#JalanPagi: Menemani Perjalanan Yaspensi

0
90
Peluncuran buku "Nomen Est Omen" pada momentum perayaan HUT ke-1 Yaspensi dan 1 Abad Chairil Anwar, Selasa (26/7/2022) di Kafe Coklat Kupang.

Tepat tanggal 26 Juli 2022 kemarin, Yayasan Pustaka Pensi Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Yaspensi merayakan ulang tahun pertama.

Saya cukup sering #JalanPagi bersama lembaga yang memiliki ikhtiar untuk ikut mengembangkan karakter anak bangsa ini dan tentu saja saya juga diajak untuk merayakan hari bahagianya bersama teman-teman lain.

Tetapi, meskipun saya sesekali terlibat dalam kegiatan Yaspensi, tidak semua hal saya ketahui dan pahami mengenai lembaga ini. Sudah sejauh mana pertumbuhan “bayi” Yaspensi saat ini? Bagaimana rencana”pola asuh” yang diterapkan pada lembaga ini selanjutnya? Dan masih pertanyaan lainnya.

Supaya jelas, maka saya memutuskan untuk hadir ke perayaan ulang tahun Yaspensi yang berlangsung di Kafe Cokelat, Kupang tadi malam (26/07/2022). Saya yakin, pasti ada banyak informasi yang bisa dijadikan bahan untuk catatan #JalanPagi.

***

Saya pertama kali tahu perihal “kelahiran” Yaspensi ini dari Ka Rian Seong. Saat itu saya sedang suntuk mengerjakan tesis, tiba-tiba dia menelepon. Beliau menjelaskan panjang-lebar, intinya meminta dukungan menggerakkan lembaga tersebut.

Saya katakan: siap! Tetapi, saya bilang begitu bukan karena sudah paham betul dengan apa yang perlu dikerjakan untuk mendukung yayasan baru itu. Saya juga kurang yakin dengan kemampuan diri sendiri, apakah akan cocok dengan kebutuhan mereka.

Kabar baiknya, jawaban “siap!” itu membuat percakapan kami lebih singkat, sehingga saya bisa kembali konsentrasi menyelesaikan tugas akhir kuliah waktu itu. 

Setelah mulai berjalan, saya memang tidak bisa banyak berkontribusi. Saya hanya bisa menyumbangkan rubrik #JalanPagi ini di sekolahtimur.com–sebuah media baru di bawah naungan Yaspensi.

Selain itu, sependek yang saya ingat, saya pernah diajak untuk memberi pelatihan menulis di salah satu sekolah di Sumba Timur yang berlangsung secara daring; ikut kegiatan “Hananu di Batas Negeri” yang dilaksanakan di Malaka; dan terakhir ikut  pelatihan jurnalistik di SMA Negeri 4 Kupang.

Beberapa kegiatan yang saya sebut itu sudah saya tuliskan di #JalanPagi sebelumnya. Kalau Anda belum baca, mungkin bisa cek catatan lain di rubrik Jalan Pagi.

***

Perayaan HUT Yaspensi yang pertama ini memang disengaja dibuat tertutup, hanya untuk kalangan internal. Momen spesial ini ingin dimanfaatkan Yaspensi untuk mengevaluasi diri sebelum menapaki jejak selanjutnya.

“Kenapa tidak dirayakan tanggal 17 Agustus?” Saya pernah bertanya begitu, karena dulu Yaspensi diluncurkan secara resmi ke publik bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI tahun 2021 lalu.

Ternyata Yaspensi memilih tanggal penetapan SK pendirian yayasan sebagai hari lahir, bukan hari di mana pengurus memperkenalkan ke publik.

“Hari peluncuran itu seperti menerima sakramen permandian di gereja, bukan hari lahir,” begitu kata Ka Rian Seong, Ketua Yaspensi.

Setelah ditelusuri, ternyata hari lahir Yaspensi itu bertepatan dengan hari lahir penyair terkemuka Indonesia: Chairil Anwar yang kemarin sudah genap berusia 1 abad.

Karena itu, perayaan ulang tahun Yaspensi yang pertama ini juga didedikasikan untuk menghormati atau mengenang karya-karya Chairil Anwar yang sepertinya “ingin hidup seribu tahun lagi”; tidak pernah mati.

Selain itu, keluarga besar Yaspensi juga makin berbahagia karena salah satu anggota tim, Kaka Patrisius Leu, meluncurkan buku terbarunya: “Nomen Est Omen”.

***

Acara sederhana itu dibuka oleh Ka Robi Fahik, Ketua Founder sekaligus Ketua Divisi Pustaka Yaspensi. Sebagai penyair, Ka Robi mengawali kegiatan dengan membaca puisi “Doa” karya Chairil Anwar. Ia juga membawakan musikalisasi puisi karya Chairil Anwar berjudul “Isa”.

Setelah itu, Ka Robi menyilakan Ka Rian Seong sebagai Ketua Yaspensi untuk menyampaikan sambutan pada momentum perayaan ulang tahun tersebut. Tetapi sebelumnya, Ka Robi memberikan satu pertanyaan: “Seperti Chairil Anwar, apakah Yaspensi ingin hidup seribu tahun lagi?”

Ka Rian Seong bercerita cukup panjang perihal riwayat kelahiran Yaspensi. Intinya lembaga itu dibentuk oleh 3 orang yang disebut founder, yaitu Robi Fahik, Rian Seong, dan Robi Kapitan.

