Giatkan Literasi, YASPENSI Sambangi 4 Sekolah di Sumba Timur

0
313
Pose bersama panitia, narasumber, dan peserta kegiatan literasi di SMAN 2 Waingapu.

Sumba Timur, SEKOLAHTIMUR.COM – Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (YASPENSI) kembali melanjutkan misinya dalam upaya menggiatkan literasi terutama di lingkungan sekolah. Kali ini YASPENSI menyambangi 4 sekolah di Kabupaten Sumba Timur dalam kegiatan Workshop Literasi yang berlangsung pada 12 – 20 Juni 2023. Empat sekolah tersebut yakni, SMA Negeri 2 Waingapu, SMAN 1 Haharu, SMA Kristen Payeti, dan SMA PGRI Waingapu.  

Ketua YASPENSI, Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M., mengungkapkan, sejak berdiri pada tahun 2021 lalu, YASPENSI terus berupaya menggiatkan literasi melalui kerja sama dengan sejumlah pihak termasuk MKKS SMA Sumba Timur. Bahkan beberapa sekolah di Sumba Timur telah memulai kegiatan literasi bersama YASPENSI sejak tahun 2021.

“Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kerja sama yang telah dibangun YASPENSI dengan MKKS SMA Kabupaten Sumba Timur sejak tahun 2021 lalu. Karena itu kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan sekolah kepada YASPENSI. Apa yang kita lakukan bersama adalah bagian dari upaya kita membangun budaya literasi terutama di lingkungan sekolah,” ungkapnya kepada media ini, Kamis (22/06/2023).

Marianus menambahkan, kegiatan literasi yang dilaksanakan dalam kerja sama dengan pihak sekolah tersebut juga sejalan dengan visi YASPENSI yakni, “Menjadikan manusia Indonesia berkarakter berbasis Kepustakaan, Seni, Riset dan Teknologi”. Karena itu selain bidang literasi, jelas Marianus, YASPENSI juga memiliki program di bidang seni seperti seni musik dan seni tari.

Pembukaan kegiatan literasi di SMAN 2 Waingapu.

Gerakan Nasional

Workshop Literasi yang digelar YASPENSI tidak sekadar sebuah program internal melainkan sebuah gerakan yang bersifat nasional dan wajib dijalankan oleh lembaga pendidikan. Hal ini sebagaimana dikatakan Kepala SMAN 2 Waingapu, Jerry Causius Mbiliyora, S.Pd., dalam sambutannya ketika membuka kegiatan literasi di SMAN 2 Waingapu, Senin (12/06/2023).

“Dalam kebijakan nasional terutama dari Kemendikbud, gerakan literasi sekolah itu wajib dilakukan di sekolah mana pun baik negeri mapun swasta. Ini adalah gerakan besar dan gerakan bersama dan sekolah membuat anggaran untuk itu. Dalam perkembangan global, kita harus bisa pandai membaca dan memahami satu kata, dua kata dan apalagi yang lain,” ungkapnya.

“Anak-anak, Anda terpilih duduk di sini berarti Anda berbakat. Semua yang disampaikan narasumber diikuti dengan baik. Sehingga walaupun hasilnya tidak harus seperti seorang sastrawan, paling tidak membaca konteks, membaca sesuatu bisa paham. Itu intinya literasi,” tegas Jerry Mbiliyora.

Pose bersama peserta kegiatan literasi SMAN 1 Haharu.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakasek Kurikulum SMAN 1 Haharu, Devi Sri Wahyuni, S.S., menguraikan dasar hukum kegiatan literasi di sekolah. Menurut Devi, setidaknya terdapat tiga dasar hukum yang menjadi payung kegiatan literasi di sekolah yakni: (1) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti; (2) Perpres Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK); (3) Surat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Nomor 421/3364/PK/2021 Tanggal 14 September 2021 Hal: Penegasan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Devi mengungkapkan, adanya dasar hukum tersebut menegaskan betapa pentingnya gerakan literasi. Karena itu ia berharap kegiatan yang digelar bersama YASPENSI dapat membuahkan hasil yang diharapkan.

Pose bersama usai penutupan kegiatan di SMAN 1 Haharu.

“Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini: (1) guru dan siswa dapat menerapkan budaya literasi di sekolah maupun di luar sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup; (2) siswa memiliki jiwa pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan; (3) guru dan siswa mampu mengembangkan budaya literasi dalam kegiatan ekstrakurikuler; (4) guru dan siswa mampu membuat puisi dan karya tulis dalam ragam bentuk,” urai Devi Sri Wahyuni dalam pembukaan kegiatan literasi di SMAN 1 Haharu, Rabu (14/06/2023).

Kompetensi Literasi dalam ANBK

Program literasi yang dijalankan oleh YASPENSI dan pihak sekolah ternyata memiliki benang merah dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang merupakan kebijakan dari pemerintah pusat. Salah satu aspek utama dari ANBK adalah literasi.

Pembukaan kegiatan literasi di SMA Kristen Payeti.

Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala SMA Kristen Payeti, Dra. Maria Yuliana Galla dalam kegiatan literasi di SMA Kristen Payeti, Jumat (1/06/2023). Ia mengungkapkan, sejak tahun 2021 ANBK diikuti peserta didik yang terpilih dengan fokus asesmen pada tiga aspek yakni, literasi, numerasi, dan survei karakter serta lingkungan belajar.

“Hasilnya dalam bentuk rapor mutu dan rapor mutu di SMA Kristen Payeti di bawah komoetensi minimum. Karena itu perlu intervensi khusus,” ungkapnya.

“Tahun 2022 ada peningkatan secara umum namun literasi dan numerasi masih jauh dari yang diharapkan. Maka perlu diadakan kegiatan ini dengan tujuan meningkatkan komptensi literasi peserta didik,” lanjut Yuliana Galla.

Pembukaan kegiatan literasi di SMA PGRI Waingapu.

Hal senada diungkapkan Kepala SMA PGRI Waingapu Rambu Mbangi Rawambaku, S.Pd., saat membuka kegiatan literasi di SMA PGRI Waingapu, Senin (19/06/2023). Ia menuturkan, aspek literasi dinilai sangat rendah berdasarkan rapor pendidikan SMA PGRI.

“Ringkasan kondisi satuan pendidikan SMA PGRI Waingapu, dibandingkan tahun 2022, kemampuan numerasi mengalami peningkatan paling tinggi dari seluruh capaian tahun ini, kualitas pembelajaran menjadi indikator dengan pencapaian terbaik. Meski demikian, kemampuan literasi adalah indikator dengan pencapaian terendah,” jelasnya.

Pose bersama usai penutupan kegiatan di SMA PGRI Waingapu.

“Oleh karena itu sekolah memprogramkan kegiatan ini sehingga kita bisa terlewati dari pergumulan ini. Itu maksudnya, sehingga hari ini kita bersama-sama dengan YASPENSI. Memang dia tidak merah lagi, sudah kuning. Tapi dari kegiatan ini saya kira kita akan merangkak selangkah demi selangkah untuk kita bisa keluar dari pergumulan ini,” lanjutnya.

Data yang dihimpun redaksi menyebutkan, kegiatan ini melibatkan 25 – 40 peserta didik dan 5 – 6 guru pendamping dari masing-masing sekolah. Sementara hadir sebagai narasumber dari tim YASPENSI yakni, Marianus Seong Ndewi, S.Pd., M.M. (Ketua YASPENSI), Nimrot Ndjukambani, S.Pd. (Koordinator YASPENSI wilayah Sumba), Robertus Fahik, S.Fil., M.Si. dan Emanuel Nong Yonson, S.Pd., M.Hum. (Divisi Kepustakaan YASPENSI). (*rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini