Jalan Pagi: Sebaiknya Tahu “Hananu”

0
157
Penulis bersama tim Yaspensi dan "nona Malaka" (dok. pribadi)

Saya senang sekali diajak keluarga besar Yayasan Pustaka Pensi Indonesia (Yaspensi), untuk mengikuti program “Hananu di Batas Negeri” yang dilaksanakan di Kabupaten Malaka selama 3 hari (24 – 26 Februari 2022), meski sejujurnya saya tidak tahu apa dan bagaimana itu “hananu”.

Selasa (22/02/2022), saya #JalanPagi menuju SMA Negeri 4 Kupang. Sebelumnya Kae Rian Seong telah mengingatkan tim untuk berkumpul di tempatnya mengabdi sebagai Guru Seni Budaya itu.

“Kita kumpul paling lambat pukul 07.30 e…,” demikian bunyi pesan WA Ketua Yaspensi itu.

Begitu saya tiba, Emanuel Nong Yonson yang biasa kami sama dengan Om Nong, salah satu sahabat saya dalam tim Yaspensi, sudah ada di sana.  Tidak lama kemudian Kae Rian datang, langsung menelepon sopir ‘trevel’ yang akan mengantar kami ke Malaka.

Sebuah Daihatsu Xenia coklat masuk ke halaman sekolah. Kaca jendelanya terbuka, ada tiga penumpang perempuan di dalamnya. Dua orang duduk di deretan kursi paling belakang, satunya lagi berada di deretan tengah pada kursi paling kanan.

Setelah menata bagasi, Om Nong membuka pintu tengah. “Halo, Pak…,” seru perempuan yang duduk di kursi paling kanan itu.

Kami agak kaget, ternyata mereka saling kenal, dan saat itu kami sedang berdebat kira-kira siapa yang duduk di kursi tengah. Kami berdebat panjang mengalahkan sidang DPR.

Saya akhirnya mengalah, duduk di tengah antara Om Nong yang ada di bagian kiri dan seorang nona yang belum diketahui namanya di bagian kanan. Kae Rian duduk nyaman di muka; di samping pengemudi.

Ketika Xenia itu mulai bergerak, kami pelan-pelan menelusuri hubungan Om Nong dan nona muda itu. Ternyata nona muda itu pernah menjadi salah satu peserta kuliah Om Nong di FKIP Sejarah Undana.

Sekadar informasi saja, Om Nong itu aslinya bekerja sebagai guru di SMAK Sint Carolus, Penfui-Kupang. Tapi sebagai lulusan Magister Humaniora yang telah belajar banyak tentang linguistik, Om Nong juga dipercayakan sebagai dosen tamu untuk mata kuliah Bahasa Indonesia di berbagai kampus di Kupang.

Om Nong dan nona muda itu bernostalgia dengan peristiwa menarik saat kuliah dulu. Dari sekian banyak yang mereka bicarakan, barangkali informasi yang agak penting itu untuk kita ketahui bersama, nona itu biasa dipanggil Nona Malaka oleh Om Nong saat kuliah dulu.

Kini, Nona Malaka sudah lulus. Katanya dia sudah wisuda sejak Desember tahun 2021 lalu, hanya sampai sekarang dia belum mendapatkan ijazah. Selama kuliah, dia tinggal di rumah “mama besar” di Nasipanaf. Ini saatnya ia kembali ke kampung halaman: Malaka.

Dua nona muda lain yang duduk di kursi paling belakang sudah tidur miring di bangku dan memejamkan mata; katanya itu untuk menghindari mabuk. Kami biarkan mereka dengan dunianya sendiri.

Sementara kami berlima, tiga orang di deretan tengah dan dua orang di muka, mulai membicarakan banyak hal dan saling melempar canda.

Om Nong paling banyak memancing tawa, lalu disusul Kae Rian, dan sesekali saya menambahkan. Om sopir lebih banyak berkosentrasi dengan kemudi, tapi dia juga kadang terlibat. Nona Malaka irit bicara, tapi banyak menyumbang tawa; walaupun suaranya agak dikecilkan dan ia berusaha menutup mulut, tapi guncangan tubuhnya bisa saya rasakan.

* * *

Kami berangkat dari Kupang sekitar pukul 8, dan setelah kurang lebih satu jam, saya baru ingat lagi tentang ‘Hananu’. Kebetulan saya sedang duduk di samping Nona Malaka, maka saya tanyakan ke dia.

“Hananu itu menyanyi, Pak…,” Ia tersenyum, barisan gigi putihnya menjerit di antara bibir merah nan segar.

Menyanyi? Nah, sejak kami masuk ke mobil, tema pertama yang kami bicarakan itu tentang musik; tentang lagu; tentang menyanyi…

Om Nong antusias ketika musik rege muncul dari layar kecil di dasbor mobil. Nona Malaka senang lagu dansa. Kae Rian rindu lagu Ambon. Om sopir kelihatan bersemangat ketika dengar lagu rap. Dan saya senang mengamati kesenangan mereka semua.

Terlepas dari selera musik rekan #JalanPagi saya saat itu, saya kembali merenung tentang makna kata ‘hananu’ tadi. Ternyata menyanyi. Itu artinya, tajuk kegiatan kami (Yaspensi) di Malaka itu kurang lebih berarti:  Menyanyi di Batas Negeri. Oh, kami jauh-jauh ke Malaka hanya untuk menyanyi? Tapi suara saya bisa merusak lagu, apakah ini kegiatan cocok untuk saya?

* * *

Sebelumnya saya pernah bertanya kepada Kae Rian perihal arti kata ‘hananu’ itu, tapi ketua yayasan muda itu pandai bikin penasaran.

“Om Saver kan jurnalis #JalanPagi,” katanya saat itu, “silakan telusuri sendiri…”

Itulah kenapa saya mengorek informasi sama Nona Malaka. Dan ketika tahu artinya menyanyi, saya buka kembali undangan kegiatan, di sana tertulis lengkap judul kegiatannya: “Hananu” Sebagai Metode Peningkatan Kemampuan Berbahasa Indonesia Anak-anak Perbatasan NKRI Kabupaten Malaka Provinsi NTT.

Gaung kegiatan itu sebenarnya sudah saya dengar sejak lama; sejak pengumuman awal proposal itu masuk dalam seleksi tahap kedua oleh Pertamina Foundation sebagai penyelenggara “Proyek Sosial Program PFmuda 2021”.

Proposal itu diprakarsai dan disiapkan oleh para founder Yaspensi yang bisa kita julukan sebagai 3-R: Riang Seong sebagai ketua tim; Robertus Elyakim Lahok Bau sebagai anggota; dan Robertus Fahik sebagai mentor.

Nyaris hanya mereka bertiga yang mengurusi pengusulan program tersebut kepada Pertamina Foundation sebagai pihak pemberi dana. Tapi begitu dinyatakan layak mendapatkan dana setelah diseleksi dan bersaing dengan 2056 pengusul lainnya, tokoh 3-R itu tetap melibatkan kami sebagai bagian dari keluarga besar Yaspensi.

“Hananu itu aktivitas yang disukai semua orang,” jelas Kae Rian ketika kami istirahat makan di Kolbano, “makanya kita gunakan ‘Hananu’ itu sebagai metode atau media pembelajaran untuk anak-anak di perbatasan Malaka sana, untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.”

“Siapa yang tidak suka menyanyi, Om?” Lanjut Kae Rian. “Ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari Hananu itu; dari kegiatan menyanyi.”

Menurut Kae Rian, pilihan lokasi kegiatan di Malaka sebagai daerah perbatasan juga memiliki pertimbangan khusus.

Ketika mereka merancang proposal sejak awal, Kaka Robertus Fahik sebagai mentor sekaligus putra asli Malaka telah merumuskan masalah-masalah di daerah perbatasan tersebut.

Salah satunya berkaitan dengan penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Kalau tidak diperhatikan sejak dini, ada ketakutan akan terjadi penurunan rasa nasionalisme.

Karena itu, ide ‘hananu’ untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia itu ditawarkan. Selama proses seleksi, Kae Rian mengakui mendapatkan banyak pertanyaan dari pemberi dana.

“Mereka sepertinya kurang yakin dengan program kami ini,” kenang Kae Rian.

Tetapi setelah diyakinkan dengan menggambar secara detail kondisi di lapangan, lalu penjabaran mengenai solusi yang ditawarkan, pada akhirnya Pertamina Foundation setuju.

Setelah disetujui, tim Yaspensi melakukan kordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait lainnya. Ternyata mereka sangat mendukung dan mengapresiasi inisiasi positif yang telah dilakukan Yaspensi.

Kepala Badan Pengelolaan Pertabatasan Daerah (BPPD) Provinsi NTT, Bapak Drs. Petrus Seran Tahuk, mengapresiasi program kerja Yaspensi yang telah mendukung tupoksi pemerintah.

Bapak Syaiful Bahri Lubis, S.S., M.A., sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT ikut mendukung program Yaspensi tersebut. “Jadi ini adalah capaian luar biasa teman-teman Yaspensi,” kata Pak Syaiful yang telah dirilis di media sekolahtimur.com ini.

Masih banyak lagi pihak yang mendukung kegiatan “Hananu di Batas Negeri” ini. Mulai dari pemerintah Provinsi NTT secara umum maupun Pemkab Malaka secara khusus, pihak pemerhati budaya, seniman, pegiat literasi, dan pihak lainnya.

* * *

Setelah makan siang, kami singgah sebentar di salah satu spot foto yang berlatarkan panorama indah pantai Kolbano. Nona Malaka rela turun dari mobil dan sedikit berjemur di bawah terik matahari, demi kami yang ingin berfoto.

Kondisi jalan dari Kolbano menuju Malaka terbilang sangat menantang. Banyak tikungan tajam. Setelah menanjak, langsung dibalas jalan yang curam. Tapi pemandangan ke arah laut selatan yang biru dan pantai putih, semuanya bikin perjalanan menyenangkan.

Dan hal yang lebih menyenangkan lagi; hal yang membuat perjalanan jauh menjadi tidak terasa, kami ber-‘hananu’ sepanjang jalan. Kami ikut bernyanyi mengikuti lagu-lagu dari pemutar musik di mobil.

Meski suara pas-pasan, kami tetap ‘hananu’ dengan riang gembira. Kami juga hanya ‘tepa’ pada lirik-lirik tertentu.

Nona Timor memang tidak terdengar suaranya. Tapi dari kaca spion tengah, saya bisa melihat dengan jelas liukan bibirnya mengikuti lirik lagu.

Hananu memang tidak terlepas dari hidup. Tiap hari kita hananu. Dan kami, Yaspensi, akan menggunakan hananu sebagai metode belajar bagi anak-anak di Malaka. Bagaimana hananu itu dijalankan esok oleh Yaspensi? Tunggu kisah #JalanPagi selanjutnya di sini. (Saverinus Suhardin/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here