Pater Philipus Tule: “Amancalistung” dan “Lopo Pintar” Solusi Pembelajaran Pasca-Covid 19

0
192
Rektor Unwira Kupang, Pater Dr. Philipus Tule, SVD.

Kota Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Dalam upaya membenahi pembelajaran pasca-pandemi Covid 19, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dalam kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melaksanakan program “Adikku Mantap Baca, Tulis dan Hitung” (Amancalistung) dan “Lopo Pintar”.

Menurut Rektor Unwira Kupang, Pater Dr. Philipus Tule, SVD., proses pembelajaran daring ternyata belum mampu memberikan hasil yang memuaskan dan memadai. Namun, di sisi lain, kemajuan dan perkembangan teknologi menuntut dunia pendidikan untuk turut menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tersebut.

“Ketika sistem pembelajaran online yang diterapkan di semua lembaga pendidikan dari PAUD sampai Pendidikan Tinggi, itu cenderung mengatakan bahwa dampak dari metode pembelajaran online itu selalu dinilai kurang memuaskan. Karena pendidikan itu sebagai suatu kegiatan pembinaan, formasi dan pembentukan yang holistik-komprehensif itu tidak bisa tercapai secara online saja. Itu terbukti dari tingkat dasar bahwa kemampuan anak dalam membaca dan menulis masih rendah,” ungkap P. Philipus Tule, SVD., ketika diwawancarai media ini, Jumat (20/01/2023) di ruang Rektor Unwira.

“Tapi, sesuai dengan perkembangan teknologi bahwa bagaimanapun kita harus tetap memanfaatkan perkembangan teknologi, maka sekarang kita meskipun pendidikan online 100% kurang baik, orang sekarang mengidealkan pendidikan campuran secara online dan offline berjalan secara seimbang sesuai dengan konteks masyarakat dan budayanya,” jelasnya.

Program Amancalistung KKN Unwira

Melihat persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat secara khusus dalam dunia pendidikan, lanjut Pater Philipus, Unwira merasa bertanggungjawab dan harus berpartisipasi aktif untuk memikirkan masalah-masalah tersebut serta memberikan solusi untuk penyelesaiannya melalui gagasan “Adikku Mantap Membaca, Tulis dan Berhitung” (Amancalistung) dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Unwira.

“Unwira, selama masa pandemi Covid dan bahkan setelah kita kembali menjalankan KKN tematik, kita kerja sama dengan Pemda NTT sampai di tingkat Kabupaten. Dalam KKN itu, mahasiswa kita disamping belajar melalui masyarakat, juga terlibat dalam memikirkan masalah yang ada di masyarakat. Kuliah di masyarakat, kerja di masyarakat, yang nyata,” ujarnya.

“Di bidang pendidikan, mereka juga ikut memikirkan masalah-masalah pendidikan di tingkat kecamatan dan kabupaten, termasuk masalah masih banyak anak yang belum bisa baca. Maka kita, KKN Unwira yang 2 periode terakhir, kita menyisipkan disamping tema-tema tentang stunting, kemiskinan, kewirausahaan dan Bumdes,  mahasiswa kita disiapkan untuk terlibat di sekolah dengan menerapkan program yang kami namakan ‘Amancalistung’. Mereka mendampingi grup-grup siswa di rumah, di luar sekolah. Jadi, ini merupakan salah satu program utama KKN Unwira dan bentuk kerjasama dengan pemerintah di kota maupun di kabupaten,” terang Pater Philipus.

Lopo Pintar sebagai Lingkungan Belajar Baru

Pater Philipus Tule menuturkan, kerja sama yang dibangun Unwira dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang bertujuan untuk menemukan cara dalam usaha meningkatkan pendidikan di NTT. Lebih lanjut, Pater Philipus menyampaikan bahwa program Lopo Pintar merupakan suatu situasi yang dekat dengan nilai-nilai kebudayaan sekaligus menjadi model lingkungan belajar yang baru, yang dapat dialami di masyarakat.

“Salah satu model kerjasama seperti Lopo Pintar, itu sebenarnya upaya Pemkot yang bekerjasama dengan Dinas PK Kota Kupang dan perguruan tinggi untuk mencari solusi, bukan soal anak-anak SD tidak bisa membaca, menulis dan berhitung dengan baik, tetapi suatu bentuk mencari jalan untuk meningkat kualitas pendidikan di NTT ini. Itu harus di mulai dari pendidikan dasar,” ungkapnya.

“Pengertian Lopo Pintar, Lopo itu rumah adat tempat rekreasi di depan rumah tinggal. Tempat orang berkumpul untuk bermusyawarah tentang adat, kebudayaan, sosial-religi setempat. Oleh karena itu, monumen budaya lokal Timor yang bernama Lopo itu, dipakai bukan saja untuk musyawarah tentang hal-hal besar tetang adat istiadat dan kehidupan, tetapi juga bermusyawara tentang pendidikan. Dari situ maka Lopo Pintar menjadi tempat berhimpun dan belajar anak-anak yang masih dalam tingkatan sekolah. Jadi, di situ bisa terapkan bimbingan guru dan pendamping lapangan Lopo Pintar itu sama seperti Amancalitung. Juga untuk tingkat yang lebih tinggi, membaca, di situ bisa menjadi perpustakaan dan budaya membaca yang mulai digerakan di lingkungan seperti itu dan juga kegiatan lain seperti lomba-lomba, bercerita, berdebat, berdiskusi. Lopo Pintar menjadi suatu lingkungan belajar baru di luar sekolah,” pungkasnya. (Yosi Bataona/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here