Penebar Cahaya dalam Lingkungan Belajar

0
38
Oleh Salmun Ndun, S.Pd., Guru UPTD SMPN 1 Lobalain, Kab. Rote Ndao, Finalis Apresiasi GTK Penulis Esai Merdeka Belajar Prov. NTT Tahun 2023

Sejenak memahami filosofi Ki Hadjar Dewantara (KHD), seorang tokoh pendidikan Indonesia yang dikenal sebagai pelopor pendidikan di Tanah Air. Sang tokoh sungguh memiliki filosofi pendidikan yang kuat dan berpengaruh hingga perkembangan kurikulum di zaman ini.  KHD meyakini bahwa pendidikan harus menciptakan warga negara yang berakal, berbudi, dan berjiwa kultural. Salah satu prinsip sentral dalam filosofinya adalah konsep “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Konsep Trisentral ini merupakan ajaran dalam bahasa Jawa yang dapat diartikan sebagai “di depan sebagai contoh, di tengah sebagai motivator, di belakang sebagai pendorong”.

Filosofi KHD ini menekankan pada peran pendidik sebagai teladan yang harus memberikan contoh yang baik kepada peserta didiknya, mendukung mereka dalam upaya pencapaian tujuan, dan mendorong mereka untuk terus maju. Prinsip ini menekankan pentingnya pendidik untuk memahami perannya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur yang memberikan inspirasi dan bimbingan. Selain itu, prinsip ini juga menekankan pentingnya pendidikan yang merdeka. Maksudnya bahwa pendidikan harus membebaskan individu dari belenggu-belenggu ketidakmampuan dan ketidaktahuan. Menurutnya, pendidikan yang merdeka memungkinkan peserta didik mampu menggali potensi mereka secara keseluruhan, baik secara intelektual maupun emosional, sehingga dapat berkontribusi aktif bagi pembangunan sumber daya manusia.

Dalam konteks kurikulum merdeka, kita perlu memahami konsep pendidikan dan pengajaran secara baik. Menurut KHD, pendidikan adalah upaya untuk membentuk manusia secara menyeluruh dan menyediakan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai yang diperlukan agar seseorang dapat berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Sementara itu, pengajaran lebih merujuk pada metode dan teknik penyampaian pengetahuan yang dilakukan pendidik kepada peserta didik. Pengajaran lebih mengarah pada aspek penyampaian materi, penggunaan metode mengajar, serta upaya fasilitasi agar peserta didik memahami konsep yang diajarkan.

Pendidikan dalam konteks kurikulum merdeka tidak hanya berkutat pada pembelajaran akademis, tetapi juga memperhitungkan aspek-aspek non-akademis, seperti pengembangan karakter, keterampilan hidup, dan kemandiriannya. Sedangkan pengajaran dalam konsep kurikulum merdeka menjadi bagian penting yang lebih menekankan pada keragaman pendekatan dan metode yang dapat memfasilitasi keberagaman gaya belajar peserta didik. Pendidik tidak hanya menjalankan tugas sebagai pengajar, tetapi juga fasilitator dan pembimbing dalam menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan menyenangkan. Dalam hal ini memungkinkan seorang pendidik memiliki kepekaan untuk memperhatikan kebutuhan peserta didik dan menyesuaikan strategi pengajaran agar lebih efektif sesuai dengan keberagaman peserta didik yang ada.

Membentuk Individu Peserta Didik

Salah satu aspek penting dalam filosofi pendidikan adalah peran pendidik dalam membentuk individu yakni peserta didik. Pentingnya memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan minat, bakat, dan kepribadian mereka sendiri sehingga melalui transfer pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan mereka kelak dapat berperan dalam masyarakat. Konsep pengajaran kurikulum merdeka saat ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana pembelajaran terjadi melalui interaksi aktif, diskusi, dan eksperimen. Sebaliknya, pendekatan lain mungkin lebih mengutamakan peran guru sebagai sumber pengetahuan utama yang mengarahkan proses belajar.

Dalam praktiknya, pendidik seringkali memiliki pendekatan yang beragam tergantung pada pengalaman mereka, lingkungan belajar, dan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pendidik yang bergaya konvensional umumnya cenderung menggunakan metode pengajaran yang telah lama ada dan teruji, sering kali mengikuti pola-pola tradisional dalam proses pendidikan. Kemungkinan pendidik lebih condong pada penggunaan buku teks sebagai sumber utama materi, lebih mengedepankan ceramah atau pengajaran langsung. Sementara itu, pendidik melenial biasanya lebih terbuka terhadap penggunaan teknologi dalam pengajaran. Mereka lebih cenderung mengadopsi pendekatan yang lebih interaktif, memanfaatkan berbagai alat dan sumber daya digital, serta mendorong partisipasi aktif siswa dalam proses belajar berdiferensiasi. Pendidik melenial sering menggunakan strategi pengajaran yang lebih dinamis, termasuk penggunaan media sosial, platform daring, dan metode pembelajaran berbasis proyek.

