Berani Berdialog

0
97
Oleh Albertus Muda, S.Ag., Penyuluh Agama Katolik Non-PNS Kab. Lembata, NTT.

Seringkali kita menjumpai seseorang menyatakan cintanya dalam diam. Mungkin mereka berpikir diam bisa menjadi sebuah simbol mengungkapkan cinta. Padahal cara demikian terkesan monolog dan introvert bahkan sangat eksklusif. Namun demikian, kita mesti akui bahwa cara yang demikian kerap kita jumpai.

Sangat diharapkan agar setiap orang dapat mengungkapkan cinta secara terbuka, lugas dan simpel. Simbol memang penting. Misalnya, lewat bunga atau kado beraneka macam. Tetapi, tindakan konkrit untuk dialami secara timbal balik (mutual) menjadi lebih penting. Dalam konteks kearifan lokal, seorang pria atau wanita dapat saling berkomunikasi lewat berbalas pantun.

Diam bukan solusi menyelesaikan persoalan. Sebab dengannya, akan memicu pergulatan batin yang hebat. Jawaban yang kita dapatkan, bisa “ya” bisa “tidak”. Oleh sebab itu, setiap rasa personal yang mengarah kepada rasa cinta antardua pribadi yang berlainan jenis kelamin, mesti diungkapkan. Cinta mesti dikomunikasikan. Dengan dialog akan sangat membantu menemui jalan keluar.

Jujur Berkomunikasi

Dalam relasi antarpribadi, hal terpenting yang perlu dibangun adalah komunikasi. Komunikasi yang dibangun bukan sekedar say hello. Komunikasi perlu dihindari dari sikap egoistik bahkan eksploitatif. Komunikasi yang diharapkan adalah sebuah dialog antarpribadi yang yang dibangun dengan jujur dan transparan tanpa alasan yang tidak masuk akal.

F. X. Prajasuta dalam bukunya “Mutu Hidup” (2004: 42) mengatakan, membangun sebuah hubungan yang sehat dibutuhkan adanya komunikasi yang jujur, meskipun dapat menyakitkan atau menakutkan. Kita harus jujur mengatakan siapa kita sesungguhnya. Kita juga berharap orang lain menerima kita, seperti apa adanya kita. Pada akhirnya, jika tidak sesuai yang kita harapkan, tidak perlu menjadi sebuah problem yang sulit diurai.

Dengan demikian, menjadi semakin jelas bahwa diam yang diambil antara dua pihak yang dari kedalaman diri masing-masing memiliki perasaan cinta, bukan sikap yang tepat memahami satu sama lain. Dialog yang jujur antara kedua belah pihak, mutlak dibutuhkan. Apa pun hasil yang didapat, mesti diterima sebagai konsekuensi dari sebuah proses dialog.

Hanya ada dua sikap. Pertama, saling terbuka menerima satu sama lain. Kedua, mengambil sikap keberatan atau menolak. Akan tetapi, akan lebih elegan dan santun, jika masing-masing saling terbuka satu dengan yang lain. Keterbukaan merupakan pintu untuk mengetahui rahasia di balik pergumulan yang sekian lama dinantikan dalam sikap saling mendiamkan.

Sebuah komunikasi dikatakan bermutu, apabila dibangun secara intens dari waktu ke waktu secara terbuka dan jujur. Selain itu, setiap niat hati dari kedua belah pihak, hendaknya dikatakan apa adanya agar kedua belah pihak saling memahami secara timbal balik. Lebih dari itu, adanya kesediaan untuk saling memperbaiki dan saling memaafkan sebagai upaya saling menempah diri dan belajar.

Berani Terbuka

Kerap kita jumpai bahwa antara dua pribadi yang saling mencintai, kadang kala mereka saling mendiamkan. Dengan sikap demikian, masing-masing menguras energi dengan saling memikirkan, kapan Si A menyatakan cinta, begitu pun sebaliknya Si B. Saling menunggu  tanpa berinisiatif mengatakan sepata kata pun, bukanlah sikap yang ideal. Sikap itu justru menimbulkan tanda tanya satu sama lain.

Membuka diri dan berani mengatakan apa adanya, merupakan sikap yang tepat. Dengan demikian, kita membiarkan diri dijajaki dan dikenal secara lebih mendalam, termasuk kelebihan dan kelemahan yang kita miliki. Dan mesti disadari bahwa tidak setiap orang menerima kita apa adanya sehingga kerap dialami adalah penolakan yang menyakitkan.

Kondisi yang kerap muncul dalam proses membangun relasi antara kedua person berlainan jenis, kerap berlatar belakang masa lalu. Misalnya, ketika orang tua kita memberikan tuntutan dan syarat yang tidak sejalan dengan kemampuan personal kita. Kita merasakan semacam ada sekat atau tembok yang sulit kita robohkan untuk mengungkapkan perasaan kita sesungguhnya.

Maka, salah satu faktor penghambat seperti pengalaman ditolak, takut dinilai negatif, takut ribut, tipe kepribadian, pria atau wanita mesti didialogkan. Masing-masing mesti saling terbuka satu sama lain (Paul Subiyanto, Berani Berdialog, 2004: 14-17). Faktor-faktor penghambat ini mesti dinyatakan secara terbuka, agar diketahui kedua belah pihak.

Membuka diri saling mendengarkan bahkan bersedia menerima resiko yang akan terjadi mesti berani dilakukan. Setiap person mesti saling menjaga perasaan masing-masing. Jika saling mencintai, tunggu apa lagi. Kenapa mesti saling mendiamkan bahkan tidak berani terbuka. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif-soliter. Berani menjadi pribadi yang inklusif-terbuka.

Salah satu wujud konkret membangun dialog antarpribadi adalah saling mendengarkan. Sebuah sikap yang semakin mahal didapatkan, ketika semakin banyak orang membutuhkannya. Menurut Paus Fransiskus, mendengarkan bukan sebatas fisik lahiriah tetapi secara rohaniah yakni dengan hati. Mendengarkan dengan hati memungkinkan para pihak yang berkomunikasi mengalami sentuhan dan kehadiran yang ilahi.

Komunukasi antarpribadi mesti bersifat dialogal bukan monologal. Setiap pribadi yang hendak berkomunikasi mestinya membuka diri saling menyapa. Hendaknya saling membiarkan diri mendengarkan, berbicara dan menanggapi seperlunya. Sebuah dialog yang baik dan jujur mesti dilandasi sikap saling mendengarkan secara timbal balik. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here