Cerita Anak // Persahabatan Seperti Menara

0
134
Ilustrasi. (ggwp.id)

Fira dan Nike adalah dua sahabat. Mereka saling memahami satu sama lainnya. Tak pernah mereka saling menyembunyikan apapun ketika mengalami suatu masalah.

Fira adalah anak dari latar belakang keluarga pas-pasan sementara Nike adalah anak dari keluarga kaya. Namun hal  itu tidak membatasi pergaulan mereka. Semua orang yang melihat persahabatan mereka menjadi iri dan ingin menghancurkan persahabatan mereka.

Pagi itu saat berada di kampus, ada seorang teman bernama Ayu yang tidak suka melihat persahabatan antara Fira dan Nike. Ia menghalalkan segala cara untuk menghancurkan persahabatan yang terjalin erat di antara mereka. Ayu mulai menghasut Nike sehingga timbul kebencian di hati Nike terhadap Fira.

“Ni, ada yang ingin aku katakan tentang Fira.”

“Apa maksudmu, emangnya ada apa dengan Fira?”

“Oh… Jadi kamu belum tahu ya?

“Katakan saja, jangan suka berbelit-belit.”

“Baiklah, aku akan mengatakannya. Kenapa kamu mau bersahabat dengan Fira, anak miskin itu. Dia kan suka mencuri uang teman-teman. Yang namanya miskin selamanya akan tetap miskin. Apa kamu tidak malu kalau sampai orang tuamu mengetahui kamu bergaul dengan orang miskin?”

“Cukup. Jangan kamu katakan sesuatu tanpa bukti. Tidak mungkin Fira seperti itu.”

“Kurang bukti apalagi untuk buat kamu percaya kalau Fira benar-benar telah mencuri. Kalau kamu tidak percaya dengan ucapanku sekarang buka saja tasnya Fira pasti kamu akan menemukan sesuatu.”

Untuk membuktikan perkataannya Ayu, Nike membuka tas Fira saat Fira tak berada di ruang kelas. Nike membuka tasnya Fira dan menemukan banyak dompet di dalam tas itu. Sebelumnya Ayu terlebih dahulu menjebak Fira dengan cara memasukan dompet teman-teman ke dalam tas Fira sehingga Nike percaya kalau Fira telah mencuri.

“Astaga, ini tak mungkin.”

“Apa yang tak mungkin Ni, sudah jelas kamu melihat banyak dompet di dalam tasnya Fira.”

“Aku tak menyangka ternyata Fira seorang pencuri.”

“Sudahlah, Ni. Mendingan saat ini juga kamu putuskan saja hubungan persahabatanmu dengan Fira.”

“Iya, Ayu.”

Ayu merasa misinya untuk memisahkan kedua sahabat itu berhasil.

“Akhirnya aku berhasil juga menghancurkan persahabatan Nike dan Fira. Ternyata sangatlah mudah. Aku merasa senang jika mereka berdua hancur dan saling membenci,” gumamnya.

Keesokan harinya saat berangkat kuliah Fira merasa ada yang berbeda dengan sikap Nike terhadapnya. Nike bersikap dingin dan ia berjalan tanpa menegur Fira. Nike justru menggandeng Ayu, bukan menggandeng Fira.

“Ni, tunggu!”

“Maaf, aku buru-buru. Aku tidak ada waktu untuk bicara sama seorang pencuri.”

“Apa maksudmu dengan pencuri?” Fira angkat bicara.

“Hei, sudahlah, mengaku saja kalau kamu memang pencuri kan? Aku sendiri melihat banyak dompet di dalam tasmu saat kamu tak berada di dalam kelas.”

“Teganya kamu menuduh aku seperti itu, Ni? Kita sudah bersahabat sejak lama tapi kenapa kamu bisa berpikir buruk tentang diriku.“

“Jujur saja sama aku, Fira. Kalau kamu butuh uang kenapa kamu tidak bilang sama aku sampai kamu mencuri uang teman-teman?”

