Di Benenai, Ada Gerak Hidup dan Cinta yang Terus Mengalir (Telaah Filsafat atas Novel “Benenai” Karya R. Fahik)

0
106
Oleh Yohanes Sangario Bataona, S.Fil., Wartawan SekolahTimur.com, Anggota Divisi Kepustakaan Yaspensi.

Seperti Benenai Cintaku Terus Mengalir Untukmu, bagi saya adalah sebuah karya sastra yang bombastis. Mengapa? Tak bermaksud berlebihan, namun di dalamya penulis menghidangkan berbagai macam nutrisi kehidupan, tentang keyakinan diri, mimpi yang harus dikejar, dan pilihan untuk mencintai tanah kelahiran yang terlebur dalam alam, budaya serta masyarakatnya, bahkan tentang kesetiaan menjalani cinta yang serentak bersedia juga untuk kehilangan cinta yang lain. Sungguh, kekaguman inilah yang menjadi alasan bagi saya untuk beberapa kali membaca novel karya R. Fahik ini beserta ide-ide pembangunan yang selalu melekat dalam penokohannya.

Terlepas dari buah tangannya, suatu kebanggaan bagi saya bisa mengenal lebih dekat sosok penulis dan sastrawan ini. Sepengetahuan saya dan pesan yang sering didengar waktu masih duduk di bangku kuliah, bahwa latar belakang pendidikan memengaruhi pola pikir dan cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Kiranya hal tersebut yang saya temukan saat perjumpaan dan pengalaman bersama R. Fahik.

Filsafat dan Sastra

Filsafat dan Sastra dalam beberapa kesempatan menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. Hubungan antara keduanya sering menuai pro dan kontra. Di satu sisi, Filsafat dan Sastra dibedakan ke dalam dua aliran pemikiran yang berdiri masing-masing, namun di bagian yang lain keduanya bagai pedang bermata dua yang sulit dibedakan dan mampu dipakai untuk tujuan yang serupa. Atau sesekali dalam bahasa romansa, saya coba mengandaikannya sebagai pilihan yang sulit dalam mencintai sekaligus bersedia kehilangannya di saat yang sama. Keduanya menjadikan keberadaan manusia sebagai objek kajiannya dan berbeda dalam pandangan serta penyajiannya. Filsafat cenderung memandang sesuatu secara reflektif-kritis sementara Sastra dari sudut pandang reflektif-evaluatif.

Perbedaan tersebut justru menjadikan penulis semakin kaya dalam menuangkan ide-ide kreatifnya. Berbekal pemahaman akan ilmu Filsafat dan kecintannya terhadap karya-karya Sastra, menghasikan suatu karya yang fantastis. Novel ini bisa dikatakan mengandung secara lengkap pemikiran yang reflektif kritis-evaluatif, yang terpampang jelas dari cintanya kepada wanita kebanggaanya dan kepada tanah Malaka. Cinta itu yang didaur menjadi tiga pucuk surat yang diberikan kepada teman-temannya; tentang pilar pembangunan manusia yang utuh, pilar kehidupan masyarakat dan pilar kebersamaan sebagai mimpinya untuk Malaka.

Bagi saya R. Fahik dan karya-karyanya adalah perpaduan luar biasa dari Filsafat dan Sastra. Melihat semangat dan perjuangannya untuk kebangkitan tanah Malaka tercinta mengingatkan saya akan Plato, seorang filsuf besar Yunani Kuno dan konsep Mite Gua-nya. Penulis punya keinginan kuat untuk ke luar dari penjara gua yang memasung ide dan krativitasnya agar melihat terang (dunia sebenarnya) yang bukan hasil manipulasi cahaya api unggun pada diding gua. Terang yang benar dan dunia sesungguhnya ada di luar sana yakni kemajuan Malaka. Seperti Malaka yang berarti “yang terang” (bercahaya, benyala dan bersinar), seperti itulah harapan sang penulis bagi tanah Malaka.

Menelisik dari sudut pandang demikian dan upaya penulis mentranfusi konsep-konsep Filsafat dalam novel ini, saya terarik untuk menelusuri jejak-jejak kisah yang menghidupkan dan cinta kepada Malaka melalui teropong kecil Filsafat.

Benenai: Sebuah Proses Kehidupan

Benenai, bukan hanya sebuah nama sungai yang airnya mengalir tiada henti menuju ke laut selatan pulau Timor-NTT. Bukan juga hanya sebatas sesuatu yang identik dengan tanah Malaka seperti yang sering dibicarakan orang-orang. Keyakinan saya, penulis menyajikan Benenai sebagai sebuah kekuatan besar yang punya andil dalam proses kehidupan, khususnya hidup orang-orang di Malaka. Kekuatan inilah, hemat saya, yang menjadi buah inspirasi, motor penggerak dan sumber referensi dalam menghasilkan novel ini. Hal tersebut tergambar jelas dalam ungkapan penulis:

“Tapi aku tetap mau datang ke sungai ini. Aku sungguh menemukan kekuatan untuk terus  bergerak. Seperti sungai yang terus mengalir, aku ingin terus hidup dan mencintai.”

Benenai adalah hidup dan tempat bermain anak-anak. Benenai itu embrio cinta sekaligus muara bagi duka. Benenai itu lumbung pertanian Malaka. Benenai itu kekuatan Malaka. Namun, Benenai juga bisa menghancurkan Malaka. Benenai punya kuasa atas tanah Malaka.

Konsistensi R. Fahik terhadap daya elan vital Benenai tidak saja tertera pada judul novel ini, tetapi juga menempatkannya sebagai tema besar yang mengawali seluruh rangkaian kisah inspiratif sekaligus menjadi acuan untuk tujuan pembangunan yang menjadi cita-cita penulis. Benenai telah mewarisi penulis ketangguhan untuk bangkit dan kesabaran untuk tetap bertahan dalam melanjutkan hidupnya. Begitulah, Benenai adalah kristal kehidupan yang telah berubah rupa menjadi air hidup yang terus mengalir dalam karyanya, seperti yang tertulis;

“Namun apapun yang terjadi, dengan kepala tegak aku akan selalu berseru: seperti Benenai, cintaku terus mengalir untukmu. Setidaknya, inilah salah satu nilai penting yang aku warisi dari legenda Benenai. Bahwa kehidupan tak boleh berhenti berharap dan mencintai. Dengan begitu, kita akan terus hidup.”

Jika disandingkan dengan pemikiran Filsafat, roh novel ini punya pertalian erat dengan pemikiran Alfred North Whitehead dalam Filsafat Proses-nya. Selanjutnya, pandangan ini juga tidah terlepas dari pengaruh Herakleitos yang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini mengalir dan berubah, termasuk kehidupan itu sendiri. Whitehead mengungkapkan bahwa manusia dan alam adalah kesatuan totalitas yang utuh, yang di dalam gerak, bersama-sama menuju suatu “proses menjadi”. Hal tersebut menunjukkan bahwa hakikat manusia ditentukan juga oleh bagaimana manusia menciptakan diri, dalam proses menjadi dirinya. Artinya, proses menjadi dirinya ini tidak terlepas juga dari alam dunia sekitarnya.

Jadi, bila dilekatkan dalam karya ini, ada sebuah gerak ide yang berusaha diproyeksikan oleh penulis dengan mengambil latar Benenai. Benenai adalah entitas awal yang membentuk kisah-kisah berikutnya. Benenai ada untuk menjelaskan hidup yang terus berlanjut (pertemuan-perpisahan, jatuh-bangkit, bertahan-harapan, cinta) dan berproses seturut keterlibatan alam dalam membentuk jati diri manusia. Di Benenai ini tersimpan sejarah kehidupan berbalut kenangan dan janji setia untuk terus hidup serta mencintai seperti airnya yang terus mengalir.

Benenai: Cinta yang Terus Mengalir

Lagi-lagi, R. Fahik melukiskan Benenai sebagai bingkai kosong yang diarsir oleh warna-warni perasaan yang berkecambuk di dalam hatinya. Perasaan tentang cinta sejati saat kenangan bersama Noy atau cinta Mey kepadanya yang sempat mengobang-ambingkannya dan cintanya kepada Malaka yang dipertahankan sebagai alasan untuk tetap hidup. Perasaan itu tertuang seperti yang ditulis:

“Benenai, ijinkan aku menitip semua pergumulan ini dalam aliranmu. Biarlah semuanya bermuara di laut lepas dan menemukan jalannya sendiri. Bahkan ada saat di mana aku tak bisa berbuat apa-apa selain menatap aliran Benenai yang tak pernah berhenti mengalir. Itulah yang bisa kupilih sebagai sandaran hatiku.”

Arti cinta, kini menjadi hal yang rumit ditafsir apalagi dilakukan. Hakikat cinta yang suci seringkali diselangkangi oleh praktik-praktik menjijikkan yang didominasi oleh kaum remaja. Karena masa remaja adalah masa cinta-cintaan dan masa suburnya cinta. Fakta ini ikut menambah banyaknya pengikut pemikiran ekstrem Sigmund Freud. Bagi Freud, cinta adalah dorong libidinal kepada objek cinta yang memuncak dalam tindakan-tindakan seksual seperti sentuhan dan berhubungan badan.

Berbeda dengan novel ini, meskipun begitu kental dengan nuansa percintaan, namun penulis begitu brilian dalam mencopot konsep-konsep cinta yang disadarinya keliru dan mengambil sesuatu yang penting di dalam pemikiran Freud yakni daya kreasi cinta. Penulis sadar betul bahwa dorongan hasrat adalah sesuatu yang lumrah bagi manusia dan akan selalu hidup di dalam diri manusia.

Insting itulah yang bertanggung jawab atas tersedianya sebuah kreasi. Sehingga, di dalam novel ini penulis dengan cerdik mengalokasikan daya kreasi cintanya kepada Noy, yang disublimasi kepada pembangunan Malaka. Penulis mencoba mendaur ulang daya kreasi tersebut untuk membentuk siklus baru kehidupan yang menghasilkan peradaban yang berusaha mengkombinasikan individu, orang banyak dan alam dalam satu kesatuan atau kesatuan hasrat dari cinta. Hal itu nyata tertulis:

“Di sinilah kami menghabiskan banyak waktu dengan bercerita tentang cinta dan tentang Malaka. Tentang Malaka, barangkali terlalu tinggi untuk ditempatkan dalam jalinan cinta seorang pria dan wanita. Tidak banyak orang yang dilanda asmara berpikir tentang orang-orang lain. Konkretnya tentang masyarakat daerahnya. Namun entah mengapa, kami mengalami itu. Justru dalam diri Noy-lah aku menemukan kecintaan yang begitu besar untuk Malaka.”

Pada akhirnya penulis memosisikan hasrat cinta sebagai hasrat imajiner yang menyangkut perasaan cinta kepada yang lain (Noy) sama seperti perasaan akan “kesamaan” dengan atau bersama yang lain (Malaka). Dengan ini, penulis yakin dan berharap bahwa cinta yang sama juga menjadi milik dari semua orang yang mengaku memiliki cinta. Karena cinta itu, tiada ujungannya, tiada batasnya. Cinta tidak akan berhenti, melainkan akan terus mengalir seperti sungai Benenai yang selalu menyanyikan puisi kehidupan dan tempat belajar tentang kehidupan (sekolah kehidupan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here