Guru dan WFH: Paradoks yang Membahagiakan (Catatan Jelang Hardiknas)

0
2
Oleh Marianus Seong Ndewi, S.Pd., Gr., M.M., Guru Seni Budaya SMAN 4 Kupang, Ketua YASPENSI.

Kebijakan Work From Home (WFH) kembali menemukan relevansinya. Pemerintah pusat mendorong efisiensi energi melalui pengurangan mobilitas aparatur negara, dan pemerintah daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur, turut mengikutinya. Setiap Jumat, sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja dari rumah.

Namun, seperti lazimnya kebijakan, selalu ada pengecualian. Guru termasuk di dalamnya. Sekilas, ini terasa masuk akal. Guru memiliki tanggung jawab utama yang bersifat tatap muka: mengajar, membimbing, dan berinteraksi langsung dengan peserta didik. Sekolah adalah ruang hidup bagi proses pendidikan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar. Namun jika kita melihat lebih dalam, di sinilah paradoks itu mulai muncul.

Paradoks Guru dan Ruang Kerja Guru

Bagi banyak orang, pekerjaan identik dengan kantor. Ada jam masuk, jam pulang, dan batas yang cukup jelas antara kehidupan profesional dan personal. Ketika WFH diberlakukan, batas itu menjadi lebih cair—dan di situlah muncul sensasi “baru” dalam bekerja dari rumah. Namun, sekali lagi, bagi guru, batas itu sebenarnya sudah lama kabur.

Sepulang dari sekolah, pekerjaan guru tidak berhenti. Justru sering kali, pekerjaan yang lebih sunyi dan mendalam dimulai di rumah. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul ajar, menyiapkan bahan ajar, membuat media pembelajaran yang kreatif, memeriksa tugas siswa satu per satu, hingga mengolah nilai—semuanya hampir selalu dilakukan di rumah.

Belum lagi jika kita berbicara tentang refleksi pembelajaran. Seorang guru sering kali memikirkan kembali proses mengajar yang telah dilakukan: bagian mana yang berhasil, mana yang perlu diperbaiki, dan bagaimana cara membantu siswa yang belum memahami materi. Semua itu terjadi di ruang yang sama dengan tempat ia beristirahat, berkumpul dengan keluarga, dan menjalani kehidupan pribadi. Dengan kata lain, tanpa kebijakan WFH pun, guru sudah “WFH” hampir setiap hari.

Di sinilah letak paradoks itu: ketika profesi lain baru merasakan pengalaman bekerja dari rumah sebagai sesuatu yang berbeda, guru justru sudah lama menjalaninya—namun tidak pernah secara resmi disebut sebagai WFH. Lebih menarik lagi, ketika kebijakan WFH diterapkan, guru justru termasuk yang tidak sepenuhnya mendapatkannya. Seolah-olah, guru berada di dua dunia sekaligus. Di satu sisi, ia tidak termasuk dalam kelompok ASN yang menikmati kebijakan WFH secara formal. Namun di sisi lain, ia adalah salah satu profesi yang paling sering membawa pekerjaan ke rumah.

Paradoks ini menjadi semakin jelas ketika kita menyadari bahwa bagi guru, “bekerja dari rumah” bukanlah pilihan atau kebijakan, melainkan kebutuhan yang inheren dalam profesinya.

Paradoks yang Membahagiakan

Paradoks biasanya identik dengan kebingungan atau kontradiksi yang sulit dijelaskan. Namun dalam konteks ini, saya menyebutnya sebagai “paradoks yang membahagiakan.” Mengapa? Karena di balik ketidakjelasan batas itu, terdapat makna yang lebih dalam tentang profesi guru.

Guru tidak bekerja semata-mata karena sistem atau aturan. Ia bekerja karena panggilan, bekerja untuk harapan dan keabadian. Ada rasa tanggung jawab yang melampaui jam kerja formal. Ada kepedulian terhadap perkembangan siswa yang tidak bisa dibatasi oleh ruang kelas.

