Lima Bahasa Daerah dari 11 Kabupaten/Kota di NTT Jadi Fokus Revitalisasi

0
28

Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan satu dari 12 provinsi yang menjadi target revitalisasi bahasa daerah tahun 2022. Dalam rapat koordinasi program Merdeka Belajar Episode ke-17: Revitalisasi Bahasa Daerah di Nusa Tenggara Timur, yang diselenggarakan di Kupang, NTT, Senin (27/6), disebut ada lima bahasa daerah di 11 kabupaten kota di NTT yang akan menjadi fokus revitalisasi di tahun ini. Kelima bahasa tersebut adalah: bahasa Dawan, bahasa Manggarai, bahasa Kambera, bahasa Rote, dan bahasa Abui.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), M. Abdul Khak, menuturkan, NTT merupakan provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah bahasa daerah terbanyak. Dari 718 bahasa daerah yang ada di Indonesia, 72 di antaranya berasal dari NTT.

“Itu mengapa rapat koordinasi ini penting dan bermakna bagi warga NTT, terutama pemangku kepentingan yang diberi amanah oleh rakyat. Kami berharap bapak/ibu dapat memberi kontribusi, saran, masukan, pada rapat koordinasi ini, sekaligus berperan aktif dalam pelaksanaan tindak lanjutnya nanti,” ujar Abdul Khak, di hadapan seluruh pemangku kepentingan bahasa Provinsi NTT yang hadir secara daring maupun luring.

Dalam kesempatan tersebut, Khak menyampaikan bahwa secara alamiah satu per satu bahasa daerah di dunia akan mati. Revitalisasi ini, menurutnya, merupakan upaya untuk mencegah agar bahasa-bahasa daerah tidak punah terlalu cepat, dan nilai-nilai kebahasaan tersebut masih dapat diketahui dan digunakan oleh generasi berikutnya.

Kepala Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur, Elis Setiati, mengatakan, rapat koordinasi kali ini dilakukan untuk menggalang dukungan dan komitmen dari pemerintah daerah terkait pelaksanaan revitalisasi bahasa daerah secara berkesinambungan. Ia mengatakan, sasaran peserta Revitalisasi Bahasa Daerah untuk tahun 2022 dan 2023 dikhususkan untuk siswa pada usia SD dan SMP.

Elis menyebut, kelima bahasa daerah NTT yang menjadi target revitalisasi berasal dari 11 kabupaten dan kota, yaitu bahasa Dawan di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Kota Kupang; bahasa Manggarai di Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur; bahasa Kambera di Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Tengah; dan bahasa Abui di Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Alor.

“Rapat Koordinasi Revitalisasi Bahasa Daerah merupakan langkah pertama dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa-bahasa daerah di NTT, tahap selanjutnya dapat dilaksanakan dengan bergotong royong dan berkelanjutan,” katanya.

Anggota Komisi X DPR RI, Andreas Hugo Pareira, salah satu perwakilan rakyat asal Sikka, NTT, dalam kesempatan yang sama mengajak seluruh masyarakat NTT untuk mendukung program revitalisasi bahasa daerah. Dengan kekayaan 72 bahasa daerah tersebut, tutur pria yang akrab disapa Hugo ini, menjadi modal bagi NTT untuk mengembangkan diri dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.

“Orang tidak akan datang ke suatu wilayah kalau tidak ada keunikannya. Kita sebagai orang NTT tidak perlu menyamakan diri dengan orang di Jawa atau Bali. Kita punya kekayaan bahasa yang menjadi ciri khas NTT,” ujar Hugo.

Hugo menyampaikan keprihatinannya atas kondisi bahasa daerah khususnya NTT yang kini kritis dan di ambang kepunahan. Ia menceritakan bagaimana di keluarganya sendiri, bahasa Sikka yang merupakan bahasa ibunya, sudah jarang digunakan. Ia mengaku, anak-anak di Maumere lebih sering diajarkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. “Kalau saya berbicara dengan adik atau keponakan saya di NTT, saya bertanya pakai bahasa Sikka, mereka akan menjawab dengan bahasa Indonesia,” tuturnya.

Keprihatinan yang disampaikannya tersebut tentu dialami hampir seluruh wilayah di Indonesia. Gempuran bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya di platform-platform media sosial, kata Hugo, membawa pengaruh besar pada ketidakpedulian generasi muda terhadap bahasa daerah. Untuk itu, Hugo berharap program revitalisasi ini dapat berhasil dan terus menghidupkan bahasa-bahasa daerah khususnya di daerah NTT.

“Kalau ditanya siapa yang bertanggung jawab atas kepunahan, ya, tanggung jawab kita semua. Makanya program ini harus didukung. Marilah kita sama-sama bertanya dan memberikan jawaban dari apa yang kita lakukan agar bahasa dan sastra daerah tetap dilindungi, tidak punah,” tuturnya. (Siaran Pers Kemendikbusristek Nomor: 331/sipers/A6/VI/2022/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here