB Bogor.

Kemudian selama bekerja di Pemprov NTT, Pak Marius mengaku sering mendapat tugas penting untuk tampil di level nasional dan internasional.

Kemudian dirinya juga dipercayakan banyak tugas. Di antaranya pernah menjadi Pjs. Bupati Manggarai, kepala dinas, humas atau jubir Pemprov NTT, dan kini menjadi staf ahli gubernur.

Dari perjalanan panjang itu, menurut Pak Marius, semuanya itu bisa diraih dan dilalui berkat adanya kegiatan literasi yang kuat, khususnya ketika berada di lingkungan seminari.

Kabar baiknya, masih menurut Pak Marius, setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan literasi. Kemampuan itu akan berkembang kalau terus dilatih atau dibiasakan.

“Ada juga yang kemampuan dasarnya itu tertidur,” katanya kemudian, “itulah kenapa butuh penggerak seperti kalian.”

Perihal advokasi dan lobi, Pak Marius menyarankan peserta menggunakan metode yang biasa digunakan wartawan atau penulis, yaitu pertanyaan 5W + 1H.

Menurutnya, panduan pertanyaan yang komplet itu akan mengarahkan setiap penggerak literasi pada jalan keluar atau solusi yang tepat.

Bagaimana Nasib Perda Literasi?

Selama sesi diskusi, ada banyak hal yang dibahas, tetapi yang paling penting untuk kita sadari bersama adalah: Bagaimana implementasi Perda Literasi di NTT?

Isu ini diangkat pertama kali oleh Pak Isidorus Lilidjawa, salah satu peserta workhsop. Menurutnya, perda literasi selama ini tidak beda jauh dengan macan ompong. Setelah dibuatkan perda, tidak ada kejelasan lagi mengenai pelaksanaannya.

Menurut pengurus FTBM NTT yang biasa disapa Pak Iso tersebut, ia bersama tim pernah mengajukan permohonan untuk beraudiensi langsung dengan komisi V DPRD Provinsi NTT, tetapi belum ada respons hingga saat ini.

Inisiatif pertemuan itu dimaksudkan untuk membahas lebih lanjut mengenai perda tersebut. Apakah perda itu sudah berjalan dan memberi dampak tertentu atau seperti yang dikatakan Pak Iso, hanya jadi macan ompong?

Isu mengenai perda literasi ini ternyata menarik perhatian semua peserta. Karena itu, dalam waktu dekat, FTBM NTT bersama lembaga lain akan terus melakukan komunikasi dengan pihak terkait demi kejelasan regulasi tersebut.

***

Workshop yang dimulai pukul 09.00 Wita itu baru berakhir pada pukul 16.00 Wita. Setelah sesi diskusi, peserta dibagi dua kelompok untuk menyusun rencana tindak lanjut (RTL).

Ibu Dolly sebagai penanggung jawab kegiatan mengingatkan setiap peserta agar selalu melibatkan masyarakat dalam setiap RTL.

“Saya berharap, apa yang telah direncanakan oleh kelompok bisa dijalankan dengan baik. Saya tunggu undangan pelaksanaan kegiatan nanti,” tutup Ibu Dolly. (Saverinus Suhardin/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here