“Dengar Ni, Aku memang miskin tapi aku bukan seorang pencuri. Orang tuaku tak pernah mengajari aku untuk mencuri. Aku tahu bahwa aku sudah dijebak sama orang yang tidak suka melihat persahabatan kita utuh.”

“Apa maksudmu dengan jebakan?”

“Ada yang menjebakku supaya aku kelihatan buruk di matamu dan kamu membenciku”

“Siapa, Fira?”

“Orang itu dekat dengan kamu sekarang. Kamu saja yang terlambat menyadarinya.”

“Ayu, maksudmu?”

“Iya, memang benar dia yang menjebakku.”

Mendengar pengakuan Fira membuat Ayu marah karena merasa telah menuduhnya.

“Stop, Fira. Janganlah kamu menuduhku sembarangan.”

“Jangan mengelak lagi, Ayu. Sudah jelas kamu yang menjebakku. Siapa yang tak tahu dengan kelicikanmu. Dari awal aku sudah mencurigai kamu.“

“Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan Fira. Dari mana kamu bisa berpikir aku menjebakmu?”

“Aku melihat saat kamu meminta dompet teman-teman lalu kamu masuk ke kelas dan membuka tasku dan memasukan dompet itu ke dalam tas sehingga akulah yang dianggap telah mencuri. Siapa yang tidak tahu dengan rencana busukmu itu. Jadi lebih baik kamu mengatakan yang sebenarnya. Gara-gara perbuatan kamu ini hubungan persahabatan aku dengan Nike hampir saja hancur.”

“Iya, iya. Memang akulah yang merencanakan semuanya itu. Aku iri melihat persahabatan kalian. Aku ingin menghancurkan persahabatan kalian.”

“Oh, jadi selama ini kamu telah menghasutku, Ayu? Nike angkat bicara.

“Iya, Ni. Maafkanlah aku karena aku khilaf.”

“Enak saja kamu minta maaf setelah apa yang kamu perbuat.”

“Aku tahu, aku sudah salah. Aku menyesal dan tidak akan mengganggu kalian lagi.”

“Baiklah, tapi aku mau kamu sekarang juga meminta maaf kepada Fira.”

“Iya, Ni. Ayu menyesal.”

Ayu meminta maaf maaf kepada Fira karena sudah menjebak dan menuduh Fira yang bukan-bukan.

“Fira, Aku mau minta maaf sama kamu. Aku tahu bahwa perbuatan aku selama ini tidak pantas untuk kamu maafkan. Tapi aku benar-benar menyesali semua sikapku ini. Aku berjanji bahwa mulai saat ini aku tidak akan mengulangi perbuatanku dan tidak akan merusak hubungan persahabatan kalian lagi. Maukah kamu memaafkanku?

“Iya, aku memaafkanmu. Tapi aku berharap kamu jangan ulangi lagi perbuatanmu itu.”

Tidak hanya Ayu yang meminta maaf, Nike pun turut meminta maaf kepada Fira karena sudah menuduh Fira mencuri tanpa mencari tahu bukti yang sesunggguhnya.

“Fira, maafkanlah aku karena aku tidak mempercayai kejujuranmu. Aku telah termakan hasutan Ayu yang penuh muslihat.”

“Iya, Ni. Aku sudah memaafkanmu, kok. Aku percaya bahwa kamu adalah sahabat terbaik yang aku miliki. Tidak mungkin kamu secepat itu berubah.”

“Makasih ya, kamu adalah sahabat yang pengertian.”

“Kamu harus tetap percaya bahwa apapun yang akan terjadi persahabatan kita akan seperti menara yang akan terus berdiri tegak”.

Persahabatan Nike dan Fira pun kembali membaik setelah masalah datang menghadang kedua sahabat itu. Masalah bukan membuat mereka berpisah melainkan menjadikan persahabatan mereka semakin kuat seperti menara yang terus berdiri kokoh meski diterjang oleh badai sekalipun. (*)      

Oleh Erliana M. M. Tjiputra, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 7 Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here