Saat itu mereka bertemu di Kafe Cokelat, Kupang. Menurut Ka Rian, itulah salah satu alasan perayaan ulang tahun Yaspensi kembali dirayakan di tempat itu juga.

Ketiganya sama-sama sepakat untuk membentuk sebuah wadah resmi yang bisa meyalur hobi dan kemampuan masing-masing, sehingga bisa berkarya dan berdampak lebih luas bagi sesama. Singkat cerita, lahirlah Yaspensi dengan 3 divisi utama: Seni, Keputusan, serta Riset dan Teknologi.

Setelah berjalan selama satu tahun, Pak Rian bersama Founder Yaspensi lantas melakukan evaluasi secara mendalam dengan pendekatan analisis SWOT.

Mereka ingin tahu apa kekuatan (strength) yang dimiliki?; Apa kelemahan (weakness) yang masih membelenggu?; Apa kesempatan (opportunity) yang mengetre di luar sana?; dan Apa hambatan (threat) yang terus menghimpit perjalan Yaspensi?

Ka Rian Seong menguraikan semuanya secara detail. Kemudian dia mengajak agar tim kerja Yaspensi mampu memaksimalkan peluang-peluang yang ada dengan kekuatan yang telah dimiliki.

“Yaspensi ingin hidup seribu tahun lagi,” tutup Ka Rian Seong, tampak sangat optimis.

***

Kami melanjutkan acara dengan membahas seputar urusan nama. “Nomen Est Omen”. Nama menunjukkan kepribadian seseorang. Kira-kira itulah tema utama dari buku baru karya teman kami: Kaka Patrisius Leu.

Buku ini memang benar-benar baru, diterbitkan bulan Juli 2022. Buku yang berisi 22 refleksi iman seorang guru penulis–Patrisius Leu–ini diterbitkan oleh Gerbang Media Aksara, Yogyakarta yang bekerja sama dengan Yaspensi.

Diskusi dipandu oleh Presiden Komunitas Secangkir Kopi (KSK) Kupang, Kaka Nong Yonson. Ada tiga pembicara utama: Ka Patris sebagai penulis, Ka Gabriel Baut Koten sebagai editor, dan Ka Rian Seong sebagai perwakilan pembaca.

Ka Patris bercerita kalau bukunya itu berisi renungan berdasarkan kejadian sehari-hari atau hasil pendalamannya pada Alkitab. Menurut Ka Patris, nama itu bukan sekadar pembeda antara satu dengan yang lainnya.

“Nama itu tanda,” kata Guru Agama Katolik di SMK Negeri 7 Kota Kupang itu. “Nama menunjukkan kepribadian seseorang.”

Ka Patris lantas bercerita tentang pengalamannya memaknai nama. Ada nama kampung. Ada nama yang disarankan gereja dan sebagainya.

Terlepas dari sumber inspirasinya, setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata nama itu memberi makna yang positif untuk bisa hidup lebih berkualitas.

Apa yang diceritakannya  itu sudah tertulis dalam buku. Jadi, saya tidak mau memberi banyak bocoran. Silakan hubungi penulis atau redaksi sekolahtimur.com ini untuk informasi pemesanan.

Pengeditan buku ini dikerjakan oleh sahabat dekat Ka Patris, yaitu Ka Gabriel Baut Koten, S.Pd. Ketika ditanya mengenai prosenya, Guru SMK Negeri 7 Kota Kupang yang akrab disapa Kaka Gab itu mengaku sebagai naskah tersulit yang pernah ia edit selama ini.

Meski demikian, Ka Gab mengaku pada akhirnya merasa lega karena hasilnya cukup memuaskan.

Sebagai pembaca pertama dan penulis epilog buku tersebut, Ka Rian Seong mengaku kalau itu bukan pekerjaan yang mudah. Dia butuh waktu berhari-hari untuk menuliskan kesan penutup pada buku tersebut.

Menurut Ka Rian, buku “Nomen Est Omen” itu merupakan hasil refleksi panjang penulis yang ditulis dengan gaya kontemporer nan lugas.

“Saya suka model tulisan yang di luar pakem seperti ini,” tambah Ka Rian, “kalau salam musik, inilah yang disebut karya kontemporer.”

Sesi diskusi makin seru ketika setiap peserta diminta memperkenalkan nama sekaligus riwayat dan makna di balik nama tersebut.

Ada banyak kisah unik dari 10 orang anggota Divisi Seni Yaspensi, Kaka Yosi Bataona, saya, dan beberapa nama yang sudah disebutkan sebelumnya.

Diskusi buku itu diakhiri dengan makan malam bersama. Sembari makan, kami tetap melanjutkan poin-poin yang terlewatkan saat sesi diskusi resmi.

Selepas makan, kami bernyanyi, bercerita dan sedikit membahas rencana-rencana perjalanan selanjutnya hingga pukul 22.00 WITA.

***

Selamat ulang tahun, Yaspensi! Saya mungkin hanya bisa sesekali menemani kamu #JalanPagi. Tetapi, saya tetap mendoakan yang terbaik.

Apakah Yaspensi benar-benar “ingin hidup seribu tahun lagi?” Kita akan menjadi saksi perjalanan lembaga ini selanjutnya. (Saverinus Suhardin/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here