Pendidik harus bisa mengembangkan visi yang jelas dan siap menghadapi tantangan-tantangan pendidikan dengan cara yang reflektif dan berbasis prinsip perubahan. Pendidik perlu memahami bahwa dinamika perkembangan terus berjalan dan perubahan pasti akan mengikutinya. Karena itu, pendidik harus membuka ruang untuk refleksi secara mendalam tentang memahami perannya dan dampak pendidikan dalam membentuk peserta didik yang kelak bercahaya di jalan masa depannya. Memahami peran ini akan membantu pendidik menjadi lebih sadar akan pengaruhnya terhadap peserta didik sehingga memungkinkan untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan yang pada akhirnya membentuk peserta didik yang siap menghadapi masa depan dengan percaya diri, pengetahuan, dan keberanian.

Pendidik Menebar Cahaya

Pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk masa depan generasi bangsa. Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga berperan untuk menebar cahaya. Adapun cahaya nilai-nilai kehidupan seperti kebijaksanaan, inspirasi, dan pandangan positif kepada peserta didik. Semua ini dipahami bahwa jejak pendidikan sebagai landasan utama bagi kemajuan sebuah bangsa.

Sebagai penebar cahaya, para pendidik dapat memastikan bahwa peserta didik mampu memberikan dampak yang positif bagi perkembangan moral, intelektual, dan kehidupan sosial. Pendidik yang menebar cahaya memahami bahwa keberadaan peserta didik di ruang kelas tidak hanya sebatas suatu tanggung jawab untuk mengisi pikiran semata dengan fakta-fakta belaka, tetapi lebih jauh mampu juga mampu menunjukkan teladan yang positif dengan memperlihatkan integritas, kejujuran, kerendahan hati, dan rasa hormat dalam praktik nyata kehidupan.

Seorang pendidik tidak hanya melihat peserta didik  sebagai sasaran penerima informasi, tetapi melihatnya sebagai suatu individu yang unik dengan kebutuhan, bakat, dan minat masing-masing. Pendidik yang menebar cahaya dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, dimana setiap peserta didik merasa didengar, dihargai, dan termotivasi untuk berkembang secara penuh melalui potensi yang dimilikinya. Selain memberikan pengetahuan, pendidik yang menebar cahaya juga mengajarkan peserta didik untuk menjadi pemikir kritis, kreatif, dan inovatif.

Adanya perhatian dan semangat untuk  mendorong untuk bertanya, mencari jawaban, dan mengeksplorasi ide-ide baru. Melalui pendekatan ini, terlihat dedikasi pendidik yang berupaya mempersiapkan peserta didiknya untuk menghadapi dunia yang terus berubah dengan keterampilan adaptasi yang diperlukan serta membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan ketahanan mental. Model karakter pendidik seperti ini tidak hanya menjadi sumber inspirasi tetapi juga menjadi tempat berlabuh bagi peserta didik dalam mengatasi masalah, baik itu pengetahuannya maupun emosionalnya.

Semua bentuk kontribusi yang diberikan, pendidik dalam menebar cahaya akan dipandang sebagai aset berharga bagi masa depan. Mereka akan melihat pendidikan tidak hanya sebagai sebuah pekerjaan, tetapi sebagai panggilan hidup yang memiliki dampak jangka panjang pada kehidupan peserta didik. Melalui dedikasi mereka yang tak kenal lelah dalam membimbing, menginspirasi, dan menebar cahaya, mereka membantu membentuk generasi yang lebih cerdas, berwawasan luas, dan penuh harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Pendekatan memahami eksistensi pendidik yang memberi cahaya daripada bahaya merupakan suatu perspektif yang menekankan pada peran penting pendidik dalam membimbing, menerangi, dan menginspirasi siswa. Pendekatan ini mengakui bahwa pendidik bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga figur yang membawa dampak besar pada perkembangan pribadi dan pengetahuan. Pendidik yang memberi cahaya juga melihat pentingnya pengembangan keterampilan sosial dan emosional peserta didik.  Dengan fokus pada memberi cahaya, bukan bahaya, pendidik berkontribusi dalam menciptakan generasi yang penuh harapan, penuh cahaya, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Dalam implementasi pendidikan dan pengajaran kita dapat membedakan ciri-ciri pendidik yang menebar cahaya antara lain, cenderung menjadi figur yang menginspirasi dan memotivasi peserta didik, mampu menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap kebutuhan peserta didik, mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung, bersikap adil dan empatik, menyediakan bimbingan serta dukungan yang diperlukan bagi perkembangan peserta didik, menjadi teladan yang baik dengan menunjukkan integritas, nilai-nilai positif, dan bersikap konsisten dalam tindakan sehari-hari. Pendidik yang menebar cahaya juga cenderung menggunakan metode pengajaran yang inovatif dan beragam, sesuai dengan kebutuhan siswa. Mereka memanfaatkan teknologi, memperkenalkan pendekatan yang kreatif, serta menyesuaikan strategi pembelajaran dengan perkembangan zaman.

Di sisi lain, pendidik yang menebar bahaya cenderung kurang memperhatikan kebutuhan peserta didik, menggunakan pendekatan pengajaran yang kaku, tidak memperhatikan gaya belajar siswa, kurang mampu menciptakan lingkungan yang aman dan menyenangkan, kurang sensitif terhadap masalah peserta didik, kurang mampu memberikan bimbingan yang diperlukan, dan bahkan menunjukkan sikap otoriter atau tidak peduli terhadap perkembangan peserta didik secara keseluruhan. Kecenderungan pendidik yang menebar bahaya sering terpaku pada metode yang kuno atau konvensional, kurang inovatif, atau enggan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di era perubahan ini didapati oknum pendidik yang seharusnya menjadi sumber inspirasi dan pembimbing bagi siswa, terkadang berulah dengan beragam tingkah negatif yang berdampak buruk terhadap kemajuan pendidikan. Ada pendidik yang menunjukkan sikap otoriter atau diskriminatif terhadap peserta didik sehingga menciptakan lingkungan belajar yang tidak aman dan tidak mendukung. Muncul juga ketidakprofesionalan dalam etika atau perlakuan antara lain dengan terjadi kasus di mana pendidik terlibat dalam perilaku tidak etis seperti pelecehan verbal, fisik, atau emosional terhadap peserta didik. Hal ini dapat menciptakan lingkungan yang tidak sehat, mengganggu pembelajaran, dan merusak kepercayaan siswa terhadap pendidikan.

Beberapa contoh tersebut menunjukkan bagaimana sikap, pendekatan, atau perilaku seorang pendidik dapat membahayakan perkembangan peserta didik dan kemajuan pendidikan secara keseluruhan. Penting bagi lembaga pendidikan dan pihak terkait untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengatasinya guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, mendukung, dan memungkinkan perkembangan optimal bagi peserta didik dan peserta didik.

Kehadiran pendidik yang menebar cahaya dan yang menebar bahaya memiliki implikasi yang signifikan bagi dunia pendidikan. Pendidik yang menebar cahaya memiliki peran sentral dalam membentuk masa depan, memberikan inspirasi, dan membawa dampak positif pada perkembangan siswa serta masyarakat secara keseluruhan. Mereka tidak hanya menjadi penyampai pengetahuan, tetapi juga figur yang memberikan teladan, membimbing, dan memberi dukungan yang diperlukan bagi perkembangan pribadi, pengetahuan, dan emosional peserta didik. Sebaliknya, kehadiran pendidik yang menebar bahaya menunjukkan tantangan bagi kemajuan pendidikan.

Oleh karena itu, penting untuk mendorong pemahaman tentang prinsip-prinsip pendidikan yang menebar cahaya dengan memberikan dukungan dan sumber daya kepada pendidik, serta mengembangkan kesadaran akan pentingnya peran pendidik yang berkualitas dalam membentuk masa depan yang cerah bagi generasi mendatang. Dengan demikian, upaya bersama untuk menghasilkan lebih banyak pendidik yang menebar cahaya dapat memperkuat sistem pendidikan dan mengarah pada pembentukan individu yang lebih berdaya, berwawasan luas, serta siap menghadapi tantangan zaman.

Menjadi pendidik yang menebar cahaya bukanlah sekadar tugas, tetapi sebuah panggilan tulus dan mulia yang membutuhkan komitmen, dedikasi, dan kesadaran akan dampak besar yang dapat diberikan pada masa depan. Jadilah seorang pendidik yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, memotivasi, dan menginspirasi peserta didik. Jadilah sumber cahaya yang membawa harapan, kesempatan, dan perubahan dalam kehidupan setiap individu yang dibimbing.

Dengan mengedepankan kepedulian, pemahaman, dan semangat untuk terus berkembang maka di tangan pendidik yang menebar cahaya akan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan. Ingatlah bahwa setiap langkah yang ambil pendidik dalam menebar cahaya akan membentuk masa depan yang lebih baik dan akan menampilkan peserta didik yang terdidik secara menyeluruh, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang. Pendidik yang baik itu seperti lilin yang bercahaya, ia menghabiskan dirinya sendiri untuk menerangi jalan bagi orang lain. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini