Adakah Cinta Setelah Berhenti Mencintai? (Menyelisik “Catatan Malam dan Pagi” Karya R. Fahik)

0
461
Oleh E. Nong Yonson, Penulis “Dosa Sang Penyair”, Presiden KSK, Fasilitator Yaspensi.

Jawaban atas pertanyaan pada judul tulisan ini, seperti mengajak siapa pun bukan untuk berbicara jujur, melainkan memberikan ruang pada kejujuran untuk berbicara melalui dirinya. Sebab ujian tersulit dari sebuah pilihan rasa adalah mengakhiri sesuatu yang belum seutuhnya usai. Apakah kamu sedang bergulat dengan tanya ini? Adakah cinta setelah berhenti mencintai?

Aristoteles, seorang filsuf ternama pun pernah berucap bahwa puisi lebih baik dan lebih filosofis dari sejarah, karena puisi mencurahkan seluruh alam semesta, di mana sejarah hanya menceritakan sebagiannya. Hal ini tidak sedang menunjukkan dikotomi disiplin ilmu. Namun, memperkenalkan keistimewaan-keistimewaan yang mungkin saja berpotensi tidak diperhitungkan. Kejahatan seperti apa yang tercipta apabila puisi tidak diperhitungkan keistimewaannya?

Pertanyaan adakah cinta setelah berhenti mencintai terendap dalam dua puisi karya R. Fahik dalam buku antologinya “Senja Hitam dan Ayahku”. Kedua puisi itu diberi nama “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi”. Kita perlu tahu, puisi merupakan salah satu genre sastra yang memiliki bentuk yang khas, unik, dan lazim menggunakan bahasa yang relatif lebih padat dan lebih stabil daripada genre sastra lainnya (Sambodja, 2007: 128).

Kedua puisi R. Fahik ini, seperti menggiring saya untuk menyelisiknya dengan pendekatan didaktis. Pendekatan ini merupakan sebuah usaha untuk menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif, maupun sikap pengarang terhadap kehidupan (Aminuddin, 2010: 48). Implementasi pendekatan ini diawali dengan upaya pemahaman satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu cipta sastra, berupa tuturan eskpresif, komentar, dialog, lakuan, maupun deskripsi peristiwa dari pengarang atau penyairnya. “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi” begitu sarat akan tuturan ekspresif, dialog, dan deskripsi peristiwa pengarangnya.

Menyelisik Catatan Malam dan Catatan Pagi

Catatan Malam

Akankah jejakku masih membekas

Dalam lembar kenanganmu?

Malam telah datang

Membingkai sunyi-sepi ruang jiwaku

Biarlah dalam sunyi aku mengenangmu

Biarlah dalam sepi aku merindukanmu

(Kupang, 31 Desember 2019)

Catatan Pagi

Akankah jejakku masih membekas

Dalam lembar kenanganmu?

Pagi telah datang

Dengan semarak kembang api

Mengusir sunyi

Menyibak sepi

(Kupang, 1 Januari 2020)

Hal yang menarik dan unik dari setiap karya puisi terletak pada diksi, isi, dan momentum. Kekaguman saya untuk membaca kedua puisi R. Fahik ini justru bermula pada momentum penciptaan puisinya. Puisi pertama “Catatan Malam” ditulis pada tanggal 31 Desember 2019, dan “Catatan Pagi” pada tanggal 1 Januari 2020.  

Tanggal 31 Desember identik dengan tutup tahun dan 1 Januari disebut awal yang baru. Kedua puisi ini berada pada akhir dan awal. Pertanyaan yang muncul adalah apa yang diakhiri dan apa yang akan diawali sebagai sesuatu yang baru?  

Setelah bergulat dengan uniknya momentum yang diendapkan R. Fahik pada 31 Desember dalam “Catatan Malam” dan 1 Januari dalam “Catatan Pagi”, saya menemukan jawaban tentang hal apa yang sebenarnya ingin diakhiri dan hal apa yang sesungguhnya hendak dijadikan sebagai awal yang baru. Ternyata, kedua hal itu adalah hal yang sama. Ibarat mata uang logam, berbeda sisi tetapi tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.

Kedua hal yang sama itu berada pada dua larik awal kedua puisi itu, yaitu “Akankah jejakku masih membekas. Dalam lembar kenanganmu?” Aroma dilematisnya sangat tajam pada kedua larik ini. Sebab pada satu sisi, seseorang ditempatkan pada pilihan untuk mengakhiri, tetapi pada sisi lain, seseorang terdorong untuk memulai dan membarukan lagi pilihan yang sama. Uniknya, dilema itu berada, bergelora, dan berperang dalam waktu yang singkat, yaitu malam dan pagi dalam sebuah catatan.

Membaca Tuturan Ekspresif, Dialog, dan Deskripsi Peristiwa Pengarangnya

Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam Sambodja, 2007: 79) salah satu ukuran sebuah karya sastra itu bagus adalah jika pembaca bisa membacanya dari awal hingga akhir dengan cepat dan tak tersiksa. Meskipun sarat akan tuturan ekspresif, dialog batin, dan deskripsi peristiwa pengarang, membaca “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi” tidak terkesan sulit dan tersiksa. Pembaca justru digiring untuk berada sebagai subjek kedua puisi itu dalam deskripsi peristiwanya sendiri.

Tuturan Ekspresif dalam Catatan Malam dan Catatan Pagi

Seperti sudah saya singgung pada bagian sebelumnya, kedua puisi ini seperti sedang menuturkan ekspresi yang problematis. “Akankah jejakku masih membekas. Dalam lembar kenanganmu?” Adalah persoalan tentang eksistensi sebuah harapan. Ekspresi yang diperlihatkan dari kedua larik pada kedua puisi itu, menggambarkan keraguan, kegelisahan, dan pesimistis.

Diksi yang menjadi awal pada larik pertama kedua puisi itu bukan kata tanya “apakah” melainkan “akankah”. Pertanyaan “apakah” menempatkan seseorang sebagai sasaran utamanya. Sedangkan, pertanyaan “akankah” menempatkan waktu sebagai titik utama persoalannya. Sehingga, keraguan, kegelisahan, dan pesimistis tokoh “aku” dalam kedua puisi itu bukan pada seseorang melainkan pada waktu.

Selain persoalan waktu, “aku” pada kedua puisi itu pun seolah-olah mengedapkan sebuah tanya di balik pertanyaan “Akankah jejakku masih membekas. Dalam lembar kenanganmu?” Tanya itu adalah “Adakah cinta setelah berhenti mencintai?” untuk menjawab tanya yang diendapkan ini, kita mesti memahami dialog “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi”.

Dialog antara “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi”

Jelas tersurat dan tersirat bahwa, “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi” adalah sebuah dialog waktu yang menempatkan keraguan dan kegelisahan sebagai partner dialog itu. Keraguan ada pada “Catatan Malam”, sedangkan kegelisahan ada pada “Catatan Pagi”. Mari kita cermati dialog keduanya berikut ini.

Malam telah datang, pagi telah datang

Membingkai sunyi-sepi ruang jiwaku, dengan semarak kembang api

Biarlah dalam sunyi aku mengenangmu, untuk mengusir sunyi

Biarlah dalam sepi aku merindukanmu, untuk menyibak tirai

R. Fahik memang secara sengaja meramu kontemplasinya dalam bentuk dialog dari kedua puisi itu. Buktinya, ketika dipadupadankan setiap larik dari kedua puisi itu, seolah-solah sedang berdialog pada sebuah panggung peristiwa. Entah itu sebagai pelengkap seperti Membiangkai sunyi-sepi ruang jiwaku, dengan semarak kembang api atau pun saling mengisi seperti Biarlah dalam sunyi aku mengenangmu, untuk mengusir sunyi. Biarlah dalam sepi aku merindukanmu, untuk menyibak tirai.

Kedua puisi ini seperti sedang sahut-menyahut tentang “Akankah jejakku masih membekas. Dalam lembar kenanganmu?” Sebab “Malam telah datang, Pagi telah datang”. Ada beberapa tanda yang berhasil ditemukan dalam kedua puisi ini, yaitu sunyi, sepi, dan tirai. Sunyi melekat pada mengenangmu, sepi melekat pada merindukanmu, dan tirai melekat pada menyibak (memisahkan). Sedangkan sunyi-sepi bersama-sama melekat pada ruang jiwaku.

Tanda-tanda itu secara bersamaan hadir silih berganti pada sebuah tanya yang diendapkan pada “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi”, yaitu Adakah cinta setelah berhenti mencintai? Ini adalah dialog dengan pertanyaan yang paling sulit dalam sebuah karya puisi.      

Deskripsi Peristiwa pada “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi”

Peristiwa pada kedua puisi ini adalah pergulatan kerumitan batin yang komplet. R. Fahik menggiring pembaca untuk menjadi tokoh “aku” pada “Catatan Malam” dan “Catatan Pagi”. Pembaca seperti dibius tanda, pembaca seperti dikendalikan kerumitan rasa yang lengkap.

Kedua puisi ini memang hanya mengandung satu peristiwa. Namun, pendeskripsian latar waktu malam dan pagi justru mengahadirkan peristiwa lain yang bersifat mutlak, yaitu tekanan psikologis pada tokoh “aku” dalam balutan sepi, sunyi pada tirai. Tokoh “aku” sedang berusaha menyibak atau memisahkan sepi dan sunyi dari merindukanmu dan mengenangmu. Supaya pada ruang rasa tokoh aku, sunyi dan sepi tak lagi membingkai.

“Catatan Malam” dan “Catatan Pagi” adalah dua puisi satu rasa, dua raga satu jiwa. Saya mengenal cerpen bersambung seperti Sepotong Senja untuk Pacarku, Jawaban Alina, dan Tukang Pos dalam Amplop karya Seno G. Ajidharma, saya juga membaca trilogi novel seperti Badut Malaka, Likurai untuk Sang Mempelai, dan Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir untukmu karya R. Fahik. Namun, saya perlu jujur bahwa saya baru membaca dua puisi satu kisah seperti ini. Apakah ini biasa? Tentu saja tidak. Ini berbeda.

Sumber Bacaan

Aminudin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Fahik, Robertus.  2020. Senja Hitam dan Ayahku (sebuah Antologi Puisi). Yogyakarta: Gerbang Media

Pradopo, Rahmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yokyakarta: Gadjah Mada University Press.

Purba, Antilan. 2010. Sastra Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu

Sambodja, Asep. 2007. Cara Mudah Menulis Fiksi. Jakarta: Perpustakan Nasional (KDT)

Selden, Raman. 1993. Panduan Pembaca Teori Sastra. (diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradono), Jogyakarta: Gajamada University Press.

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Zoest, Van Aart dan Panuti Sudjiman. 1992. Serba Semiotika. Jakarta: Gramedia.

Zoest, Van Aart. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang dilakukan dengannya. Jakarta: Sumber Agung. Ass  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here