Perawatan Diri pada Orang HIV/AIDS dengan Koinfeksi TB (Tuberculosis)

0
35
Oleh Fachran Mochamad Benge, Mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.

Human Immunodeficiency Virus (HIV)adalah virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Bila kita tertular HIV maka kekebalan tubuh menjadi menurun sehingga mudah terkena berbagai penyakit.

Menurut WHO (2017), kasus HIV pada anak di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2018, jumlah penderita HIV adalah 640.000 jiwa dengan persebaran 400.000 laki-laki perempuan, 220.000 orang perempuan dan sisanya 18.000 usia anak-anak (UNAIDS, 2019).

HIV/AIDS dapat menyebabkan berbagai infeksi oportunistik yaitu infeksi oleh berbagai macam mikroba (bakteri, jamur, parasit, virus dan lainnya) yang terjadi pada orang dengan HIV/AIDS akibat penurunan daya tahan tubuh. Infeksi oportunistik yang sering diderita oleh orang dengan HIV/AIDS adalah TB Paru. Dengan peningkatan kasus HIV dan TB menyebabkan adanya peningkatan angka kejadian TB resisten obat. Terdapat 78.000 kasus ko-infeksi TB-HIV di Indonesia (WHO, 2017).

Sumber: KNCV Indonesia, 2018

Orang HIV/AIDS dengan koinfeksi TB harus memperhatikan pola hidup sehat selain megonsumsi obat-obatan seperti antiretroviral (ARV). Pola hidup sehat tersebut meliputi olahraga teratur, mengomsumsi makanan sehat bergizi, kontrol rutin dan perawatan kebersihan diri (personal hygiene) yang baik.

Perawatan kebersihan diri (personal hygiene) sangat penting bagi pasien HIV dengan infeksi penyerta TB karena bertujuan untuk memelihara kebersihan diri, menciptakan keindahan, serta meningkatkan derajat kesehatan pasien TB-HIV sehingga dapat mencegah perkembangan penyakit lebih parah diri sendiri maupun menimbulkan penularan pada orang lain.

Menurut Susanti, dkk (2016) perawatan diri atau personal hygiene harus dilakukan oleh penderita HIV dengan koinfeksi TB (Tuberculosis) di antaranya:

  1. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah menjamah makanan
  2. Menggunakan memakai masker
  3. Memakai sarung tangan, jika diperlukan
  4. Memakai sepatu tertutup
  5. Menggunakan alat makan sendiri seperti sendok, garpu, botol minum dll
  6. Tidak meludah sembarangan diruang makanan
  7. Tidak menyisir atau membenarkan rambut ditempat makanan
  8. Tidak bercakap cakap saat bekerja
  9. Tidak memegang rambut/ menggaruk-garuk rambut, lubang hidung atau sela-sela jari/kuku anggota tubuh saat bekerja
  10. Tidak memanjangkan kuku
  11. Penjamah makanan mencicipi makanan dengan alat bantu
  12. Bila batuk/bersin keluar dari ruang makanan atau menggunakan teknik batuk efektif

Selain itu menurut referensi lainnya, perawatan diri (personal hygiene) secara umum yang dapat dilakukan oleh pasien HIV dengan infeksi penyerta TB adalah sebagai berikut:

  1. Selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir dengan prinsip 6 langkah sebelum dan sesudah melakukan kegiatan apapun atau sebelum dan sesudah menyentuh barang-barang sekitar (Caesar & Hakim, 2019).
  2. Pasien dibantu dengan keluarga selalu menyediakan tempat dahak dari wadah tersendiri yang diberikan larutan desinfektan (Muhtar, 2013)
  3. Mempertahankan ventilasi udara yang baik melalui jendela (ventilasi alami) dan paparan sinar matahari yang cukup (Muhtar, 2013). Selain itu penting juga bagi pasien agar menghindari udara dingin agar pertumbuhan virus TB tidak semakin meningkat (Caesar & Hakim, 2019).
  4. Menerapkan etika batuk efektif (Muhtar, 2013).

Etika batuk yang benar adalah (Kemenkes RI, 2016):

  1. Menutup mulut menggunakan tisu atau sapu tangan atau dengan lengan dalam baju
  2. Segera membuang tisu yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah
  3. Cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau menggunakan hand sanitizer
  4. Selalu menggunakan masker 
  5. Tidak meludah disembarang tempat seperti di got atau halaman rumah (Muhtar, 2013)
  6. Menutupi luka terbuka pada tubuh dengan teknik yang benar atau pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan primer (Puskesmas) untuk melakukan perawatan luka (Green, 2016).
  7. Selalu menggunakan masker (dianjurkan menggunakan masker bedah karena lebih efektif) terutama saat beraktivitas di luar rumah (Kemenkes RI, 2016).
  8. Pasien menyiapkan peralatan khususseperti peralatan makan, peralatan mandi dan lain-lain agar tidak digunakan bersama dengan anggota keluarga lain yang sehat (Caesar & Hakim, 2019).
  9. Sebaiknya pasien dibantu dengan keluarga selalu menjemur kasur, bantal dan tempat tidur di bawah sinar matahari (dianjurkan saat pagi hari) dan ditempat khusus pula. Tempat khusus untuk menjemur ini maksudnya yang tidak bercampur dengan jemuran anggota keluarga lainnya (Caesar & Hakim, 2019).
  10. Tetap mempertahankan perawatan diri lainnya seperti mandi minimal 2 kali sehari, merawat kebersihan dan kesehatan mata, hidung, mulut, rambut dan kulit kepala, kuku dan alat kelamin (Kemenkes RI, 2016).

Perawatan diri klien TB-HIV tidak hanya perihal kebersihan diri saja namun kebersihan air (sanitasi) dan lingkungan yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari juga penting. Kebersihan air (Sanitasi) yang dimaksud adalah pasokan air bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien HIV dengan infeksi penyerta TB seperti untuk mandi, memasak dan keperluan lainnya (Wijk, 2020).

Sumber: KNCV Indonesia, 2018

Referensi:

Caesar, D. L., & Hakim, A. R. (2019). PERILAKU PERSONAL HYGIENE PENDERITA PENYAKIT TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GONDOSARI. Jurnal Kesehatan Masyarakat STIKES Cendekia Utama Kudus, 7(1), 144–175.

Green, C. W. (2016). Serial Buku Kecil : HIV dan TB (2nd ed.). Yayasan Spiritia.

Kemenkes RI. (2016). PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS.

Muhtar. (2013). PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM PENINGKATAN SELF EFFICACY DAN SELF CARE ACTIVITY KELUARGA DAN PENDERITA Tb PARU (Family Empowerment in Increasing Self-Effi cacy and Self-Care Activity of Family and Patients with Pulmonary Tb). Jurnal Ners, 8(2), 229–239.

Susanti, I., Hendrawati, N., Sundari, T., & Montain, M. M. (2016). Profil Kepatuhan Higiene Perorangan Penjamah Makanan di Instalasi Gizi dan Tata Boga Rumah Sakit Penyakit Infeksi. 19–28.

UNAIDS. (2019). UNAIDS Data 2019 Reference. UNAIDS Joint United Nations Programme on HIV/AIDS. unaids.org

WHO. (2017). Kementrian Kesehatan Republik Indonesia : Kajian Nasional Respon HIV di Bidang Kesehatan Republik Indonesia. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Wijk, C. Van. (2020). HIV/AIDS and water supply, sanitation and hygiene. 2001(May), 1–7.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here