Bupati TTS Resmikan Teknologi Sederhana Pengubah Udara menjadi Air

0
144
Bupati TTS Egusem Pieter Tahun saat meresmikan teknologi sederhana pengubah udara menjadi air bersih di Desa Tesiayofanu, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS pada Rabu (6/9/2023).

TTS, SEKOLAHTIMUR.COM – Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Egusem Pieter Tahun meresmikan teknologi sederhana pengubah udara menjadi air bersih di Desa Tesiayofanu, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS pada Rabu (6/9/2023). Proyek ini sudah berlangsung lebih dari satu tahun atas kerja sama antara Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), Universitas Nusa Cendana (Undana), J Trust Bank, dan Pemerintah Daerah (Pemda) TTS melalui pemerintah Desa Tesiayofanu dan masyarakat.

Dalam proses kerja sama terdapat tiga program yakni, penyediaan air bersih lewat alat pengkonversi udara menjadi air dengan menggunakan sumber listrik tenaga surya, pertanian hijau untuk kelompok kaum muda terutama perempuan, dan pendidikan kepemimpinan untuk kaum muda perempuan.

Teknologi pengubah udara menjadi air merupakan hasil kombinasi pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan air water generator/AWGatau mesin pengubah udara menjadi air. Teknologi AWG ini terdiri dari 10 buah mesin yang bekerja untuk mengubah udara menjadi air. Dalam 1×24 jam, setiap unit mesin menghasilkan 35liter hingga 40liter air, sehingga dari 10 mesin yang ada dapat menghasilkan 400liter air bersih. Air yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian dengan sistim irigasi tetes yang hemat air.

Hadir dalam acara ini, Alex Liu selaku Camat Kie, Semuel Apsalon Niap selaku Area Program Manager Plan Indonesia, Marina Meidiyanti Program Implementation Area (PIA) Timor, Matheus Timulafu sebagai Deputi PIA Manager, Perwakilan J Trust Bank, Ency Mataniari sebagai Corporate Communication, Ridyawan Amnarsebagai Corporate Secretary Division Head, Hana Beatrix Boboysebagai Branch Manager J Trust Bank Cabang Kupang.

Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam menghadirkan teknologi tersebut.

“Terima kasih untuk Plan Indonesia, Undana, dan juga J Trust Bank yang sudah membantu kami. Teknologi ini merupakan yang pertama di TTS, sehingga kita berharap bisa membantu masyarakat Desa Tesiayofanu dalam memanfaatkan lahan dan juga kebutuhan air bersih lainnya,” ungkapnya.

“Dengan harapan, semua kebutuhan yang berkaitan dengan air bersih bisa sedikit teratasi dan sambil kita terus membangun daerah ini agar terbebas dari berbagai persoalan, seperti penurunan angka stunting, perilaku hidup bersih dan sehat, dan persoalan lainnya,” lanjutnya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Undana, Dr. Ir. Damianus Adar, M.Ec., mewakili Rektor Undana berharap agar kerja sama yang ada tetap terjalin ke depan.

“Terima kasih untuk Pak Bupati TTS, Plan Indonesia, atas kerja sama ini, semoga kita terus berkolaborasi, bersinergi membangun bangsa ini dengan cara kita masing-masing. Kami dari Undana berharap lewat teknologi ini bisa dimanfaatkan dengan baik, masyarakat bisa menanam tanaman dan bisa ditata dengan baik untuk bisa terus bermanfaat. Mohon maaf jika ada kekurangan, biarlah kekurangan itu bisa membuat kita terus bekerja sama di waktu-waktu selanjutnya,” ujarnya.

Dini Widiastuti selaku Eksekutif Direktur Plan Indonesia saat menyampaikan sambutannya.

Sementara itu Dini Widiastuti selaku Eksekutif Direktur Plan Indonesia menuturkan, pihaknya telah bekerja di beberapa wilayah di NTT termasuk di TTS.

“Kami berkerja di Nusa Tenggara Timur di Lembata, Nagekeo, dan TTS, di TTS sendiri, kami berada di 46 desa. Harapannya, ke depan bisa menciptakan masyarakat desa yang mandiri, supaya semua program yang sudah dilakukan bisa berkelanjutan. Untuk itu, perlu dilakukan pemeliharaan, pemanfaatan, dari semua komponen masyarakat desa terutama kaum muda,” ujarnya.

“Terima kasih untuk Pemerintah Daerah TTS, pemerintah desa, relawan-relawan Plan Indonesia yang sudah membantu kami, mudah-mudahan anak-anak kita terbebas dari stunting dan juga terutama terbebas dari kekerasan dan bisa mengakses pendidikan paling tidak hingga di jenjang sekolah menengah atas maupun sekolah menenghah kejuruan. Bersama kaum muda terutama kaum muda perempuan bisa memaksimalkan pemanfaatan lahan menggunakan irigasi tetes dari air yang didapatkan dari teknologi baru ini. Bagaimana caranya anak-anak muda kita tetap bisa membangun desa, tentunya harus diberikan alat, diberikan pelatihan, supaya mereka bisa berkarya dan membangun desanya sendiri,” jelas Dini. (Siaran Pers Plan Internasional/Lenzho/rf-red-st)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini