Kantin Sekolah Sehat

0
71
Ilustrasi. (Pngtree)

Ada suara aneh terdengar di telinga Windi. Ternyata suara berasal dari perutnya Inggid, teman kelas Windi yang nampaknya sudah menahan lapar sejak tadi.

Setelah menunggu akhirnya jam istirahat pun tiba. Windi mengajaknya pergi ke kantin namun Inggid berusaha menolak ajakan itu dengan alasan karena tak punya uang.

“Ing, kenapa kamu menolak ajakanku ke kantin?”.

“Maaf Win, aku tak biasa makan di kantin”.

“Lho kok, gitu? Biasanya kamu makan di kantin tapi sekarang tak mau. Tumben?”.

“Aku menonton di TV bahwa jajan di luar tidak sehat untuk tubuh. Aku takut jangan-jangan kantin di sekolah kita tidak sehat nanti akan merugikan kita”.

“Kamu jangan berprasangka buruk begitu. Kantin sekolah kita sehat”.

“Dari mana kamu tahu kalo kantin sekolah sehat? Atau ini cuma akal-akalan kamu saja supaya aku ikut ajakanmu”.

“Aduh, Ing. Kamu saja yang telat informasi. Kantin sekolah kita sudah dicek kelayakannya menjual makanan yang sehat, higienis tentu aman untuk kesehatan tubuh kita. Maka tak perlu ragu lagi tuk berbelanja di kantin sekolah”.

“Maaf ya, aku tak percaya begitu saja jika aku belum lihat buktinya”.

Perkataan Windi tak mampu mengubah pandangan Inggid. Dia tetap tak percaya akan kantin sekolah sehat.

Tak mampu menahan lapar, seketika itu Inggid tergeletak di lantai. Windi tahu bahwa Inggid pingsan karena lapar, lalu ia pergi ke kantin untuk memesan makanan.

Tak lama kemudian, ibu kantin datang ke ruang UKS mengantarkan makanan. Ibu kantin melihat wajah Inggid lemas. Dengan ramah, ibu kantin menyerahkan makanan itu kepada Windi.

“Ing, makanlah makanan ini supaya kau tak lemas lagi,” Windi sambil menyuap makanan ke mulut Inggid tanpa bertanya.

Windi memperhatikan Inggid yang begitu melahap makanan itu sampai habis. Sontak, air mata Inggid tumpah mengetahui begitu pedulinya Windi kepadanya sementara Windi pun memakluminya bahwa dia malu kepada dirinya.

Sehabis makan, Inggid tiba-tiba menanyakan pada Windi dari mana dia membeli makanan itu. Dengan berterus-terang Windi menjawab kalo makanan itu dibeli dari kantin sekolah.

“Win, sebelumnya terima kasih tuk kebaikanmu. Maaf, aku ingin bertanya padamu soal makanan yang aku makan tadi belinya di mana?”.

“Di kantin sekolah. Memangnya ada apa, Ing?”.

“Wah, Makanan tadi rasanya enak sekali, terus bersih lagi”.

“Itu kan, aku bilang apa, kalau makanan di kantin sekolah sehat. Sekarang kamu sudah percaya kan, dengan makanan yang di kantin sekolah kita”.

“Ya, aku percaya. Sejujurnya, aku juga sudah tahu kalau kantin sekolah sehat. Tadi itu, bukannya aku menolak ajakanmu tapi aku malu sama kamu karena aku tak punya uang, bagaimana nanti aku membayarnya,” Inggid jujur pada Windi.

Windi tersenyum kagum dengan sikap Inggid yang jujur padanya. Windi mengatakan kepada Inggid bahwa sesama sahabat harus saling memperhatikan satu sama lainnya jadi jangan pernah merasa sungkan apalagi malu.

Keesokan harinya saat jam istirahat, tanpa bertanya Inggid menarik tangan Windi pergi ke kantin. Keduanya berjalan sambil kegirangan menuju kantin. (Penulis: Erliana Magthelda Nofince Tjiputra, S.Pd., Guru SMK Negeri 7 Kupang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini