Berliterasi Seperti Kesenangan Berfoto dan Bercermin

0
142
Oleh Yohanes Sangario Bataona, S.Fil., Wartawan SekolahTimur.com, Anggota Divisi Kepustakaan Yaspensi.

Membaca atau pun mendengar judul tulisan di atas rupanya agak berlebihan dan sepertinya sangat mudah menyederhanakan praktik-praktik berliterasi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, berhadapan dengan kenyataan saat ini terasa sulit, dimana sekolah-sekolah berupaya keras menyalin program-program literasi yang dikumandangkan oleh Kemendikbudristek untuk membumikannya pada jam pelajaran sekolah.

Geliat literasi ini dapat ditelusuri melalui kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh sekolah agar menyediakan waktu 30 menit sebelum dimulainya proses belajar-mengajar sebagai jam berliterasi. Tak hanya sampai di situ, kegigihan untuk membudidayakan literasi bagi peserta didik berlanjut pada penyediaan ruang baca yang memadai, dicat dengan warna-warni dan juga dihiasi dengan miniatur-miniatur serta gambar-gambar karikatur demi menarik minat baca dari peserta didik. Di sisi lain, terjadi aksi perburuan dan saling kejar-mengejar antarsekolah untuk mendapakan berbagai jenis buku agar menambah pundi-pundi bahan bacaan, yang nantinya dapat menjawabi semua hasrat keingintahuan peserta didik.

Akan tetapi, tak semua jalan itu lurus. Tidak semua rencana itu berjalan dengan mulus. Niat tulus itu tak terbalas, bagai cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bagaimana tidak? anak-anak cepat merasa bosan dan menganggap kalau berliterasi itu tidak menarik sama sekali untuk dilakukan. Yang menyenangkan bagi mereka adalah menghabiskan waktu berjam-jam dengan bermain hanphone di dalam kelas daripada membaca buku, koran, novel, buku mata pelajaran atau menyimak penjelasan guru saat jam pelajaran berlangsung.

Parahnya lagi, menjaringnya pandemi Covid-19 berbuntut pada proses pembelajaran yang harus dilakukan dari rumah. Anak semakin tak terkendali. Orang tua lebih susah lagi. Mereka bukan guru, sebab pendidikan anak dianggap sudah diserahkan kepada sekolah. Sekolah bertanggung jawab penuh atas naik dan turunya mutu pendidikan anak.

Meneropong situasi di atas, muncul beragam pertanyaan mengenai langkah apa yang perlu diambil untuk membudayakan literasi? Atau bagaimanakah para pengiat literasi di tengah masyarakat menerapkan model literasi yang cocok untuk anak-anak di era digitalisasi ini? Mungkin juga pertanyaan terkait judul tulisan ini, begitu sederhanakah kesenangan berliterasi itu seperti berdiri di depan cermin dan berfoto?

Awal Berliterasi, Ada di Dekat

Pada bagian ini, saya coba menguraikan pandangan saya mengenai hubungan antara awal berliterasi dengan pengalaman-pengalaman yang ada di dekat kita, yang kita alami setiap hari, baik itu di rumah, di tengah masyarakat maupun di sekolah. Pandangan ini, bukan dimaksudkan untuk menjelaskan secara terperinci akan keutaman-keutaman dalam berliterasi, melainkan membangun kesadaran kita bahwa di mana dan kapan saja, keberadaan kita adalah literasi itu sendiri.

Mari sisikan sedikit perhatian pada konsep Epistemologi (pengetahuan). Dalam telaah filosofis Epistemologi/ Episteme (Yunani), disajikan perdebatan mengenai cara seseorang memperoleh sebuah pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh melalui dua jalan yakni Empiris (pengalaman) dan Rasio (akal budi). Namun, alangkah baiknya fokus perhatian kita membahas soal jalan pengetahuan yang didapat melalui pengalaman.

Setiap pengetahuan diawali dengan pengalaman sebagai keseluruhan peristiwa perjumpaan dan apa yang terjadi pada manusia dalam interaksinya dengan alam, diri sendiri, lingkungan sosial dan seluruh kenyataan termasuk dengan yang Ilahi (Nobert Jegalus). Demikian, dapat disandingkan dengan pengalaman yang dialami oleh manusia baik itu yang dilihat, didengar, diraba dan dirasakan merupakan awal atau sumber segala pengetahuan. Selaras dengan konsep ini, cara seseorang mulai berliterasi dari apa yang dilihatnya (dibaca), didengar dan ditulisnya, selalu bertalian erat dengan apa yang dialami dan dekat dengannya.

Merujuk pada konsep pengalaman sebagai awal berliterasi, saya akan membagikan sedikit pengalaman saat mendampingi anak-anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam sebuah program Kelas Menulis. Dalam temuan ini, ternyata ada hal yang paling lazim ditemui ketika meminta untuk menulis apa saja yang ingin mereka tulis.

Ternyata, sebagian besar anak mampu untuk menulis apa yang ada dipikirannya maupun pengalaman rasa senang mereka saat bersama keluarga, terlebih ketika mendapat hadiah dari orang tuannya. Dan sebaliknya, menjadi sulit bagi mereka untuk menulis dari tema-tema yang disodorkan, bahkan yang tidak pernah dialami.

Dari sini saya memahami bahwa anak-anak merekam dengan baik peristiwa yang dialami, apalagi pengalaman yang menyenangkan bagi mereka bersama orang tua dan keluarga. Tentunya dari perjumpaan dengan peristiwa-peristiwa itulah, anak-anak bisa belajar, bercerita, dan menulisnya dengan baik.

Pada akhirnya saya membuat sebuah hipotesa sederhana, bahwa berliterasi itu harus di mulai dengan apa yang kita alami setiap hari dan itulah yang paling kita senangi. Saya pun berliterasi dalam pengalaman perjumpaan dengan anak-anak itu.

Literasi Seperti Senang Berfoto dan Bercermin

Seperti halnya sebuah batu yang dilepar ke dalam air yang teduh. Tempat batu itu jatuh, membentuk lingkaran gelombang, dari lingkaran yang kecil sampai lingkaran yang paling besar. Coba perhatikan, gelombang yang dihasilkan di dekat batu, begitu besar dan kuat, ketika lingkarannya makin membesar dan menjauh dari titik dimana batu itu jatuh, maka gelombangnya pun akan semakin kecil dan lemah.

Analogi ini kiranya dapat menggambarkan situasi di era digitalisasi ini, yang mana di dalamnya membawa serta kemajuan dan subjektivitas. Kemajuan, karena dirangsang oleh perkembangan teknologi, pengetahuan dan informasi yang selalu merujuk pada hal-hal bernada subjektif. Singkatnya, hampir segala orientasi hidup manusia selalu mengarah kepada kepentingannya sendiri.

Kesenangan berfoto dan bercermin merupakan fenomena yang paling sering nampak, bahkan menjadi rutinitas yang wajib dilakukan setiap harinya. Apalagi, aktor dalam pementasan di abad ini melibatkan semua golongan masyarakat, dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa pun beradu dengan ekspresi dan gaya yang bervariasi, agar terlihat semenarik mungkin. Hasrat dan kepuasan seperti inilah, yang dicari-cari dan ingin dicapai oleh manusia-manusia sekarang ini.

Fakta ini, harus menjadi rambu-rambu sekaligus membuka pemahaman baru bagi dunia pendidikan yang sementara mengarahkan busur literasinya agar tertancap pada semua satuan pendidikan di bangsa ini. Penyesuaian terhadap gejolak yang muncul di permukaan seperti kesenangan dalam berfoto dan bercermin, hemat saya, adalah alternatif terbaik untuk meluruskan kembali roda mutu pendidikan generasi bangsa ini ke relnya, agar tidak mudah dibelokkan oleh kesenangan dan kenikmatan semu yang ditawarkan oleh zaman.

Dengan demikian, berfoto dan bercemin sebagai proyeksi era digitalisai dapat ditransisi dan dimodifikasi sebagai sebuah model dalam berliterasi. Ini juga bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pendidikan yang kreatif dan searah dengan perkembangan zaman. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here