Badan Bahasa Selenggarakan Lokakarya Penerjemahan Bahasa Daerah

0
158
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof. E. Aminudin Azis, M.A., Pd.D. saat membuka kegiatan Lokakarya Penerjemahan Bahasa Daerah dalam Rangka Fasilitasi UNESCO.

Jakarta, SEKOLAHTIMUR.COM – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa, bekerja sama dengan Global Digital Library (GDL) dan UNESCO menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Lokakarya Penerjemahan Bahasa Daerah dalam Rangka Fasilitasi UNESCO”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin – Jumat, 4 – 8 Desember 2023 di Hotel Le Meridien Jakarta.

Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof. E. Aminudin Azis, M.A., Pd.D. memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, bahasa ibu memegang peran penting dalam menumbuhkan literasi anak bahkan dalam hal meningkatkan hasil belajar. Ini terbukti dari sejumlah program dan riset yang dilakukan.

Suasana pembukaan kegiatan.

Selain itu, lanjutnya, selama pandemi covid-19, bahasa daerah juga turut berperan dalam membangun kesadaran masyarakat akan bahaya covid-19 melalui penerjemahan informasi atau panduan terkait covid-19 ke dalam 127 bahasa daerah.

“Jadi, bahasa daerah, bahasa ibu, itu memiliki potensi yang sangat besar untuk menyumbang terhadap peradaban kemanusiaan. Jadi, bahasa daerah itu bukan beban tapi justru adalah aset,” ungkapnya.

Sekalipun demikian, jelasnya, ketersediaan buku bacaan dalam bahasa daerah khususnya buku bacaan bagi anak masih sangat terbatas di Indonesia. Karena itu kegiatan ini sangat penting dalam rangka menghadirkan lebih banyak buku bacaan anak dalam bahasa daerah sekaligus menjadi bagian dari program revitalisasi bahasa daerah.

Selanjutnya Aminudin Azis menyebut, terselenggaranya kegiatan ini merupakan cerminan kemitraan yang sesungguhnya. “Jadi, kita saling dukung. Kita membangun kemitraan dalam kerangka saling menguntungkan, kita juga menghormati satu sama lain karena kita memang punya keinginan yang sama untuk membangun literasi masyarakat yang jauh lebih baik,” tandasnya.

Penyerahan cendera mata kepada perwakilan UNESCO usai acara pembukaan.

Sementara itu dalam laporannya, Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa, Iwa Lukmana, mengungkapkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan pada awal tahun 2023 yang diinspirasi oleh gerakan translater story oleh UNESCO.

“Kegiatan sebelumnya kita menerjemahkan buku-buku dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Sekarang ini kita akan menerjemahkan kembali buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ke dalam bahasa daerah,” ungkapnya.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama Badan Bahasa dengan UNESCO dalam program literasi bahasa ibu. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan keterampilan penerjemah terutama dalam menerjemahkan buku cerita anak, meningkatkan ketersediaan buku cerita anak dalam bahasa daerah, mendukung program Merdeka Belajar, dan menggalakkan literasi anak dalam bahasa daerah,” jelasnya.

Penyerahan cendera mata kepada perwakilan Global Digital Library usai acara pembukaan.

Lebih lanjut, Iwa Lukmana menguraikan, kegiatan tersebut diikuti oleh 46 penerjemah yang didampingi oleh 2 orang narasumber dari UNESCO dan Global Digital Library. Selama kegiatan, terdapat 260 judul buku yang akan diterjemahkan ke dalam 29 bahasa daerah.

“Mekanismenya, tiap penerjemah akan menerjemahkan 6 sampai 7 buku dan mereka akan melakukan penerjemahan langsung pada platform Global Digital Library,” ujarnya.

“Daftar bahasa daerah, sesuai abjad: bahasa Aceh, bahasa Angkola, bahasa Bali, bahasa Banjar, bahasa Batak Toba, bahasa Bengkulu, bahasa Dayak Maanyan, bahasa Dayak Ngaju, bahasa Galela, bahasa Jawa Tengah, bahasa Jawa Timur, bahasa Kerinci, bahasa Lani, bahasa Larantuka, bahasa Madura, bahasa Makassar, bahasa Manggarai, bahasa Mee, bahasa Melayu Manado, bahasa Melayu bahasa Jambi, bahasa Melayu Riau, bahasa Minang, bahasa Palembang, bahasa Ponokasan, bahasa Sasak, bahasa Sunda, bahasa Tetun, dan bahasa Tonsawang,” urainya. (RF/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here