Cegah Penularan Rabies, Pemprov NTT Berbagi Cara Mudah dan Efektif

0
144
Jumpa pers pada Jumat (23/06/2023) di Lantai I Kantor Gubernur NTT.

Kota Kupang, SEKOLAHTIMUR.COM – Akibat maraknya penularan virus Rabies di NTT, pemerintah Provinsi NTT berbagi cara mudah sebagai langkah antisipatif terhadap peningkatan penularan virus tersebut. Selain memberikan vaksin, Virus Rabies dapat dicegah dengan mengamankan, mengikat dan menjauhi Hewan Penular Rabies (HPR).

Kadis Peternakan NTT, Johanna E. Lisapaly, SH., M.Si., menjelaskan, Virus Rabies tersebut ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi. Rabies memang merupakan penyakit yang mematikan, namun dapat dicegah penyebarannya dengan cara-cara yang sederhana.

“Rabies adalah virus yang mematikan, yang menyebar ke tubuh manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi. Biasanya, penyebaran itu melalui gigitan atau melalui luka dan mata. Hewan Penular Rabies (HPR) itu seperti anjing, kucing, kelelawar dan kera. Biasanya itu melalui anjing, karena anjing yang dekat dengan manusia,” ungkap Johanna Lisapaly saat jumpa pers pada Jumat (23/06/2023) di Lantai I Kantor Gubernur NTT.

“Rabies itu virus yang mematikan, namun seyogyanya dapat dicegah. Oleh karena itu, pencegahan ini menjadi hal yang penting. Pencegahannya melalui vaksinasi kepada HPR minimal 70% terhadap populasi sehingga bisa memutus mata rantainya. Vaksinasi memang cara pencegahan yang baik, namun ada keterbatasan vaksin. Ada cara lain yang paling murah dan tidak butuh biaya yaitu HPR diikat atau dikandangkan. Ini cara yang paling mudah dan efektif,” lanjutnya.

Johanna Lisapaly melanjutkan, untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, secara khusus untuk wilayah TTS, maka Pemprov NTT mengeluarkan instruksi agar setiap daerah memperketat proteksi terhadap segala kemungkinan dan meminta kerja sama semua pihak.

“Untuk saat ini, TTS menjadi wilayah yang paling banyak terjadi penyebaran Virus Rabes, sementara daerah-daerah lain termasuk dalam status terancam dan terduga. Oleh sebab itu, Pemprov NTT mengeluarkan instruksi agar setiap memproteksi wilayahnya, secara khusus Kabupaten TTS,” ujarnya.

“Gerak cepat harus dilakukan masing-masing daerah, secara khusus untuk pergerakan lalulintas masuk-keluarnya. Kami juga menyediakan posko-posko dan Satgas. Hal ini akan berjalan dengan baik, apabila didukung oleh kerja sama seluruh masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa vaksin yang dianggarkan untuk Flores dan Lembata, harus dialihkan ke TTS. “Vaksin yang dianggarkan APBDN untuk Flores dan Lembata sebagai wilayah yang sering terdampak Rabies, sekarang dialihkan ke TTS. Ada juga penambahan vaksin dari Pemerintah pusat dan para pemerhati,” ungkapnya.

Sementara itu, Kadis Kesehatan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil NTT, Ruth Laiskodat, S.Si., APT., M.M., mengungkapkan, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mencegah Virus Rabies adalah mencuci dengan deterjen bagian yang terluka atau bersentuhan dengan HPR, sebelum dibawa ke sarana pelayanan kesehatan.

“Langkah pertama untuk mencegah Virus Rabies, dengan tahu ataupun tidak tahu apakah anjing yang menggigit itu sudah terpapar atau tidak adalah mencucinya dengan air mengalir dan 15 menit dengan deterjen. Dengan deterjen apa saja. Karena virus itu mudah larut dengan deterjen. Kalau itu sudah dilakukan, maka 70% virus itu akan keluar dari tubuh manusia, virus akan tereliminasi,” ungkapnya.

“Kami akan melaksanakan tata laksana penanganan gigitan HPR melalui sarana pelayanan kesehatan dengan memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR). VAR akan diberikan untuk gigitan di bagian tubuh yang memiliki banyak saraf. Sementara serum diberikan untuk bagian yang tidak memiliki saraf. Yang sudah kami data hingga 22 Juni 2023 sebanyak 515 orang. Yang belum ada gejala 448 orang. Gejala yang tidak khas Rabies 63 orang, lalu yang khas Rabies ada 4 orang,” urai Ruth Laiskodat. (Yosi Bataona/rf-red-st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here