Ketika seorang guru duduk di rumah, memeriksa tugas siswa hingga larut malam, ia tidak merasa sedang “dipaksa” untuk bekerja. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat hasil kerja siswa, memahami proses berpikir mereka, dan menemukan cara untuk membantu mereka berkembang. Di situlah letak kebahagiaannya. WFH bagi sebagian orang mungkin berarti fleksibilitas, kenyamanan, atau bahkan pengurangan beban. Namun bagi guru, bekerja dari rumah justru sering kali berarti dedikasi yang lebih dalam. Dan baiknya, dedikasi itu tidak selalu terasa sebagai beban.

Paradoks guru dan WFH mengajak kita untuk melihat kembali makna pekerjaan itu sendiri. Apakah bekerja harus selalu dibatasi oleh ruang dan waktu? Ataukah ada profesi yang memang menembus batas itu? Guru adalah salah satu contoh nyata bahwa pekerjaan bisa menjadi bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang terpisah darinya. Namun tentu saja, refleksi ini juga membawa pertanyaan penting: apakah sistem sudah cukup mengakui dan menghargai kerja guru yang “tak terlihat” ini?

WFH bagi ASN lain mungkin dihitung dalam kebijakan dan administrasi. Namun WFH bagi guru sering kali tidak tercatat, tidak terukur, dan kadang tidak disadari. Padahal, di balik layar, ada banyak waktu, energi, dan pikiran yang dicurahkan.

Menemukan Makna dalam Paradoks

Pada akhirnya, saya memilih untuk tidak melihat ini sebagai ketidakadilan semata. Saya memilih untuk melihatnya sebagai sebuah keunikan (kemuliaan) profesi. Guru adalah pekerja yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ia membawa pekerjaannya ke mana pun ia pergi—ke rumah, ke perjalanan, bahkan ke dalam pikirannya sendiri. Dan justru di situlah letak keindahannya.

WFH mungkin datang sebagai kebijakan sementara, sebagai respons terhadap situasi tertentu. Namun bagi guru, bekerja dari rumah adalah bagian dari identitas profesinya. Sebuah paradoks: tidak secara resmi WFH, tetapi selalu bekerja dari rumah. Dan di tengah paradoks itu, ada kebahagiaan yang sederhana—kebahagiaan karena bisa terus belajar, mengajar, dan memberi makna, di mana pun berada.

Penutup: Guru dan Work for Hope

Guru dan WFH adalah dua konsep yang, pada pandangan pertama, tampak tidak sepenuhnya selaras. Namun ketika kita menyelaminya lebih dalam, kita menemukan hubungan yang unik—sebuah paradoks yang justru memperkaya makna profesi guru itu sendiri. Di balik wacana Work From Home, guru sesungguhnya telah lama menjalani “Work for Hope”—bekerja bukan sekadar dari rumah, tetapi untuk harapan jangka panjang peserta didik. Ironisnya, kerja-kerja sunyi yang dilakukan di rumah sering luput dari pengakuan sistem: perencanaan, refleksi, hingga evaluasi pembelajaran masih dianggap pelengkap, bukan inti.

Di sinilah kritik perlu disuarakan—bahwa kebijakan belum sepenuhnya adil dalam melihat beban dan makna kerja guru. Namun di sisi lain, justru dari ruang yang tak terlihat itulah lahir dedikasi yang paling tulus. Guru terus bekerja, melampaui batas waktu dan tempat, demi masa depan yang belum tentu mereka saksikan sendiri. Karena itu, sudah saatnya masyarakat tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga memberi dukungan sosial, apresiasi, dan kepercayaan. Sebab pendidikan bukan kerja instan, melainkan investasi harapan—dan guru adalah penjaganya.

Guru dan WFH adalah dua konsep yang, pada pandangan pertama, tampak tidak sepenuhnya selaras. Namun ketika kita menyelaminya lebih dalam, kita menemukan hubungan yang unik—sebuah paradoks yang justru memperkaya makna profesi guru itu sendiri. Guru mungkin tidak selalu mendapatkan label “WFH” secara formal. Namun dalam praktiknya, mereka adalah pelaku WFH sejati—yang bekerja tanpa batas ruang, tanpa batas waktu, dan sering kali tanpa banyak pengakuan.

Dan mungkin, justru karena itulah, paradoks ini menjadi membahagiakan. Karena bagi guru, bekerja bukan sekadar kewajiban. Ia adalah bagian dari hidup. Pengabdian. Hanya memberi tak harap Kembali…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini