Alam Semesta dalam Sejarah Pemikiran Manusia

0
114
Oleh Patrisius Leu, S.Fil., Guru Penulis & Wakasek Kesiswaan SMKN 7 Kupang, Fasilitator YASPENSI.

PENGANTAR

Alam semesta adalah oikos dan kosmos manusia. Berada di hadapan realitas ini, timbullah di dalam diri manusia rasa kagum, heran, bertanya, sangsi, ragu dan keterbatasan dirinya di hadapan alam semesta yang mahaluas itu.

Para cerdik pandai, ilmuan dan terpelajar, sepanjang sejarah berusaha menjawabi teka-teki misteri alam semesta. Mereka bergelut dengan eksperimen dan studi mendalam hingga tersimpul hipotesis dan karya-karya monumental bagi keberlanjutan kehidupan manusia.

Sebagai makhluk alam dan anak zaman yang hidup di era millenial dalam keharmonisan jagad raya, pantaslah kita bersyukur kepada sang Pencipta Semesta Alam yang telah memberi kita kesempatan berahmat untuk menikmati hidup penuh makna sekarang di 2024 hingga tahun tak terhingga. Kita yang sekarang hidup mesti menyadari determinisme diri di alam semesta dan determinisme pengetahuan kosmik, namun dengan potensialitas elan vital diri untuk hidup, ada, dan bergerak mengarah pada kesempurnaan ciptaan di tangan Sang Kreator.

LATAR BELAKANG

Sejak lama manusia berusaha menyelami realitas mahadahsyat di hadapannya. Di hadapan realitas itu, ia makhluk berakal budi merasa heran, kagum, sangsi, dan merasa terbatas untuk menyelami fenomena itu. Realitas itu kita sebut alam semesta. Rasa ingin tahunya kemudiaan mendorong manusia sepanjang sejarah, mulai dari zaman filsuf klasik hingga ilmuan terpelajar postmodern sama-sama berusaha membangun pemikiran komperhensif menguak tabir alam semesta.

Dimulai dari Masa Kuno yang mendasarkan penalarannya tentang alam semesta berdasarkan mitos-mitos. Dari mitos, kemudian bergerak ke tingkat matematik – kuantitatif pada Abad Pertengahan, dan relativitas pada Zaman Modern, hingga akhirnya pada level holistik di era Postmodern, sekarang. Pemahaman tentang alam semesta bergerak dari tataran mitologi ke ruang penalaran rasional ilmiah.

Konstruksi penalaran alam semesta berdasarkan ruang lingkup penalaran ilmiah yang telah dibangun sangat vital bagi kehidupan. Dari hal ini kita bukan saja memiliki pemikiran yang sehat untuk menguasai dan memiliki pengetahuan tentang sifat dan kelakuan alam sekitar kita sehingga kita dapat mengolah alam semesta yang kita huni secara bijaksana. Lebih dari itu, kita dapat terhindar dari takhyul dan mitos sehingga mengenal realitas alam semesta secara benar dan dapat menikmati keagungan Tuhan Pencipta alam semesta.

Alam semesta ini oleh Paus Johanes Paulus II dalam Sanctorum Aetrix 11 Juli 1980, mengibaratkannya sebagai Kitab Raksasa yang penuh keindahan; manusia perlu mengagumi keindahan alam ciptaan ini, dan menjadi tangan kanan Tuhan dalam melanjutkan karya penciptaan. Karenanya, manusia perlu menyadari keberadaan alam semesta ini yang ada dalam kebersamaan, sehingga keharmonisan antara satu dengan yang lain harus terpelihara.

Maksud memelihara alam ini, para ilmuan dan para terpelajar menggeluti alam semesta itu dengan pelbagai teori, percobaan, dan dialektika yang dibangun guna menyelami akar terdalam dari realitas, bukan saja supaya diketahui sebagai pengetahuan ilmiah tetapi juga untuk mengarahkan manusia pada kodrat Pencipta, Pengada alam dan dengannya manusia memanusiakan kehidupannya secara lebih at home di Oikos semesta huniannya.

ALAM SEMESTA DALAM PEMIKIRAN PARA PEMIKIR

Pengertian

Alam semesta mencakup mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran sangat kecil, dunia sub-atomik misalnya atom, elektron, neutron, positron, proton, dan dunia mikro yang lebih kecil seperti sel, amuba, dan sebagainya. Makrokosmos diartikan sebagai benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat besar, alam semesta, misalnya bintang, planet, dan galaksi. Para ahli astronomi menggunakan istilah alam semesta dalam pengertian tentang ruang angkasa dan benda-benda langit yang ada di dalamnya.

Manusia sebagai ens rationale dan penghuni kosmos di alam semesta selalu bergumul dengan kekaguman rasa ingin tahunya untuk mencari tahu penjelasan tentang makna dari hal-hal yang diamati. Dengan diperoleh berbagai pesan dan beraneka ragam cahaya dari  benda-benda langit yang sampai di bumi, timbullah beberapa teori yang mengungkapkan terbentuknya alam semesta.

Teori terbentuknya alam semesta dibagi menjadi teori terbentuknya Tatasurya (ada teori Nebular, teori Tidal, teori Bintang Kembar, teori Kuiper, teori Dentuman Besar); teori terbentuknya Bumi (ada teori Sedimen, teori Kadar Garam, teori Geoternal, dan teori Radioaktivitas); dan teori Pembentukan Benua dan Samudera (teori Wegener).

Sejarah Pemikiran tentang Alam Semesta

Sejarah pemikiran tentang alam semesta, dibagi dalam empat tahap periodisasi sejarah. Setiap tahap/masa sejarah mempunyai ciri corak keunggulan dan kelemahannya.

Pertama, Pemikiran Masa Kuno

Pemikiran kefilsafatan yang dibangun di Yunani pertama-tama karena kekaguman para filsuf tentang keberaturan alam. Mereka ingin menemukan “arche” (prinsip, asas, asal-usul) alam semesta. Atas usahanya mereka kemudian dikenal sebagai “filsuf-filsuf alam”.

Sebagai tonggak sejarah, muncullah ahli pikir bernama Thales (624-546 SM), menurutnya arche alam semesta adalah air. Semua hal berasal dan akan kembali menjadi air. Air adalah sumber kehidupan, tanpanya tidak ada kehidupan. Alam semesta ini laksana sebuah pulau yang terapung di atas air.

Apa yang dimulai Thales, dilanjutkan Aristoteles (348-322 SM) yang menyebut zat tunggal Hule. Zat tunggal ini tergantung dari kondisinya, dapat berbentuk tanah, air, udara, atau api. Adanya transmutasi ini disebabkan oleh keadaan dingin, lembab, panas, dan kering.

Atas dasar metode deduksi berupa pengamatan terhadap alam semesta, Aristoteles mengemukakan pendapatnya tentang geosentris. Bumi adalah pusat jagad raya, bulan dan diam seimbang tanpa tiang penyangga. Pendapat ini diaffirmasi Ptolomeus (772 M) yang menambahkan pula pendapatnya bahwa bintang-bintang dan benda langit menempel tetap pada langit serta berputar mengelilingi bumi sekali dalam 24 jam.

Pemikiran yang dibangun pada zaman klasik ini masih bersifat subjektif. Segala sesuatu bersifat mitos dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, namun sudah ada usaha pergerakan budi ke arah rasional. Demikian catatan kritis kita.

Kedua, Pemikiran Abad Pertengahan

Semula alam semesta dipikirkan berdasarkan kemampuan analisis spekulatif, kemudian disempurnakan berkat penemuan metode induksi – eksperimentasi dari tiga tokoh besar.

Nikolaus Copernicus (1473-1543) membangun teori heliosentris, bahwa pusat jagad raya bukanlah bumi, tetapi mataharilah sebagai pusat gerakkan bumi dan planet di jagad raya.

Teori Heliosentris mendapat dukungan dari Galileo Galilei. Alam semesta dianggapnya sebagai benda suci yang bergerak berbentuk bulat sebagai bentuk yang paling sempurna dan bentuk yang paling membatasi segala bentuk lainnya. Artinya, bahwa segala bagian alam cenderung membatasi dirinya dalam bentuk yang bulat tersebut dan juga bentuk bulat memiliki kapasitas volume besar.

Hipotese teori Heliosentris yang dibangun Copernicus dan Galileo disentesekan oleh Isaac Newton (1642) yang mengembangkan teori Gravitasi. Prinsip gravitasi Newton mencoba membuktikan gerakan yang membimbing bulan dan planet-planet di sekeliling matahari ialah gaya berat. Kekuatan gaya berat itu berbeda menurut masa dari benda-benda yang ditarik dan kebalikan kuadrat jaraknya. Tarikan-tarikan gaya berat menyebabakan bulan dan planet-planet lain tetap berada di jalan mereka, sambil mengimbangi kekuatan centrifugalnya dari gerakan-gerakan mereka.

Catatan kritis terhadap pemikiran zaman pertengahan bahwa, pandangan terhadap alam semesta bersifat matematik – kuantitatif. Akal budi berperan kuat. Segala sesuatu yang di luar akal, yang tidak diamati, yang tidak dimengerti, adalah tidak ada. Dan segala yang bisa diindrai itulah yang ada.

Ketiga, Pemikiran Abad Modern

Einstein, mengembangkan teorinya relativitas (1905). Ide relativitas ditemukan dalam dua asumsi. Dasar. Pertama, relativitas umum, bahwa kecepatan cahaya “in vacuo” adalah sama dengan seluruh sistem inertial yang bergerak seragam, relatif terhadap yang lain. Kedua, seluruh hukum alam adalah sama dan seluruh sistem inertial yang bergerak seragam, relatif terhadap yang lain. Oleh karena pelik dan rumitnya alam semesta, sementara kemampuan manusia terbatas untuk memahaminya, menurut Einstein diperlukan alat intuisi, fantasi, dan imajinasi.

Pada abad ini struktur berpikir dilandasi oleh relativitas. Segala sesuatu tidak berdaya di hadapan kosmos yang rumit sebab bersifat relatif. Keteraturan tidak bisa dijelaskan dengan “main dadu” matematika. Alam yang teratur bukan hanya karena matematika tetapi ada satu kebenaran dan kesanalah semua ilmu dan filsafat tertuju. Kebenaran itu adalah Allah Pencipta. Demikian catatan kritis kita.

Keempat, Pemikiran Postmodern

Pemikiran pada masa postmodern adalah sintesis yang mengembangkan prinsip-prinsip pemikiran ilmiah dengan kaidah-kaidah pemikiran yang bercorak kritis spekulatif. Pada masa ini pengetahuan bersifat holistik. Pengetahuan bukan hanya untuk pengetahuan (in se) tetapi mempunyai makna, nilai yang harus mengabdi manusia.

Theilard de Chardin memberi sintesenya bahwa kita menerima evolusi sebagai cara ilmu pengetahuan menjelaskan asal-usul tetapi evolusi tidak boleh mencampuradukkan dengan metode, cara penemuan yang bersifat filosofis. Metode penciptaan hanya bisa dijelaskan dalam aspek transendental. Evolusi (ilmu) bekerja dengan caranya sendiri yang filosofis, sedangkan penciptaan (oleh Allah) bekerja dengan caranya yang transendental, tetapi kedua-duanya sama menuju satu kebenaran. Dan kebenaran yang paling sempurna adalah Sang Pencipta sebagai causa finalis.

PENUTUP

Manusia makhluk sejarah yang meruang dan mewaktu di jagad raya ini. Sebagai makhluk alam, ia sadar akan deterministis dirinya oleh alam raya yang mahaluas. Dalam keterbatasannya itu, ia menggunakan kesadaran budinya dengan bertanya dan mempersoalkan hakekat terdalam oikos alam semesta guna menemukan jawaban final. Usahanya itu telah dibangun melalui pelbagai cara mulai dari pengamatan indrawi, refleksi atas pengalamannya, teori-teori mengenai fenomena alam, eksperimen ilmiah hingga dialektika metode, dan hipotesa.

Berdasarkan konstruksi berpikir yang telah dibangunnya dalam pengalaman dan petualangan intelektualnya ketika menjelajahi alam semesta, maka ia berkesimpulan bahwa kosmos ini ada dalam harmoni keberaturan dan keterkaitan dalam organisasi tata surya.

Walau semua realitas alam ini belum tersingkap seluruhnya dan sudah pasti tidak akan semuanya terungkap, namun hal ini tidak boleh menyurutkan semangat penjelajahannya dalam menyelidiki, merenung, berteori dan bereksperimen dengan mengunakan metode-metode yang lebih sistematik guna menemukan kebenaran universal dan final mengenai makna dan hakekat terdalam dari alam semesta dalam cara-cara ilmiah-rasional-dan kritis.

KEPUSTAKAAN

Androngi, Filsafat Alam Semesta, Semarang: CV. Bintang Pelajar, 1986, hlm. 111-112.

Bakker, Anton, Kosmologi dan Ekologi, Yogyakarta: Kanisisus, 1995, hlm. 42.

Darmojo, Hendro dan Kaligis, Yeni, Ilmu Alamiah Dasar, Jakarta: Universitas Terbuka, 2002, hlm. 2.1.

Duan, Frans Kia, Ilmu Kealaman Dasar, Kupang: Universitas Nusa Cendana, 2006, hlm. 10.

Komisi Kateketik KWI, Pusat Pendidikan Agama Katolik SMA Jilid III, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 68.

Lembaga Alkitab Indonesia, Kejadian 1:1-24, Jakarta: Obor, 2007.

Siswanto, Joko, Orientasi Kosmologi, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005, hlm. 2.

Tapin, Johanes, Kosmologi Kristiani, (Manuskrip), Kupang: Fakultas Filsafat Agama Katolik Universitas Katolik Widya Mandira, 2006, hlm.3.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here