Dinas PK TTS Gelar Lomba Cerita Rakyat Berbahasa Daerah, Ini Harapan Sekda TTS

0
737
Peserta dan panitia Lomba Cerita Rakyat Bahasa Dawan (Uab Meto) pose bersama Sekda Kabupaten TTS.

TTS, SEKOLAHTIMUR.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melalui Bidang Kebudayaan menggelar Lomba Cerita Rakyat menggunakan bahasa Dawan (Uab Meto) bagi peserta didik jenjang SD dan SMP se-Kecamatan Kota Soe dan sekitarnya. Kegiatan yang berlangsung di aula SMP Negeri 3 Soe pada Selasa – Rabu, 28 – 29 Juni 2022 itu dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten TTS, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si.

Dalam sambutannya, Edison Sipa memberikan apresiasi kepada Dinas PK Kabupaten TTS yang telah menggelar lomba cerita rakyat bagi para peserta didik dengan menggunakan bahasa daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya melestarikan bahasa daerah.

“Pemerintah memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui Bidang Bebudayaan yang telah melakukan sebuah kegiatan yang sangat penting terkait dengan budaya yang ada di Kabupaten TTS ini terutama dalam upaya meningkatkan atau melestarikan bahasa Dawan atau Uab Meto bagi para peserta didik. Kegiatan ini juga memotivasi kita untuk terus menjaga dan melestarikan bahasa Dawan atau Uab Meto karena bahasa Dawan merupakan suatu kekayaan dan keunikan tersendiri,” ungkapnya.

Edison Sipa juga berharap agar bahasa Dawan (Uab Meto) harus tetap dipertahankan dan dijadikan sebagai pengantar dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Terkait hal ini, Pemerintah Kabupaten TTS memberikan dukungan penuh dengan mengeluarkan surat resmi.

Sekda Kabupaten TTS, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si.

“Untuk menjaga kelestarian budaya dalam hal ini Uab Meto, Pemerintah Daerah Kabupaten TTS juga telah mengeluarkan surat edaran kepada semua satuan pendidikan yang ada di Kabupaten TTS baik di jenjang TK/PAUD, SD dan SMP, tapi belum dimaksimalkan. Karena itu harus memulai, jika tidak maka generasi milenial kita ini akan kesulitan berkomunikasi jika menggunakan bahasa dawan atau Uab Meto. Berdasarkan surat edaran yang telah dikeluarkan yaitu setiap hari Selasa dan Jumat menggunakan pakaian adat daerah, diharapkan agar jangan saja pakaian adat yang dikenakan tapi minimal dalam komunikasi juga menggunakan Uab Meto,” jelasnya.

Kepala Dinas PK Kabupaten TTS, Dominggus J. O. Banunaek, S.E., M.Si., kepada media ini menyampaikan bahwa perkembangan teknologi yang pesat menuntut semua pihak untuk mempertahankan nilai-nilai budaya. Khusus di Kabupaten TTS, terdapat adat istiadat, seni tari, cerita rakyat, dan juga bahasa daerah yang perlu dilestarikan.

“Kita semua tahu bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budaya, karena itu sebagai unsur pemerintahan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, kami terus  berupaya untuk menggali serta meningkatkan nilai-nilai kebudayaan yang ada baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud sehingga tidak tergilas dengan perkembangan teknologi,” tuturnya.

Dominggus juga menyampaikan bahwa bahasa Dawan (Uab Meto) telah dirancang agar masuk dalam kurikulum muatan lokal. Hal itu telah didiskusikan dengan para pemerhati pendidikan di Kabupaten TTS, termasuk para pengawas.

“Badan Pengurus PGRI Kabupaten TTS juga sangat mendukung agar Uab Meto masuk dalam kurikulum khususnya pada muatan lokal dengan tujuan agar Uab Meto ini tetap dilestarikan karena sesungguhnya Uab Meto merupakan identitas diri kita serta keunikan tersendiri. Hal ini juga searah dengan kurikulum merdeka yang mana mengarahkan para peserta didik untuk mengenal lingkungan serta nilai-nilai budaya untuk terus dilestarikan,” tandasnya.

Kadis PK dan Kabid Kebudayaan Dinas PK Kabupaten TTS.

Sementara Kepala Bidang Kebudayaan Dinas PK Kabupaten TTS, Okran Y. Betty, menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta didik serta kesadaran mereka terkait pentingnya bahasa daerah.

“Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti sekarang ini tak bisa dipungkiri bahwa bahasa daerah atau Uab Meto ini kian hari makin terkuras. Karena itu kami khususnya di bidang teknis tentang kebudayaan ini punya tanggung jawab yang perlu menyikapi persoalan ini. Karena itu kegiatan Lomba Cerita Rakyat menggunakan Uab Meto ini digelar dengan harapan bahwa eksistensi Uab Meto ini terus dilestarikan agar jangan punah suatu saat nanti,” terangnya.

Okran juga menyampaikan bahwa Lomba Cerita Rakyat menggunakan bahasa Dawan (Uab Meto) ini baru pertama kali digelar. Dalam kegiatan perdana ini, peserta yang dilibatkan yakni peserta didik jenjang SD dan SMP khususnya di Kecamatan Kota Soe dan kecamatan terdekat seperti Mollo Selatan dan Amanuban Barat.

Dirinya berharap agar ke depan ada perhatian anggaran khusus bagi bidang kebudayaan sehingga kegiatan serupa terus dikembangkan.

“Bukan hanya pada lomba cerita rakyat saja, tetapi ada ‘Natoni,’ tarian tradisional, dan hal lain demi pelestarian budaya daerah Kabupaten TTS agar nilai-nilai budaya yang ada tetap terjaga,” pungkasnya. (Lenzho Asbanu/ rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here